ceritanet   situs karya tulis - edisi 214 senin 21 november 2011  sampul
sajak
laporan
cerpen

novel
memoar
catatan

foto

edisi lalu
kirim tulisan
tentang ceritanet
ikut mailing list

cerpen Seribu Ayam untuk Tuhan
Imron Supriyadi

Fajar baru menyingsing. Matahari belum menyembul dari persembunyian, seakan tak kuasa melawan mendung yang redup pagi itu, beda dengan embun tipis yang menyelinap di antara lapisan ozon yang turun ke bumi. Dengan lembut, titik embun merasuk ke setiap pori-pori mahluk Tuhan. Memasuki lobang hidung langsung ke paru-paru. Sesaat berada dalam denyut nadi sebelum menyebar ke seluruh tubuh. Dalam hitungan detik kemudian ke luar menjadi CO2. Kesegaran seketika terasa menyebar ke seluruh tubuh, menggerakkan kaki, tangan dan bibir untuk kemudian mengucapkan: alhamdulillahirobbil ’alamiin.

Di atas mega-mega, mendung kian menggumpal. Tapi di seribu wajah warga Kampung Bukit Asam tetap menyemburat keceriaan.

Di antara mereka telah berbanjar panjang di dalam masjid. Suara takbir, tahmid dan tahlil terdengar bersahutan dari para jamaah. Seperti suara lebah madu yang pulang dari petualangan. Dari arah lain, suara senada dari corong pengeras suara masjid dan musholla -yang terletak tak jauh dari kampung Bukit Asam- turut meningkahi.

Di halaman masjid hanya ada tiga ekor kambing yang siap menjadi hewan kurban, tak sebanding dengan jumlah jamaah yang membludak sampai di halaman masjid. Bukan hanya jamaah, puluhan mobil mewah juga terparkir. Sepeda motor tak lagi terhitung jumlahnya. Tapi hanya tiga ekor kambing yang tertambat di pasak kayu. Rona wajah pasrah dalam ketaatan tergambar jelas di setiap detak jantung ketiganya. Sesekali berupaya lepas dari tali ikatan. Tapi juga ada suara kerinduan untuk segera mempersembahkan diri demi ketaatan pada sang pencipta.

Tak ada tangisan. Tak ada penyesalan. Yang ada kesungguhan kebaktian pada setiap kambing, untuk kemudian pasrah demi sebuah penghambaan mahluk terhadap sang kholiq.

Tiga ekor kambing, bagi sebuah kampung miskin bisa saja menjadi permakluman, bahkan sebuah kelebihan. Tapi di kampung Bukit Asam itu menjadi totontonan lucu, di tengah perlombaan materi, yang hanya akan selesai setelah masuk pintu kubur.

Rumah mewah berbanjar panjang, menunjukkan kampung Bukit Asam bukan permukiman kumuh apalagi rumah liar. Setiap rumah berpagar besi, yang satu meternya seharga Rp1 juta. Belum lagi lantai rumah, atau deretan keramik dari depan sampai belakang, yang setara dengan harga lima ekor sapi.

Di setiap rumah sedikitnya ada satu mobil dan sepeda motor. Beberapa malah punya dua atau tiga mobil dan empat atau lima sepeda motor, untuk supir, ajudan, satpam, pembantu, dan tukang kebun. Tak ada yang kurang secara materi, tapi di halaman masjid hanya ada tiga ekor kambing, yang jelas jauh dari cukup untuk dibagikan kepada ratusan kaum fakir miskin dan anak yatim.

Kiai Mansur, sebagai sesepuh kampung Asdas turut prihatin. Kampung yang bertetangga dengan Bukit Asam itu menjadi contoh nyata dari eksplorasi pertambangan di Indonesia: ada kawasan pertambangan dengan perkantoran dan pemukiman sekelas hotel bintang lima yang dikelilingi kampung-kampung kecil yang belum terjangkau aliran listrik atau jalan aspal. Sebuah kontras ekonomi, sosial, dan budaya.

Asdas adalah kampung kecil itu dan Bukit Asam adalah kawasan bintang lima.

Kiai Mansur hanya prihatin. Dia bukan Superman atau Robinhood yang menghalalkan hasil rampokan dari orang-orang kaya untuk dibagikan kepada kaum fakir miskin.

