ceritanet   situs karya tulis - edisi 212, rabu 28 september 2011  sampul
sajak
laporan
cerpen

novel
memoar
catatan

foto

edisi lalu
kirim tulisan
tentang ceritanet
ikut mailing list

komentar Tiga Jam lebih di Soekarno-Hatta dan Rokok
Liston P Siregar

Pada suatu Jumat malam -jadi agak sedikit khusus dan mungkin tidak bisa mencerminkan situasi rata-rata- banyak orang yang berdatangan dan bepergian menjelang akhir pekan,di Bandara Soekarno-Hatta.

Saya akan terbang dengan Lion Air ke Medan. Masih ada waktu -karena tidak punya bagasi- untuk mencari toilet dulu. Letaknya kira-kira di tengah terminal 1B. Dari jauh bisa dibaca petunjuknya dengan tulisan putih dan latar belakang biru: Toilet. Di bawahnya: Ruang Merokok.

Sampai di sana maka Anda akan masuk ke semacam koridor luas yang lepas ke udara terbuka jalan raya dengan barisan bangku kayu di sisi kiri dan kanan. Ruang sebelah kanan adalah toilet perempuan dan sebelah kiri toilet laki-laki. Ruang merokoknya adalah koridor besar itu dan banyak orang di bangku yang merokok maupun yang tidak merokok, begitu juga yang berdiri sambil merokok maupun tidak merokok. Segala usia ada di koridor.

Orang tidak hanya merokok di ruang, atau tepatnya, koridor merokok. Mereka ada di mana-mana, termasuk di tempat makan California Fried Chicken maupun Fast Food. Dua nama itu disebut karena terlihat ada yang merokok di sana dan tidak berarti restoran lain tanpa perokok.

Saya bukan antiperokok: mana mungkin seorang perokok ringan secara bersamaan menjadi antiperokok, walau bisa terganggu berada dalam satu ruangan dengan orang yang merokok ketika saya sedang tidak merokok. Cuma sempat menjadi pertanyaan, kenapa harus ada ruangan merokok di teras bandara yang luas dan berlangit-langit tinggi, ketika orang bisa merokok dengan bebas di semua sudut di teras itu. Pertanyaan yang langsung bisa dijawab: penegakan peaturannya lemah.

Setelah mendaftar-karena tak ada kepentingan lain- saya langsung masuk ke komplek gerbang keberangkatan nomor 3. Bangunan bandara yang terdiri dari teras-teras terbuka mungkin membuat pilihan untuk kawasan merokok lebih sederhana karena di bagian teras kiri ada tiga blok yang diberi tulisan -juga berwarna putih dengan latar biru- kalau tidak salah 'Kawasan untuk Merokok' atau 'Tempat untuk Merokok'.

Dengan letak kursi yang menghadap ke udara terbuka, maka ketika saya merokok asapnya jusrtru tertiup angin masuk ke bagian tengah atau mungkin sampai ke sisi ujung kanan, yang tidak diperuntukkan untuk orang merokok.

Cuma saya tidak perlu merasa bersalah -mungkin mau sedikit menenangkan diri. Di ujung kanan yang tidak ada tulisan 'Kawasan untuk Merokok' gampang ditemukan orang yang merokok. Bahkan di lorong menuju keberangkatan -yang dindingnya tertutup jendela kaca dan hanya beberapa yang bisa dibuka- juga banyak yang merokok, sambil duduk, sambil berdiri, atau sambil bersila maupun setengah berbaring.

Penerbangan yang ditunda sampai 90 menit membuat banyak penumpang yang sudah tidak perduli pada penampilan lagi. Ada yang tiduran, mengangkat kaki ke kursi sebelah, ada pria yang membuka beberapa kancing bajunya -memang cuaca malam itu cukup panas- menggulung lengan baju, atau berteriak 'wooooooo' ketika mendengar pengumuman telat. Termasuklah para perokok yang sepertinya makin cuek, merokok dan menghembuskan asap rokoknya ke mana saja.

Hanya di dalam ruang keberangkatan saja -yang seluruh dinding tertutup dinding kaca yang tak bisa dibuka- tidak ada lagi perokok, atau tepatnya tidak terlihat pada malam Sabtu itu.

Sebagai perokok ringan -rata-rata satu atau dua batang per hari- saya tidak punya alasan menjadi antimerokok atau antiperokok. Tapi pada sisi lain saya juga tidak keberatan dikucilkan. Dan saya yakin tidak sendirian.

Tingkat kawasan merokok
Banyak provinsi di Indonesia sudah memiliki peraturan daerah larangan bebas rokok di tempat umum dan beberapa tempat lainnya.

