ceritanet   situs karya tulis - edisi 213 senin 31 oktober 2011  sampul
sajak
laporan
cerpen

novel
memoar
catatan

foto

edisi lalu
kirim tulisan
tentang ceritanet
ikut mailing list

catatan Djakarta Dalam Puisi Indonesia, Kata Pengantar
Ajip Rosidi

Apabila seorang penyair menyebut atau menyanyikan tentang suatu kota atau tempat dalam sajaknya, niscaya karena ada atau pernah terjadi hubungan, paling tidak tidak pertemuan antara si penyair dengan kota atau tempat itu. Suatu kota, suatu tempat, yang suatu kali menyentuh hati si penyair atau seniman lainnya, membangkitkan inspirasinya untuk menulis puisi atau membuat lagu, akan tecatat dalam kazanah sastra dan seni. Banyak kota-kota kecil atau tempat-tempat terpencil yang hampir tak dikenal karena tak tercantum dalam peta manapun juga, menjadi termashur karena ada penyair atau seniman yang menulis atau mencipta karya seni tentangnya.

Namun kedudukan kota Jakarta dalam dunia sastra sastra Indonesia khususnya sangatlah istimewa. Jakarta tidak hanya masuk atau disebut dalam sebuah atau dua sajak yang ditulis oleh seorang penyair. Hampir dalam setiap generasi ada penyair Indonesia yang menunjukkan dengan jelas bahwa sajak itu lahir di dan lantaran Jakarta.

Bukan hanya para penyair yang memang hidup di Jakarta sehingga dengan demikian mempunyai jalinan ikatan batin yang mendalam yang menulis tentang Jakarta, tetapi juga para penyair yang sendiri tidak pernah tinggal di Jakarta, banyak yang menulis tentang Jakarta. Misalnya penyair W.S Rendra yang secara terbuka menyatakan ketidaseriusannya dengan kehidupan di Jakarta dan yang samapai sekarang selalu tinggal di Solo dan Yogyakarta, tidak sedikit menulis sajak tentang Jakarta. Demikian juga penyair Sapardi Djoko Darmono, meskipun tidak tinggal di Jakarta, banyak menulis tentang Jakarta.

Hal itu saya kira bukan hanya disebabakan oleh kenyataan bahwa Jakarta menjadi ibukota Republik Indonesia, melainkan lebih-lebih karena pentingnya peranan Jakarta dalam kebudayaan nasional. Para penerbit buku dan majalah yang penting-penting selalu terdapat di Jakarta, wakapun kadang-kadang di daerahnya ada majalah atau penerbitan, namun muncul dalam penerbitan Jakarta dianggap sebagai pengakuan tingkat nasional. Hal yang serupa nampak pula di kalangan pelukis, yang walaupun sudah mengadakan berbagai pameran di kota-kota lain namun tetap bercita-citra ingin mengadakan pameran di Jakarta.

Kenyataan itu menyebabkan siapapun juga penyair atau seniman Indonesia yang bertaraf nasional mau tidak mau harus berurusan dengan Jakarta. Walaupun tinggal di Yogya, tetapi penerbit buku-buku W.S Rendra berada di Jakarta dan Bengkel Teater yang dipimpinnya memperoleh sukses di Taman Ismail Marzuki, karena di Yoya sendiri dilempari batu.

Banyak orang atau anak muda yang datang ke Jakarta tidak dengan niat untuk menjadi pengarang ataupun penyair. Baru setelah di Jakarta ia menemukan dunia kesenian sebagai suatu dunia yang menarik minatnya yang kemudian menjadi pilihan hidupnya dan dengan demikian hubungannya dengan Jakarta sangatlah erat.

Peristiwa-peristiwa semacam itu tidak hanya mengenai orang-orang yang kemudian menerjunkan diri dalam dunia seni atau sastra saja. Juga dalam bidng-bidang ekonomi, sosial, politik, ilmu dan lain-lain, terjadi hal-hal yang serupa. Adapun sebab-sebabnya saya kira karena kedudukan Jakarta, sebagai ibukota Republik Indonesia, merupakan pusat pemerintahan, pusat perdagangan, pusat percaturan politik, pusat kegiatan ilmu, pusat kesenian, pendeknya pusat segala kegiatan hidup manusia. Kalau para turis asing sering mengelirukan Indonesia identik dengan Bali, maka para pemimpin Indonesia sering menganggap Jakarta sebagai Indonesia sehingga pernah terjadi ketegangan-ketegangan antara 'pusat' (yang berarti Jakarta dengan 'daerah' (terutama diartikan sebagai pulau-pulau di luar Jawa).

