ceritanet   situs karya tulis - edisi 216 rabu 11 januari 2012  sampul
sajak
laporan
cerpen

novel
memoar
catatan

foto

edisi lalu
kirim tulisan
tentang ceritanet
ikut mailing list

cerpen Kotaku, Kotamu, Kota Kita
Aminatul Faizah

Dua generasi yang berbeda masa dan tempat bertemu pada suatu kota.

Mereka, Upik dan orang yang tidak seberapa ia kenal, tengah duduk manis di tengah awan mimpi. Orang itu bernama Sigar, mungkin hanya julukan karena badannya yang tak utuh lagi. Dia tinggal setengah nyawa, setengah badan, dan setengah dari rasa ketidak puasannya akan apa yang tidak ia inginkan, tidak ia harapkan dan juga tidak ia impikan.

Mungkin akan tampak aneh, ketika ia harus bertatap muka dengan dunia yang indah hanya bagi beberapa orang.

Kemudian Sigar menanatap Upik yang tengah tersenyum manja, ingin menapaki dunia yang indah. Upik tersipu hingga mukanya merah. Ah… alangkah manisnya.

Mungkin berjuta anak negeri juga seperti itu: polos, lugu dan akan segera tertipu ketika beranjak dewasa dan merajut mimpi bersama masa depan. Ah… alangkah malangnya.

Aku ingin bercerita tentang sebuah kota, kata Sigar kepada Upik.

Kota di tengah kota yang hilang dan juga menjadi kota yang sungguh aku rindukan. Sebuah kota yang mungkin akan menjadi angan bagi seorang seperti aku.

Kotaku mungkin adalah kota yang sempat aku lupakan. Aku tak sempat berkenalan dengannya. Sebuah kota yang mungkin telah secara tak sengaja aku lupakan. Sebuah kota yang dulunya dengan mudah bisa engkau temukan arti hidup dan juga kasih. Kota yang ketika engkau berlayar menuju laut, kau bisa temukan protein ikan. Kota yang ketika kau lari ke atas bukit, akan kau semai ladang milik mamak dan juga kota yang dimana kamu bisa memikul garam dari ladangnya dengan mudah.

Di kota ku juga di temukan bukit-bukit kapur yang tinggi, sungai yang jernih, dan orang-orang yang perduli sesama dan perduli alam, tambah Sigar.

Oh…Gresik. Alangkah berubah kau kini, keluhnya dalam hati. Hanya Tuhan, mahluk tak berwujud, yang tahu apa yang ia katakan.

"Indah sekali kotamu."

Sigar mengangguk pelan dengan sedikit menitikan air mata.

Ah…malangnya nasib kotaku, yang diperkosa oleh para ketua yang dulunya merupakan tangan panjang rakyat dan agama.

Para mahluk itu…apa kabarmu??? Mahluk yang berseru antara dosa dan juga pahala, yang selalu bertandang ke masjid pertama kali dan mungkin juga mahluk yang menikahkan anaknya yang baru berusia 16 tahun dengan pria berusia 31 tahun.

Atau mahluk yang berjubah dan bermandi kekuasaan politik.

Ah… dunia, kemana kah orang yang benar-benar arif dan bijaksana.

Di sana banyak sekali surau yang mengumandangkan panggilan adzan. Tak peduli seberapapun kerasnya, lebih banyak mereka berjejar di antara barisan café atau warung kopi yang tidak membungkus hati dengan cinta dan juga kasih.

Ah...Gresikku, malangnya kamu. Tertinggal dan ditinggalkan mereka yang menghidupimu.
Berapa banyak tanah yang akan kau makan wahai pabrik. Cukupkanlah jengkal tanah milik mamak yang masih menghijau, sedikit sisakan tanah untuk bapak menebar benih udang bandeng.

Cukuplah cukup wahai cukong pabrik, kau isap Gresik dan kau keluarkan kabut hingga menceraikan kami dari indahnya mentari yang menyapa di pagi hari.