Bandara Soekarno-Hatta berada di Provinsi Banten, yang juga sudah mengeluarkan Peraturan Daerah No. 5 Tahun 2010 tentang larangan merokok. Dan bandara dengan tegas masuk dalam salah satu definisi tempat umum dengan larangan merokok, bersama-sama antara lain tempat kerja, rumah sakit, sekolah, dan angkutan umum.

Tentu orang masih boleh merokok -karena belum disetarakan dengan euthanasia yang di beberapa negara, seperti Inggris, dilarang berdasarkan undang-undang. Dan pernah ada orang yang menggugat Gubernur DKI Jakarta karena kebijakan kawasan bebas rokok. Mardani Setiawan -tak jelas apakah dia perokok atau pegiat hak asasi- mendasarkan gugatannya pada hak asasi manusia. Gugatan Mardani langsung ditanggapi sekelompok pegiat kawasan bebas rokok dengan alasan masih tetap disediakan tempat untuk merokok.

Cuma ada persyaratan dari kawasan merokok di tempat umum. Dalam ayat pertama dalam bagian Tempat Khusus/Kawasan Merokok disebutkan tempatnya harus terpisah atau secara fisik tidak tercampur dengan kawasan dilarang merokok. Selain itu dilengkapi alat perghisap udara atau memiliki sistem sirkulasi udara, juga ada asbak atau tempat pembuangan puntung rokok. Sebagai anjuran adalah diberi informasi tentang data dan informasi bahaya merokok bagi kesehatan.

Dengan peraturan itu saya mencoba menafsirkan situasi di Bandara Soekarno-Hatta. Koridor merokok di teras Terminal 1B agak repot. Terpisah? Ya dan tidak, karena ada ruang toilet di sebelah kanan dan sebelah kiri. Mungkin bisalah disebut setengah terpisah dengan ruang yang berada di balik toilet namun berhubungan lagsung dengan ruang kosong di dekat ruang terminal yang disediakan untuk orang-orang yang berjalan kaki. Juga setengah terpisah dengan toilet, karena ada pintunya yang terbuka tanpa pintu yang bisa dibuka dan ditutup.

Syarat sirkulasi udara juga bisa setengah terpenuhi karena di sebelah jalan raya adalah udara terbuka. Memang angin bisa jadi tidak membawa asap ke luar tapi terhembus dari bagian terbuka di jalan raya masuk ke dalam. Tapi jelas bahwa udara di atas dan dalam ruang koridor itu bukan udara mati. Yang juga jelas, tidak ada informasi tentang data dan informasi bahaya merokok.

Kawasan merokok di gerbang keberangkatan lebih lemah posisinya. Tidak bisa dicari-cari alasan terpisah secara fisik selain hanya sekedar berjarak saja karena tidak ada dinding pemisah antara yang merokok dan tidak merokok. Sistem sirkulasi udara sama dengan teras Terminal 1B karena di depan para perokok ada udara terbuka. Syarat informasi kesehatan juga tidak ada.

Yang paling buruk adalah lorong keberangkatan. Para perokok dan yang tidak berokok duduk bersampingan, sengaja atau tidak sengaja. Sekedar faktor jarak saja tidak ada, apalagi dinding pemisah. Kalaulah mau dipaksakan sistem sirkulasi, maka hanya beberapa jendela yang terbuka dan tidak semua perokok duduk persis di samping jendela yang terbuka. Kalau sirkulasi saja tidak jelas apalagi ketersediaan informasi bahaya merokok.

Risiko rokok
Kalau anda membeli rokok di sejumlah negara maju -Inggris salah satunya- ada gambar organ tubuh yang rusak karena merokok yang memenuhi setengah dari kotak rokok. Salah satunya gambar paru-paru yang putih bersih sehat disandingkan dengan paru-paru coklat karatan yang busuk dengan tulisan 'Merokok menyebabkan kanker paru-paru fatal.' Ada juga gambar sperma dengan peringatan 'Merokok bisa merusak sperma dan menurunkan kesuburan.'

Tersedia beberapa pilihan gambar dan pesan, yang harus dipajang dalam ruang setengah kotak rokok. Bahwa orang masih kecanduan merokok, peringatan sudah diberikan.

Jelas tak sedikit pula orang yang menari-cari alasan merokok tidak langsung membahayakan jiwa. Ada yang mengutip usia seorang perokok yang mencapai sampai 90-an, ada yang beralasan tidak mau berusia panjang karena "apa gunanya umur sampai 100 tahun kalau cuma berbaring di tempat tidur." Atau seperti saya, "kalau sekali-sekali tentu tidak berpengaruh terlalu buruk." Mungkin juga Anda masih ingat seorang anak kecil di Indonesia yang sudah merokok rutin -yang masuk Youtube- tapi kelihatan biasa-biasa saja.

