ceritanet   situs karya tulis - edisi 214 rabu 16 november 2011  sampul
sajak
laporan
cerpen

novel
memoar
catatan

foto

edisi lalu
kirim tulisan
tentang ceritanet
ikut mailing list

"Wah bingung, kambing atau ayam," kata seorang jemaah yang berada di kelompok kambing, serius.
"Dua-duanya saja," kata jemaah di sebelah, sama seriusnya.
"Tapi yang mana dulu," tanya jemaah lain, tak kalah serius.
"Ya kambing dululah, cuma tiga ekor. Ayamnya banyak," kata jemaah kedua tadi.
Seorang jemaah lain yang mendengar obrolan itu mendekat dan menegur: "Ente tak bisa main gampang gitu, ini bukan cuma soal kambing atau ayam, tapi agama."
Seribu Ayam untuk Tuhan
Imron Supriyadi

Bulan ngambang di laut dan pecah di pucuk ombak
Bulan mengaca di nafas malam, redup lampu kapal
Deru yang menderu berkejaran di kesepian pantai
Deru dari diri lebih dalam irama mimpi. Diajaknya
Kita datang dan membikin mimpi atas mimpi

Sindang Laut Ajip Rosidi (1955) Djakarta Dalam Puisi Indonesia

Wahai dunia kenang berkatalah
pulas terbaring dalam sedekap tanganku
Akan menitis, sealun lagu di lunglai rambutku
Renyap berdenyut, betapa kuangguk tahu
Sampur Sugiarta Sriwibawa (1956) Djakarta Dalam Puisi Indonesia

BACA JUGA

Khaidir - Idrus F Shahab

Djakarta Dalam Puisi Indonesia, Pengantar 1 - Liston P Siregar

Djakarta Dalam Puisi Indonesia, Kata Pengantar - Ajip Rosidi

Teluk Jayakatera - Amir Hamzah

Pasar Ikan - Bahrum Rangkuti

London

ceritanet©listonpsiregar2000