Jakarta telah turut menentukan corak kesenian dan kebudayaan nasional, bahkan dalam banyak hal memberikan arah perkembangannya. Bahkan juga pada segi-seginya yang negatif seperti menjamurnya kini kub malam dan mandi uap di berbagai kota lain, bahkan juga di kota-kota kecil yang tidak membutuhkannya.

Adalah menarik untuk mengadakan penelitian mengenai berapa besar peranan Jakarta dalam hal-hal seperti itu. Menarik pula untuk mengadakan penelitian tentang peran Jakarta dalam perkembangan kesenian Indonesia. Dan untuk membatasi diri, adalah menarik untuk mempelajari hubungan personal para seniman Indonesia dengan ibukota negaranya, yang sering dipuja, dimaki, dikutuk bahkan, dalam karyanya.

Dengan tidak mengindahkan adanya syair-syair dalam bahasa Melayu Cina tentang berbagai cerita yang terjadi di Jakarta, yang umumnya bersifat epik dan dengan demikian kurang menunjukkan hubungan pribadi penyair dengan kota itu, maka akan segera kelihatan bahwa sudah sejak jaman Pujangga Baru ada sajak ditulis tentang Jakarta. Teluk Jakarta yang ditulis oleh Amir Hamzah almarhum, agaknya pada masa-masa permulaan dia merantau ke Jawa, merupakan sajak pertama yang ditulis tentang Jakarta. Tidak banyak hal mengenai Jakarta yang ditulis penyair itu dalam sajak tersebut tetapi segala kerinduannya terhadap kampung halaman dan segala yang berada di sana itu timbul justru takkala ia melihat Teluk Jakarta.

Walaupun majalah Poedjangga Baroe terbit di Jakarta, tetapi para pembantunya bertebaran di seuruh kepulauan Nusanara. Demikian juga halnya dengan para pengarang yang buku-bukunya terbit di Balai Pustaka. Bahkan kebanyakan cerita-cerita roman yang diterbitkan Balai Pustaka pada tahun-tahun pertama pertumbuhannya, ditulis oleh orang-orang yang tinggal di daerah, atau kalaupun pengarangnya sendiri tinggal di Jakarta, namun romannya itu menceritakan tentang kehidupan di daerah pula. Memang cerita Si Djamin dan Si Djohan (1930) terjadi di Betawi, tetapi cerita Azab dan Sengsara (1921), Siti Nurbaja (1922), Salah Asuhan (1928), Darah Muda (1928) dan kebanyakan roman-roman Balai Pustaka yang permulaan umumnya terjadi di daerah. Namun demikian ternyata dalam cerita-cerita itu peranan kota Jakarta bukanlah tidak penting.

Dan sejak para pengaranag Pujangga Baru, panggung tempat cerita berlaku umumnya sudah pindah sama sekali ke Jakarta. Roman S. Takdir Alisjahbana Lajar Terkembang (1936), roman Armijn Pane Belenggu (1940), Djalan Tak ada Udjung (1952) dan Sendja di Djakarta (1970) Mochtar Lubis, Keluarga Gerilja (194( dan Mereka jang Dilumpuhkan (1951) Pramoedya Ananta Toer, dan cerita-cerita pendek Idrus, Achdiat K. Mihardja, Nugroho Notosusanto, Trisnojuwono, Rusman Sutiasumarga, M. Balfas, S.M. Ardan dan lain-lain banyak yang terjadi di Jakarta.

Semua itu disebabkan karena kemduian seniman-seniman Indoensia berkumpul di Jakarta -sengaja atau semata-mata karena terdampar. Pada zaman pendudukan Jepang ada Kantor Pusat Kebudayaan yang memanggil seniman-seniman dari daerah untuk menggabungkan diri dalam usaha membantu kemenangan Asia Timur Raya. Dan sejak itu seolah-seolah telah dianggap wajar saja kalau setiap orang yang mau mengadu untuk dalam bidang apapun, lebih-lebih dalam bidang kesenian dan kesusastraan - pergi ke Jakarta dan mencoba mengatasi kegagalan-kegagalan untuk mencapai pengakuan nasional.