”Tidak mungkin kita melakukan shalat dengan sarung hasil curian,” Kiai Mansur berkata suatu ketika, seperti menepis tekanan dari warga kampung yang dirasakannya mendesak dia untuk memimpin perampokan ke Bukit Asam.

***
Gema takbir seketika berubah gemuruh suara ’amin’ ratusan makmum di dalam dan di luar masjid. Tak lama kemudian suara Ustad Zam -yang datang dari Palembang dengan honor standar Jakarta- berapi-api mengumandangkan kotbah.

”Sebagai orang yang beriman, kita mendapat panggilan suci melalui Idul Adha. Ini adalah momen penting untuk menumbuhkembangkan semangat kurban, sebagaimana Nabi Ibrahim yang merelakan Nabi Ismail untuk disembelih, demi persembahan kepada Tuhan!...”

Ratusan jemaah terkesima dengan ulasan sang ustad. Suasana tampak hikmat.Hanya Kiai Mansur yang berada di barisan belakang yang tampak biasa-biasa saja. Dia sedang pusing menghitung-hitung pembagian daging kurban: cuma ada tiga ekor kambing di masjid Bukit Asam. Matanya menyapu seluruh masjid, yang dipenuh warga Kampung Asdas yang mengharapkan daging kurban.

Tak sempat permisi, Kiai Mansur beranjak dari barisan jamaah, sebagian memandang heran. Di samping masjid, ia berdiri memandangi tiga ekor kambing yang sebentar lagi akan menghadap Tuhan. Satu persatu dielusnya kepala dan punggung kambing. Seperti ada kebanggaan tiga ekor kambing itu, yang siap mengurbankan nyawanya demi ketaatan dan kebaktian sempurna. Sementara Kiai Mansur hanya menjadi sosok lemah yang tak mampu berbuat banyak: tak mampu membagi daging kurban dari tiga ekor kambing untuk ratusan jemaah.

Ditinggalkannya trio kambing itu, dan mendekati para remaja masjid yang menunggu parkir. Dia berbisik dan beberapa remaja masuk masjid, sebagian lagi menyebar meninggalkan pos parkirnya ke arah yang berbeda.

Tak lama kemudian jamaah sudah berhambur keluar, tapi masih ada waktu dua jam bagi Kiai Mansur untuk berpikir: daging tiga ekor kambing untuk ratusan jemaah.

Melihat Kiai Mansur berdiri bengong -padahal bingung- beberapa jemaah menyalaminya yang malah diikuti jemaah lainnya. Kiai Mansur menyalami mereka sambil mengangguk-angguk sementara otaknya menghitung lagi: tiga dibagi 100.

"Bukan," ralatnya di dalam hati. "Semuanya ada 200 kupon," ingatnya. Jika satu ekor kambing beratnya hidup-hidup 30 kg setelah dipotong, mungkin tinggal 20kg. "Dikali tiga, 60 kg dibagi 200. Wah, gawat," Kiau Mansur merincikan hitungannya dan jadi makin gusar sendiri.

Beberapa remaja masjid yang tadi menyebar kemudian mendekat dan berbisik kepadanya, dan Kiai Mansur jadi punya alasan menghentikan antrian salaman para jemaah. Ketika bisik-bisik, seorang remaja masjid tiba dengan mobil barang sewaan dan Kiai Mansur mengeluarkan beberapa lembar uang kertas. Tujuh remaja masjid naik ke bagian belakang mobil barang dan menghilang.

***
“Saudara-sudara, penyembelihan hewan kurban akan dilakukan pukul sembilan. Diharapkan,
kepada panitia kurban dan petugas penyembelihan hadir tepat pada waktunya,” suara dari pengeras suara masjid.

Kiai Mansur berjalan cepat menjauhi sekitar lokasi tiga ekor kambing, yang mulai menjadi tontotan para jemaah. Belum sampai dia ke WC untuk menghilang sebentar, tiga mobil barang masuk ke halaman masjid dan disaksikan ratusan jemaah, tujuh remaja masjid tadi dibantu kawan-kawannya yang lain membongkar barang bawaan mereka: ratusan ayam.

Kiai Mansur langsung berbalik dan tersenyum menyaksikan ayam-ayam yang terikat kakinya.

Suara kotek ayam dan kehebohan di halaman masjid sampai ke telinga Ustad Zam yang sedang ngobrol di dalam masjid. Keluar tergesa, dia terkejut melihat ayam-ayam di halaman masjid. Dicarinya Kiai Mansur, yang bertanggung jawab untuk urusan kurban.

