ceritanet   situs karya tulis - edisi 213 senin 31 oktober 2011  sampul
sajak
laporan
cerpen

novel
memoar
catatan

foto

edisi lalu
kirim tulisan
tentang ceritanet
ikut mailing list

catatan Djakarta Dalam Puisi Indonesia, Pengantar 1
Liston P Siregar

Toko buku Jose Rizal Manua di TIM seperti sebuah sanctuary di Jakarta, bisa dalam pengertian tempat suci, atau tempat pengungsi, maupun wilayah untuk melindungi kelangkaan.

Antara pertengahan Agustus hingga pekan pertama Oktober, saya menjadikannya semacam tempat penantian pengungsi. Selepas kerja jam 6-an, saya berenang di kolam renang Cikini di sebelah TIM, dan jam 7-an berjalan kaki ke TIM, ke toko buku Jose Rizal Manua, sambil menunggu jam 9 tiba, waktu janjian bertemu kawan.

Di situ, saya menemukan kembali banyak buku terjemahan karya-karya sastrawan dunia terbitan Pustaka Jaya, yang memperkenalkan saya kepada Sehari Dalam Hidup Ivan Ivanovich, Dataran Tortilla, Jiwa-jiwa Mati, Prajurit Schweik, Monte Cristo, dan banyak lagi. Semakin hari semakin banyak kenangan yang terungkap; ada Harmoni, Cis (tapi tak ada Cuk), Bom, Harimau Harimau, dan macam-macam yang tak kalah banyak dan hebat dengan karya sastrawan dunia.

Saya kemudian membeli Sanu Infinita Kembar karya Motinggo Busye. "Ini karya terbaik beliau," kata Bang Jose. "Korting," tambahnya lagi sambil mengembalikan Rp30.000, lebih banyak lima ribu dari yang semestinya.

Di luar toko bukunya yang sepi -malam itu sedang tidak ada acara di TIM, selain kesibukan di bioskop Studio 21 di ujung kiri sana, seperti terpisah oleh dinding imajiner- saya sempatkan duduk sambil ngobrol. Waktu itu karya Seno Gumira Ajidarma yang dianggap plagiat sedang jadi pembicaraan ramai dan Bang Jose yang bertutur. Saya mendengar sambil menghirup sebatang rokok.

Nikmat sekali rokok yang sebatang itu.

Malam lainnya, saya putar-putar kembali. Tak ada yang khusus dicari. Hanya putar-putar, seperti di toko mainan. Tiba-tiba teringat; "Bang, ada Merahnya Merah?"

Diambilnya pijakan kecil dan dari salah satu bagian atas rak, diambilnya karya Iwan Simatupang itu, dikibas-kibaskannya dari debu. "Tinggal ini."

Sampulnya sudah setengah robek, dan "Saya paling suka yang Koong," tambahnya.

Saya duduk lagi. Tapi malam itu Bang Jose sibuk memberi makan kucing-kucingnya. Ada sembilan ekor kucing kecilnya. Datang pula seorang lagi, duduk, dan setelah makanan kucing beres, mereka membahas tentang dokumentasi salah satu acara di TIM.

Saya sulit masuk obrolan itu, jadi setelah sebatang rokok yang nikmat habis, saya pun pergi.

Malam yang lain lagi, putar-putar lagi. Mencoba-c0ba mengingat karya kenangan apa lagi yang ingin saya miliki, tapi tak ada. Tiba-tiba ketemu Djakarta Dalam Puisi Indonesia, yang diterbitkan Dewan Kesenian Djakarta, dengan editor Ajip Rosidi. Temuan hebat.

Saya tak sabar membacanya, tapi ritual duduk dan sebatang rokok pantang diabaikan. Malam itu -masih juga sepi- Bang Jose bercerita tentang puisi-puisinya yang ditempel di dinding-dinding toko bukunya.

Saya mendengar sambil menghisap merokok sebatang, tapi sudah kurang nikmat karena tak sabar membaca Djakarta Dalam Puisi Indonesia.

Dan setelah menikmatinya, saya putuskan untuk berbagi lewat ceritanet. Demi kemudahan, saya menyalin dengan menggunakan ejaan baru. Selebihnya sama persis dengan yang diterbitkan Dewan Kesenian Jakarta untuk memperingati ulang tahun Djakarta yang 445 pada tahun 1972.

Mohon maaf, sketsa-sketsa karya Oesman Effendi di buku itu tidak saya tampilkan.
***

BACA JUGA

Khaidir - Idrus F Shahab

Djakarta Dalam Puisi Indonesia, Kata Pengantar - Ajip Rosidi

Teluk Jayakatera - Amir Hamzah

Pasar Ikan - Bahrum Rangkuti

Tiga jam lebih di Soekarno-Hatta dan Rokok - Liston P Siregar

Beri Aku Detakmu - Suhendri Cahya Purnama

Arlington

ceritanet©listonpsiregar2000