Pada tahun 1953. Asrul Sani pernah mengemukakan bahaya berpusatnya seniman-seniman di Jakarta dan ia menganjurkan agar para pengarang kembali ke desa. Tahun 1958 pengarang Idruspun menganjurkan para pengarang muda agar jangan berkumpul di Jakarta. Dan Ramadhan K.H. dalam romannya Rojan Revolusi (1971) menyuruh tokoh utamanya pergi meninggalkan Jakarta dan hidup di daerah.

Tapi sebegitu jauh, anjuran-anjuran itu tidaklah berhasil. Para pengarang atau calon pengarang masih juga pergi ke Jakarta untuk mencoba-coba nasibnya. Bahkan pengarang-pengarang atau penyair-penyair yang sudah tumbuh dan membuat nama di kota lain seperti Yogyakarta (Motinggo Busye, Putu Widjaja, Arifin C. Noer, Sju'bah Asa), Solo (Budiman S. Hartojo, D.S Moeljanto, Mansur Samin), Medan (Rajani Lubis, Mulya Lubis) dan lain-lain, kemudian pindah ke Jakarta, baik karena panggilan bidang seni yang dipilihnya maupun karena sebab-sebab lain di luar itu.

Hal itu membuktikan bahwa dalam waktu yang lama, agaknya Jakarta masih akan tetap merupakan pusat yang menentukan corak perkembangan kesenian dan kesusastraan Indonesia. Walaupun di kota-kota lain sekarang sudah banyak didirikan dewan-dewan kesenian, namun Dewan Kesenian Jakarta masih juga merupakan pola yang diimpikan seniman-seniman di kota-kota lain.

Dalam bunga rampai sajak-sajak tentang Jakarta ini, dihimpunkan sepilihan sajak yang pernah ditulis oleh sementara penyair Indonesia. Sajak yang paling tua adalah sajak Amir Hamzah yang mungkin ditulis sekitar tahun 1930, dan sajak terakhir adalah sajak Ramadhan K.H, yang ditulis tahun 1972. Selama jangka waktu lebih 40 tahun itu, para penyair yang menulis tentang Jakarta, adalah jauh lebih banyak daripada yang dapat dihimpunkan di sini. Bukanlah maksud penyusun bunga rampai ini untuk memuatkan segala sajak tentang Jakarta dalam buku ini. Karena itulah dilakukan pemilihan, baik atas pertimbangan estetis maupun atas pertimbangan praktis. Juga yang dipilih untuk dimasukkan ke dalam bunga rampai ini bukanlah semata-mata sajak yang menyebut Jakarta, maka juga tidak semua sajak yang dimuat di sini secara eksplisit menyebut Jakarta melainkan karena dari penelitian penyusun, dianggap ditulis di atau tentang Jakarta.

Dari sajak-sajak yang terhimpun di sini nampak sekali bahwa dalam tahun limapuluhan banyak benar ditulis sajak tentang Jakarta. Toto S. Bachtiar menyanyikannya dalam sajak yang kemudian terkenal yaitu Ibukota Sendja dan dalam berpuluh-puluh sajak lain, baik yang dapat segera dikenali sebagai sajak tentang Jakarta ataupun yang tidak. Sitor Situmorang mengutuknya sebagai kota malaria. Dan para penyair yang lain menuls tentang berbagai segi dalam wajah kehidupan kota Jakarta.

Banyaknya sajak yang ditulis tentang Jakarta itu menunjukkan segi lain dari persoalan manusia Indonesia yang sedang membangun nasionnya. Pada tahun-tahun pertama setelah pengakuan kedaulatalan agaknya telah terlalu banyak harapan digantungkan di Jakarta: tetapi pada tahun-tahun beriktunya terbukti bahwa harapan-harapan itu kebanyakan hanyalah gantangan asap belaka.