“Kiai, apa-apaan ini!?” Ustad Zam sedikit marah.

“Ini bukan apa-apa, tapi ayam, ustad,” Kiai Mansur menjawab riang.

“Untuk apa?” suara Ustad Zam tinggi. Agak malu juga dia tidak tahu-menahu soal ayam-ayam di halaman masjid.

Beberapa jemaah ikut-ikutan mengerumuni Kiai Mansur, termasuk yang tadi menyalaminya dengan penuh semangat. Tapi sebagian tersenyum kecil melihat ayam-ayam yang cuma berkotek tapi tak berkutik karena kakinya diikat. Mengharapkan kambing, yang muncul malah ayam, dan trio kambing yang tadi ditontoni sudah ditinggal.

"Kiai mau mengganti kurban kambing dengan kurban ayam? Ini secara fiqhiyah melanggar aturan!” kata seorang jemaah, yang baru belajar agama sepekan menjelang Idul Adha: sehari sejam selepas pulang kantor di rumah Ustad Zam.

"Ilmu fiqih tidak mengakui kedudukan ayam untuk kurban," pikirnya mantab.

Kiai Mansur mengangguk-angguk serius supaya tak menyinggung para penanya.

“Semuanya diturunkan. Atur yang rapi!” Kiai Mansur memberi arahan pada para remaja sukarelawan pendukungnya.

"Kiai, saya mau jawaban, untuk apa ayam sebanyak ini?" tanya Ustad Zam, pelan, keras, dan tegas.

"Untuk dipotong, bukan diadu" jawab Kiai pura-pura sibuk memberi perintah dengan telunjuknya ke sana ke mari, tak melirik ke Ustad Zam.

"Untuk hewan kurban..." seorang jemaah di barisan belakang terdengar kaget. Dia sebenarnya tak keberatan dengan atraksi di luar tradisi Idul Adha. "Masak tiap tahun gitu-gitu terus," tambahnya pelan ke temannya yang berdiri di sebelah.

"Wah, ini sudah melanggar hukum agama. Kiai kan tahu kalau yang boleh untuk kurban hanya kambing, sapi atau unta. Hewan lain tidak boleh!" tegas karyawan yang berpegang pada ilmu fiqih tadi sambil mendekat ke arah Kiai Mansur

"Tapi memotong dan membagikan daging ayam pada hari raya Idul Adha tidak dilarang agama," balas Kiai Mansur sambil melototkan matanya ke jemaah yang mendekat itu.

"Iya, tapi ini akan menimbulkan salah penafsiran bagi sebagian warga, kiai. Nanti warga menganggap ayam bisa menjadi pengganti kambing atau sapi," jelas Ustad Zam lebih tenang, menyadari Kiai Mansur tak bisa dicegah lagi.

"Kurban bukan dilihat dari jenis binatangnya, tapi kesungguhan seorang hamba untuk mengurbankan harta yang dimiliki!"

”Berarti kiai ingin mengganti kambing dengan ayam-ayam jadi hewan kurban," tanya seorang jemaah lain, yang tidak yakin apakah ayam memang boleh menggantikan kambing.

Seorang jemaah dengan rambut penuh uban dan kaca mata tebal mencolek si jemaah tadi dari belakang dan berkata pelan: "Ayam itu lemaknya sedikit, lebih cocok buat saya yang darah tinggi."

Tapi yang dicolek tak perduli karena kaget dengan jawaban Kiai Mansur.

"Itu kan mulut kamu yang bilang. Kalian tidak tahu ayam ini untuk apa? Jadi tidak usah ribut dulu soal ayam-ayam ini. Nanti kalian juga akan tahu," Kiai Mansur masih angkat tangan ke sana sini supaya kelihatan sibuk biarpun semua ayam sudah diturunkan dari mobil barang.

"Saya kan cuma nanya kiai," kata jemaah tadi keder.

Sementara Ustad Zam berbalik dan para jemaah yang bergerombol memberinya ruang untuk jalan, seperti Nabi Musa yang membelah sungai.

"Saya tidak mau ikut campur soal ini," katanya setengah berteriak sambil berjalan masuk kembali ke masjid.

"Ayo sudah mau jam sembilan, ayo potong kurban," kata Kiai Mansur sambil berjalan ke arah kambing.