"Kotaku, ke mana yang dulu... Bagaimana dengan kotamu?” tanya Sigar kepada Upik.

“Aku ini wong ndeso, mana aku tahu kota yang indah, sekalipun aku melihatnya. Aku hanya tahu kota yang membuatku kenyang,” katanya sambil memamerkan perutnya yang buncit.

Lalu Upik menatap Sigar.

Kau tahu tidak, lanjutnya, kota yang aku miliki adalah sebuah yang memiliki berjuta usaha. Kota yang banyak uang yang mungkin akan memberimu berpuluh-puluh lembaran uang ratusan. Dalam dua minggu tanganmu akan mengenggam sejuta. Tak akan kau dapat dengan membajak sawah atau menunggu panen.

Dengan hanya berdiri dan mematung untuk hal yang sama, kelak di akhir bulan, pekan, atau, kau dan aku dan kita bisa menikmati rupiahnya. Kotaku yang banyak pabriknya dan mendesis rupiah...rupiah...rupiah. Kotaku memberi rupiah untuk membangun rumah, menikah, dan juga minum tuak.

Upik tersentak dan memajukan tubuhnya, memamerkan baju, arloji dan cincin emas yang bertahtakan batu akik. Dia bekerja di pabrik.

Sigar tersenyum.

Ah…orang kaya baru, gumamnya pelan.

Upik memegang arlojinya sambil menatapnya, tersenyum.

"Kau tahu, kata orang ini import."

"Ya… Apakah di kotamu ada ruang taman untuk singgah?"

Upik mengangkat pandangan dari arlojinya, tersenyum bangga.

Di desaku banyak tapi di kotaku sangat jarang. Kotaku membuat kenyang makanan dan minuman. Ada café, tempat kau bisa menikmati secangkir kopi. Juga ada badan molek yang siap menggoyang, yang menjadi taman surga bagi yang menatapnya. Tak ada taman hijau tapi banyak taman surga untuk dahaga.

"Tapi apakah bersih, jika ya mungkin aku akan pindah?" tanya Sigar, menatap jauh ke cakrawala di balik tabir asap.

"Tidak…Tapi ada banyak uang untuk beli rumah, mobil, dan arloji import."

Upik tersenyum lagi, menerawang ke langit abu-abu, bermimpi uang sambil mendengar sayup sayup desis rupiah...rupiah...rupiah.

Ada uang untuk beli masker atau tabung oksigen. Segar dan gampang, sambil nonton TV atau main mahyong.

Sigar menggeliat gelisah.

"Tak semua orang punya uang, di kotamu dan kotaku. Tak semua berdiri mematung setiap hari."

Ada anak yang tak kita tahu masa depannya, ada kakek yang perlu butuh obat, ada mamak yang mencari sayur. Tapi kabut abu-abu membungkus semuanya, sesak dan pengap.

Upik meluruskan bajunya dengan lembut.

"Kau tau, hanya ada sepuluh baju seperti ini?" tanyanya tanpa memandang Sigar.

"Dimana kotamu?"

"Gresik" kata Upik tak mengangkat mata.

Sigar memaksa senyumnya: "Kotaku, kotamu, kota kita."

Upik tersentak, mendongakkan wajahnya, tapi Sigar tampak jauh, tak terjangkau.

Ia amat ingin memintal kisah Sigar tentang kota itu agar menjadi nyata.

Tapi Sigar jauh, tak terjangkau lagi. Kabut abu-abu membuat Sigar dan kisahnya menjadi bayang-bayang pudar. ***

Gresik, 04 Januari 2012 : selamatkan kota kita dari polusi.

BACA JUGA

Ciliwung - W.S. Rendra

Sungai Ciliwung Yang Miskin - Slamet Kirnanto

Merindu Purnama - Suhendri Cahya Purnama

Sepanjang Gunung Sahari - Ajip Rosidi

Ciliwung Yang Manis - W.S. Rendra

Seribu Ayam untuk Tuhan - Imron Supriyadi

Tean
ceritanet©listonpsiregar2000