Tetapi menarik juga untuk mengemukakan kenyataan, bahwa pada tahun tujuhpuluhan, tidak ada (atau kalaupun ada sedikit sekali) sajak yang ditulis tentang Jakarta.

Kenyataan-kenyataan itu niscaya menarik untuk suatu penelitian sosiologis.

Juga ragam suara yang ditulis para penyair dalam sajak-sajak yang terhimpun di sini, menunjukkan berapa banyaknya segi kehidupan yang telah diungkapkan penyair-penyaiur itu sesuai dengan sikap dan kehidupan jiwanya sendiri. Dunia remang-remang banyak dijumpai dalam sajak-sajak Toto S. Bachtiar, akhirnya memuncak pada sajak sarkastis yang ditulis W.S Rendra tentang para pelacur Jakarta yang dianjurkannya bersatu. Sementara itu Bahrum Rangkuti meningkat nafirinya menyanyikan perjuangan rohani manusia yang mencari iman.

Sajak-sajak yang dimuat dalam buku ini disusun tidak dikelompok-kelompok menurut penyairnya. Penyususn -berhasil a tau tidak, terserah kepada pembaca- mencoba menyusun sajak-sajak itu sedemikian rupa sehingga dapatlah membawa pembaca untuk sedikit demi sedikit kian mendalami masalah-masalah kehidupan Jakarta.

Mula-mula pemyusun mengajak pembaca untuk masuk ke Jakarta melalui laut, bersama-sama dengan Amir Hamzah muda yang terkenang akan kampung halamannya, nun jauh di Langkat. Kemudian menyusuri pantai ke arah tImur: ke Sindanglaut dan kembali lagi ke Sampur bersama Sugiarta Sriwibawa untuk kemudian dengan menyusuri sepanjang Gunung Sahari dan sampai Ciliwung masuk ke Senen, melihat berbagai segi kehidupan Senen: peminta-minta, pelacur, doger, lalu bergerak masuk ke dalam persoalan-persoalan masyarakat Jakarta. Sajak-sajak selanjutnya mengungkapkan kehidupan si miskin yang papa, yang akhirnya menimbulkan ketakpuasan dan protes yang meledak pada demonstrasi-demonstrasi mahasiswa dan lain-lain dan diakhiri dengan sajak-sajak tentang maut (Chairil Anwar) tentang kehidupan rohani (Bahrum Rangkuti) dan tentang cita-cita yang hanya merupakan elegi (Asrul Sani).

Tentu saja susunan seperti itu mustahil akan dapat sempurna, karena penyusun sangat tergantung kepada bahan-bahan yang ada. Dan bahan-bahan itu mesti yang sudah tersedia dalam khazanah. Dan ternyata tidaklah sama perhatian para penyair terhadap sesuatu soal. Banyak sekali sajak tentang kehidupan malam, tentang kepapaan tentang kesengsaraan, tetapi kurang yang melukiskan kehidupan kaum elite -mungkin disebabkan oleh kenyataan bahwa para penyair kebanyakan berasal dari lapisan masyarakat yang rendah.

Karena itu penyusun hanyalah breusaha sedapat-dapatnya, dengan kepercayaan bahwa angan-angan susunan seperti yang dikehendaki ini, walaupun mustahil sempurna, akan dapat diterima oleh para pembaca sebagai suatu usaha memberikan potret Jakarta yang lebih dinamis dengan mengikuti segala aspek kehidupannya seperti yang telah direkam oleh para penyair Indonesia.

Kepada saudara Oesman Effendi yang telah menbuat sketsa-sketsa Jakarta untuk buku ini, saya ucapkan terimakasih yang ikhlas.

Mudah-mudahan usaha ini bermanfaat bagi pemikiran tentang dan perkembangan kota Jakarta pada waktu yang akan datang. Amin.

Ajip Rosidi, 22 Mei 1972

***

BACA JUGA

Khaidir - Idrus F Shahab

Djakarta Dalam Puisi Indonesia, Pengantar 1 - Liston P Siregar

Teluk Jayakatera - Amir Hamzah

Pasar Ikan - Bahrum Rangkuti

Tiga jam lebih di Soekarno-Hatta dan Rokok - Liston P Siregar

Beri Aku Detakmu - Suhendri Cahya Purnama

Arlington

ceritanet©listonpsiregar2000