"Lha ayamnya ditinggal kiai," tanya seorang anak kecil berkopiah hitam.

"Sudah dibilang jangan tanya dulu," balas Kiai sambil menepis pelan kepalanya.

"Iya, kamu anak bandal," kata seorang pria setengah baya yang berjalan di bekakang Kiai Mansur, sambil memukul kepalanya agak keras.

"iya nih, bandal," kata seorang pemuda sambil lewat dan mengetok kepala anak itu, keras.

Anak kecil itu menangis dan kelompok jemaah yang berjalan di belakang pemuda tadi tak jadi ikut memukul kepalanya. "Baru gitu sudah nangis."

***

Tiga ekor kambing kembali menjadi bintang. Diiringi dengan takbir, tahmid dan tahlil, penyembelihan dimulai. Darah segar mengucur dari tiga leher kambing. Begitu penyembelihan tiga ekor kambing selesai, Kiai Mansur kembali ke tempat ayam-ayam.

Di sana para remaja masjid sibuk menyembelih ayam, disaksikan oleh sebagian jemaah yang sudah bosan melihat kurban kambing. Beberapa malah ikut membantu mencabuti bulu-bulu ayam di bagian leher dan menyerahkannya kepada para remaja penyembelih.

"Wah bingung, kambing atau ayam," kata seorang jemaah yang berada di kelompok kambing, serius.

"Dua-duanya saja," kata jemaah di sebelah, sama seriusnya.

"Tapi yang mana dulu," tanya jemaah lain, tak kalah serius.

"Ya kambing dululah, cuma tiga ekor. Ayamnya banyak," kata jemaah kedua tadi.

Seorang jemaah lain yang mendengar obrolan itu mendekat dan menegur: "Ente tak bisa main gampang gitu, ini bukan cuma soal kambing atau ayam, tapi agama."

"Iya, bukan cuma urusan mulut dan perut," tegas jemaah yang sudah seminggu belajar ilmu fiqih. "Ini ajaran agama, tau nggak!" timpal jemaah yang sudah belajar ilmu fiqih sehari sejam, lima hari.

Tiga jemaah tadi diam, tapi yang pertama tetap bingung: 'kalau tak boleh dua-duanya, terus kambing atau ayam," tanyanya kepada hati dan akalnya sendiri.

Sekitar dua jam, pembersihan dan pemotongan hewan -kambing maupun ayam- selesai tuntas. Tiga ekor kambing menjelma menjadi sekitar 60 kantung plastik sedangkan ayam-ayam lebih dari 200 kantung plastik.

Kiai Mansur mendatangi blok kambing dan melirik ke para anggota panitia kurban yang ngotot dengan prinsip hanya kambing semata. Dilirik Kiai Mansur, mereka malah saling berpandangan tak kuasa lari dari kenyataan bahwa mereka sudah mengeluarkan 200 kupon kurban.

"Mana cukup ini," seorang jemaah yang memilih mantap kambing tapi mulai menggunakan akal sehatnya dan menyapu pandangan ke barisan jemaah yang berkumpul. "Ratusan tapi kambing cuma tiga ekor."

Sementara para jemaah yang tadi ikut di blok ayam sudah mendakat pula ke blok kambing.

"Oi, kurban cuma tiga ekor kambing," kata seorang jemaah lain.

"Lagaknya kaya, beli kurban kambing nggak sanggup. Berhentilah jadi karyawan kalau menghitung saja tak bisa," timpal jemaah yang menjual ikan mas koki.

"Puih!" seseorang jemaah -buruh pabrik panic- malah maju ke depan dan bergaya meludah di depan panitia.

Kiai Mansur memandangi para jemaah di hadapannya.

"Tenang, semua akan kebagian. Tapi saya bertanya dulu. Kalau seandainya tidak dapat daging kambing, kemudian saya ganti dengan daging ayam, mau menerima atau tidak?"

Barisan yang sejak awal tak keberatan dengan ayam langsung teriak.

"Jadi, Kiai, dari pada tidak makan daging!"

"Saya lebih cocok ayam memang kiai," teriak jemaah yang darah tinggi.

"Dua-duanya boleh nggak kiai," tanya lepas jemaah yang bingung memilih.

"Tapi diutamakan yang hanya mau menerima kambing dulu, kiai. Saya jelas hanya mau kambing," kata jemaah yang belajar ilmu fiqih. Suaranya lebih ringan tapi tetap tegas.

