ceritanet              situs karya tulis - edisi 217, senin 6 februari 2012

 

Tulisan lain

Aku Berkisar Antara Mereka - Chairil Anwar

Ibukota Senja - Toto S. Bachtiar

Kotaku, Kotamu, Kota Kita - Aminatul Faizah

Ciliwung - W.S. Rendra

Sungai Ciliwung Yang Miskin - Slamet Kirnanto

 

salju

 sampul
 sajak

 laporan
 cerpen

 novel
 memoar

 catatan
 foto

 edisi lalu
 kirim tulisan

 tentang ceritanet
 ikut mailing list

cerpen Penghujung Senja
Suhendri Cahya Purnama

Kau pernah meminta, “Buatkan aku sebuah cerita. Tentangku. Hidupku. Atau kisahku.”

Sebentuk pinta yang tak kuacuhkan. Kuanggap itu hanyalah ocehan dari seorang bocah. Tak perlu dipikirkan.

Pikiranku saat itu terlalu dipenuhi oleh ide-ide besar. Menorehkan tulisan menapaki jalan para peraih Nobel. Lihat! Ada berderet nama besar yang harus kusapa. Rabindranath Tagore di anak benua India sedang bercakap-cakap dengan orang Prancis, Jean Paul Sarte. Percakapan beda generasi yang membuat mereka melahirkan goresan menghentak akal. Dan aku ingin terlibat di dalamnya. Membaurkan agama, filsafat, dan seni budaya yang dikabarkan oleh Muhammad Iqbal untuk dapat membuka pintu rahasia kehidupan.

Luar biasa bukan?

Aku pun ingin berkenalan dengan Ernest Hemingway. Walaupun hidupnya berakhir tragis, tapi untuk tulisannya, luar biasa. Selalu menghanyutkan ketika menekurinya.

Tak hanya dia, masih ada George Bernard Shaw, Bertrand Russel, Albert Camus, Samuel Becket, Patrick White, dan masih banyak lagi, menunggu setia untuk berdiskusi denganku. Nama-nama yang telah menitipkan warisan tak lekang oleh zaman. Warisan dunia idea. Abadi. Aku ingin seperti mereka. Dengan tulisan, mengubah dunia!

Atau, mengembangkan sayap ini pergi ke negeri yang ada padang saljunya, Aussie. Menjelajah dan menyapa siapa pun yang kutemui. Hinggap dan berharap ada cinta sejati merengkuh di sana. Menemani detik-detik kelengangan yang selalu kupuja. Menabur keindahan hingga maut pun terpesona olehnya. Melupakan tugas yang ia emban untuk menyudahi keabadian.

Hei!

Aku sudah bosan dengan kehijauan tempat sekarang aku berada. Sudah jenuh dengan kehangatan tropis yang menghitamkan kulitku. Sudah terlalu lama dan terlalu nyaman aku di sini. Hingga pintamu pun, tenggelam dalam riuh dua ambisi akbarku.

Tapi, aku keliru.
***

Kau pernah meminta, “Jangan ajari aku dengan kebengisan! Jangan perlakukan aku sekehendak hatimu! Atau perintah yang tak punya empati!” Sebentuk harap yang tak pernah kuanggap. Karena menurutku, itu hanyalah ucapan anak manja. Tak pantas buatmu.

Inginku saat itu, kau menjadi sosok perkasa. Tegar untuk setiap mara yang datang mendekat. Sigap melibas remeh temeh debu kehidupan. Tak harus sekuat Gatotkaca. Atau sekukuh Bima. Cukuplah sealot Srikandi.

Karena bias-bias dari penyakit perfeksionisku yang kronis, ingin kubentuk kau sesuai kehendakku. Apalagi jika menyaksikan gaya serampangan yang acap kali kau pertontonkan. Semakin kuat hasratku untuk membentukmu seidealku. Aku kuat. Aku perkasa. Aku dominan. Dan kau lemah. Tak punya daya. Makanya kau harus berkiblat padaku.

Aku tak ingin mengingat kau adalah sesosok persona. Bagiku, kau harus menafikan kecenderungan dan inginmu sendiri. Hanya turut apa mauku. Kau adalah kloningku. Atau setidaknya menjadi seperti bayanganku.

Dan, aku jelas keliru.
***

Hanya saja, kau tak pernah meminta agar langit berhenti menyiksamu. Ketika di suatu sore, ia menghujanimu dengan rinai hujan. Kala itu aku telah bersemayam di peraduan yang nyaman dan hangat.

Kusaksikan, tubuhmu dibanjiri air langit yang deras menghujam. Menyelimutimu dengan dingin yang menusuk. Hingga dibalik busana yang kau kenakan, kudengar gemeletuk tulangmu bertalu. Kutunggu sepotong kata menyerah darimu, tapi tak pernah terucap.

Hei, dimana sosok lemah yang selama ini tersemat padamu?

Tak kutemukan itu di dirimu. Saat itu. Malah di bawah tatapan mataku, ditemani dawai yang berdenting, kau bersenandung. Menciptakan nada-nada syahdu, mengalun damai. Menciptakan harmoni keindahan di antara riuh rintik hujan. Aku terpasung menyaksikannya.

Salahkan aku menilaimu selama ini?

Kau juga tak pernah meminta, apalagi mendakwa, ketika langit lagi-lagi berkhianat padamu. Agar ia memberimu keindahan senja setelah terik matahari memanggang kulitmu. Di sisi rel yang tiap hari kau lalui, kau hanya berhenti sesaat untuk menghela nafas ketika mega kelam, lagi-lagi menabiri keindahan senja.

Ketika itu, aku yang ada di sampingmu, terpekur. Menatapmu yang mengukir senyum walau mega dan langit bersekutu berlaku jahat padamu. Sedangkan aku, telah melontarkan sumpah serapah kepada langit. Hingga kini pun, aku masih membenci langit. Tak pernah bisa berdamai dengannya. Tapi kau, berkali-kali dikhianati, tetap dan masih mau mendamba langit agar menuangkan simpati padamu.

Ikhlas, bisikmu ketika itu. Beriring dengan senyummu yang tersemat rapi. Tersusun dari enam huruf, kata itu terlalu berat untuk kupahami. Tapi, ia begitu menyatu pada dirimu. Mengkristal dalam balutan ragamu yang rapuh. Aku pun terpasung iri bercampur kagum, untuk kedua kalinya.
***

Pabila kini, di hari ini, kuhadirkan sebentuk senja di hadapanmu. Memang tak indah, tapi pasti akan sigap mengantarmu menjemput malam yang damai. Jauh dari keakuanku. Jauh dari bayang-bayangku.

Aku yakin, senja itu akan mampu merajut dua pintamu yang tak pernah bisa kuberikan. Dua asamu yang terlanjur kucampakkan. Tak kuhiraukan. Karena aku tak pernah mampu memahamimu.

Biar senja itu yang akan memberi semua pintamu. Senja yang akan menjadi sahabat setia tuk merengkuhmu menuju pantai bertabur cahaya yang selama ini kau impikan. Dan aku, di sini, mengokohkan diri sebagai altar yang akan selalu menyemburatkan beribu doa. Kau akan setegar dan sekuat karang di laut. Bergeming walau ombak ganas tak pernah jera menghantam.

Semoga, kali ini aku tak lagi keliru. Untuk kesekian kalinya.
***

ceritanet©listonpsiregar2000