ceritanet   situs karya tulis - edisi 213 senin 31 oktober 2011  sampul
sajak
laporan
cerpen

novel
memoar
catatan

foto

edisi lalu
kirim tulisan
tentang ceritanet
ikut mailing list

sajak Khaidir
Idrus F Shahab

Nanti, di penghujung sungai ini
pada kelokan terakhir
kebenaran akan berlabuh
... di bawah langit sekelam jelaga
berbendera merah, hijau, lilin, dan pagar kawat berduri

Khaidir lahir di laut, hadir di laut,
datang ketika orang pergi
pergi ketika orang kembali
melihat yang tak terlihat, muara segala dialektik

Khaidir berjubah angin, berselimut gelombang
tubuhnya gemetar seperti bendera
meratap seperti hujan
menanti seperti daun pintu

Ia ingat
hari itu Musa datang mengetuk
matanya menusuk
seakan berkata: aku telah memaksa kebenaran turun gunung
bagaikan genderang kematian kaum penguasa
bersamanya kami menyeberangi Laut Merah

"Angkat aku jadi muridmu "
Hati sang mursyid berbunga, tapi juga risau:
siapa sudi memahami samudra yang dalam tak terukur ini,
sejarah yang mengubur dan melebur
ribuan manifesto, revolusi, identitas, ribuan kesumat yang suci

Beribu tahun setelah Musa gagal jadi muridnya
seorang nelayan di Teluk Jakarta melihat seorang tua
ada dan tiada di antara ombak

Memandangi negeri yang dulu membuat ia terharu
dengan pekik reformasi
kini tampak sia-sia melawan korupsi
"Mungkin ia Khaidir "

Berjubah angin, berselimut gelombang
tubuhnya gemetar seperti bendera
meratap seperti hujan
menanti seperti daun pintu

melihat yang tak terlihat, muara segala dialektik

***

BACA JUGA

Djakarta Dalam Puisi Indonesia, Pengantar 1 - Liston P Siregar

Djakarta Dalam Puisi Indonesia, Kata Pengantar - Ajip Rosidi

Teluk Jayakatera - Amir Hamzah

Pasar Ikan - Bahrum Rangkuti

Tiga jam lebih di Soekarno-Hatta dan Rokok - Liston P Siregar

Beri Aku Detakmu - Suhendri Cahya Purnama

Arlington

ceritanet©listonpsiregar2000