"Daging kambing atau ayam sama saja, yang penting halal,"

"Tidak bisa, kalau saya hanya mau kambing," tegas penimba ilmu fiqih.

"Sudah jangan bertengkar. Saya yang mengatur nanti," kata Kiai Mansur. Diliriknya pintu masjid, tak dilihatnya Ustad Zam, yang rupanya benar-benar memutuskan untuk tidak ikut campur tangan lagi.

Kiai Mansur kemudian mengangkat telunjuk. "Yang mau ayam halal ke sana, yang hanya mau kambing halal tetap di sini. Yang mau dua-duanya tunggu dulu."

"Saya mau ayam saja," kata jemaah peragu. "Biar pasti."

"Ambil saja dulu kambing, sembunyikan di balik sarung baru ke bagian ayam," saran jemaah temannya.

"Idul Adha malah bohong," kata jemaah ketiga. "Saya mau kambing, ya sudah kambing," dia setengah membentak.

Kiai Mansur kemudian mengambil pengeras suara, dan berdiri di tengah, antara blok kambing dan ayam.

“Hari ini saya bukan sedang mengganti hewan kurban dengan ayam. Tetapi saya sedang menyamakan perasaan bahagia antara umat satu dan lainnya. Meski daging yang mereka masak bukan daging kambing atau sapi, tetapi perasaan mereka tetap terjaga dengan kebahagiaan meskipun hanya menerima daging ayam. Semuanya sama-sama daging mahluk Allah”

"Kedua, ini pelajaran bagi sebagian warga yang bersedia berkurban yang mereka punya. Idul Kurban, tidak ada berkitan dengan si kaya dan si miskin. Jadi tidak baik bila dengan alasan keterbatasan uang, lalu membenarkan untuk tidak mengeluarkan hewan kurban. Saya ingin mengajak kita semua untuk sadar, betapa Nabi Ibrahim merelakan harta termahal, yaitu anaknya sendiri Nabi Ismail untuk disembelih demi ketaatannya kepada Sang Khaliq. Banyak warga yang tidak mampu tapi bersedia memberi iuran untuk membeli ayam sebagai bentuk pengorbanan pada hari raya, tapi bagaimana dengan yang jelas-jelas gajinya berlebih."

"Jadi ayam-ayam tadi, sebagian uangnya dari saya, sebagian lagi hasil iuran mendadak dari warga yang belum mampu membeli sendiri hewan kurban, tetapi mereka siap berkurban walau hanya sedikit. Para remaja masjid yang tadi mengumpukan iurang dengan kilat. Jadi nilai pengorbanan bukan dilihat besar kecilnya bentuk benda. Tetapi kesungguhan seorang hamba untuk berkurban demi ketaatannya. Itu yang akan menjadi nilai lebih dari seorang hamba di hadapan Tuhan."

Tiba--tiba terlihatnya Ustad Zam di depan pintu masjid. Mata mereka berpandangan, dan Ustad Zam mengangkat jempolnya. Kiai Mansur membalas dengan senyum kecil, saatnya berhenti pikirnya.

"Sebelum kita semua pulang, saya ucapkan Selamat Hari Raya Idul Adha," kata Kiai Mansur, diiringi tepuk tangan para jemaah, khususnya dai barisan pendukung ayam.

Beberapa jamaah saling pandang sebelum bubar. Ada seberkas cahaya Ilahi yang masuk ke setiap relung hati mereka. Bibirnya terkatup rapat, tapi hati mereka mengucap ampun.

Kiai Mansur sudah beranjak dari hadapan mereka, berjalan bergegas hingga menghilang di belokan jalan.

Dia sudah tak sabar makan ikan gabus, hasil tangkapan anaknya dari paret di depan masjid tadi malam.
***
Bukit Asam, Idul Adha 1429 H

BACA JUGA

Sindang Laut - Ajip Rosidi

Sampur - Sugiarta Sriwibawa

Khaidir - Idrus F Shahab

Djakarta Dalam Puisi Indonesia, Pengantar 1 - Liston P Siregar

Djakarta Dalam Puisi Indonesia, Kata Pengantar - Ajip Rosidi

Teluk Jayakatera - Amir Hamzah

Pasar Ikan - Bahrum Rangkuti

RFH

ceritanet©listonpsiregar2000