ceritanet   situs karya tulis - edisi 216 rabu 11 januari 2012  sampul
sajak
laporan
cerpen

novel
memoar
catatan

foto

edisi lalu
kirim tulisan
tentang ceritanet
ikut mailing list

Dua generasi yang berbeda masa dan tempat bertemu pada suatu kota. Mereka, Upik dan orang yang tidak seberapa ia kenal, tengah duduk manis di tengah awan mimpi. Orang itu bernama Sigar, mungkin hanya julukan karena badannya yang tak utuh lagi. Dia tinggal setengah nyawa, setengah badan, dan setengah dari rasa ketidak puasannya akan apa yang tidak ia inginkan, tidak ia harapkan dan juga tidak ia impikan. Kotaku, Kotamu, Kota Kita Aminatul Faizah

Ciliwung kurengkuh dalam nyanyi
karena punya coklat kali Solo
Mamma yang bermukim dalam cinta

dan berulang kusebut dalam sajak
wajahnya tipis terapung
daun jati yang tembaga
Hanyutlah mantra-mantra dari dukun
hati menemu segala yang hilang

Ciliwung W.S. Rendra (1955) Djakarta Dalam Puisi Indonesia

Sungai Ciliwung yang miskin, tak kutahu dukamu
Dukamu yang coklat, merambati kota Jakarta yang padat
Apakah itu tangisan membasahi bumi resah?
tumpukan nasib menjelujuri kota gelisah

Sungai Ciliwung Yang Miskin Slamet Kirnanto (1967) Djakarta Dalam Puisi Indonesia

BACA JUGA

Merindu Purnama - Suhendri Cahya Purnama

Sepanjang Gunung Sahari - Ajip Rosid

Ciliwung Yang Manis - W.S. Rendra

Seribu Ayam untuk Tuhan - Imron Supriyadi

Sindang Laut - Ajip Rosidi

Sampur - Sugiarta Sriwibawa

Tean
ceritanet©listonpsiregar2000