sajak Sungai Ciliwung Yang Miskin
Slamet Kirnanto (1967) Djakarta Dalam Puisi Indonesia
Sungai Ciliwung yang miskin, tak kutahu dukamu
Dukamu yang coklat, merambati kota Jakarta yang padat
Apakah itu tangisan membasahi bumi resah?
tumpukan nasib menjelujuri kota gelisah
Sungai Ciliwung yang miskin, tak kutahu dukamu
Duka kekal tak sampai jangkauanku : tangismu o tangismu
Lahir di sini kehidupan dewasa dan kersuburan bumi
tonggak kesabaran merambati alur kali
Adakah sampai di sini kita bertemu dan berpisah?
Dan kita hitung pipa belutan yang meneliti kota berdebu
Pijar lampu mulai suram, sepi tiang tongggak membayang
Pelan melangkah meninggalkan arus zaman
Sungai Ciliwung yang miskin, tak kutahu dukamu
Duka yang coklat, merambati hidup damai dan kini
Aank-anak zaman telah menyibak keruh dan ombak
Untuk kehidupan kota yang cerlang, kota yang diidamkan
***