Apapun, merokok -dan juga asap rokok- sudah terbukti mempengaruhi kesehatan. Sama dengan gangguan kesehatan lain, setiap individu punya kemampuan masing-masing untuk meresponnya. Jadi ada yang langsung terkena dampaknya tapi ada juga yang sampai mati tidak memperlihatkan tanda-tanda tegas bahwa bahwa pengaruh asap rokok menghambat kesehatannya.

Yang paling sering disebut adalah asap rokok mengandung ribuan zat kimia, antara lain benzene, carbon monoxide, chromium, cyanide, formaldehyde, lead, nickel, dan polonium. Sebuah penelitian -yang sering dikutip para pegiat antirokok- menyebutkan asap rokok mengandung 4.700 komponen kimia, termasuk 43 unsur yang bisa menyebabkan kanker.

Saat ini kampanye kawasan bebas rokok semakin berkembang. Di New York larangan sudah diperluas ke taman-taman milik umum -yang merupakan udara terbuka- maupun kawasan kenderaan bermotor, dan pantai. Walau di kawasan Asia jumlah perokok masih bertambah, jumlah perokok di sejumlah negara maju berkurang. Statistik Layanan Kesehatan Inggris, NHS, yang dikeluarkan tahun 2010 memperlihatkan pada 2008 tercatat 21% kelompok usia 16 tahun ke atas yang merokok, atau turun dari 39% pada tahun 1980, entah karena semakin sempitnya ruang merokok atau karena kesadaran kesehatan atau kombinasi keduanya.

Terlalu melelahkan mungkin jika pada tahun 2011, masih perlu diperdebatkan lagi secara ilimiah tentang risiko rokok bagi kesehatan, walau tak semua orang -perokok maupun bukan perokok- yang bisa menangkap informasi itu dengan mudah. Termasuklah saya, yang masih yakin bahwa merokok sekali-sekali tidak akan sampai menghancurkan kesehatan -kalau mempengaruhi, ya pasti.

Saya yakin soal pengaruh langsung itu di Bandara Dubai. Ada ruangan berukuran sekitar 2x3 meter dengan enam kursi dan dua asbak tinggi. Letaknya nyaris di bagian ujung terminal. Saya pernah harus berjalan sampai 15 menit dari gerbang keberangkatan untuk menuju ruang merokok itu. Pengap penuh asap sampai saya merasa sesak sendiri dan tak mampu menghabiskan sebatang rokok demi untuk ke luar ruangan. Cuma saya juga yakin banyak orang yang tetap bertahan merokok sampai habis sebatang, atau mungkin menambah satu batang lagi.

Ruangan itu mengingatkan pada film dokumenter Super Size Me karya Morgan Spurlock. Selama satu bulan pada tahun 2003, Morgan hanya makan McDonald -yang pada masa itu disebut makanan sampah dengan kandungan kalori dan lemak yang tinggi. Hanya satu bulan saja, berat badan Morgan naik 11kg dengan kadar kolesterol naik menjadi 230, yang secara umum -tanpa dijadikan pegangan untuk menghindari penyesatan informasi- masuk kategori amat tinggi dengan batas 190 ke atas.

Morgan, yang saat itu berusia 32 tahun, juga mengalami gangguan emosional, disfungsi seksual, dan tumpukan lemak di hati. Untuk kembali ke kondisi awal sebelum menyantap rutin sajian McDonald, dia membutuhkan waktu 14 bulan. Film dokumenter itu berhasil meyakinkan banyak orang bahwa makanan McDonald memang tidak sehat, bukan sekedar saling bantah membantah saja. Besar kemungkinan karya Spurlock menambah tekanan yang semakin serius pada McDonald untuk mulai mengkaji kembali menunya dan citranya.

Seandainya ada yang ingin membuktikan pengaruh asap rokok atas orang yang tidak merokok, maka ruang merokok di Bandara Dubai pasti amat tepat untuk jadi tempat film dokumenter. Seorang perokok dimasukkan dan didudukkan di dalam ruangan itu selama seminggu. Makan dan minum juga di dalam ruangan -termasuk buang air kecil dan besar- demi mendokumentasikan pengaruh langsung dari asap rokok. Sebelum masuk ruangan dicatat parameter kesehatan dan kemudian setelah ke luar dibandingkan.

Tapi saya yakin tak satu orangpun akan bersedia. Morgan Spurlock tidak, dan perokok berat sekalipun tidak akan: asap rokoknya gila-gilan!
***

BACA JUGA

Beri Aku Detakmu -
Suhendri Cahya Purnama

Mari Bercerita Tentang Kakekku - Aminatul Faizah

Di Mana Kau Hujan - Mohamad Ulil Albab

Bang Jeck - Divo Utomo

Kucinta kau, selalu - Victor Immanuel Talahatu

kerbau

ceritanet©listonpsiregar2000