ceritanet   situs karya tulis - edisi 211, senin 29 agustus 2011  sampul
sajak
laporan
cerpen

novel
memoar
catatan

foto

edisi lalu
kirim tulisan
tentang ceritanet
ikut mailing list

cerpen Mari Bercerita Tentang Kakekku
Aminatul Faizah

Hari ini adalah hari kesekian kalinya di tahun-tahun sebelumnya. Hari ketika kakek tercinta pergi untuk selamanya. Aku ingat dengan jelas detik-detik menjelang kepergiannya. Hari itu tepat lima tahun terpenjara di dalam rumahnya sendiri, terpancung dalam ruang sempit terbatas bicaranya. Tapi kakek adalah pria jawa yang welas asih dan sabar. Jika mengingatnya, akupun terlempar kembali ke masa-masa yang sedih namun menentramkan. Aku tak mampu memilih masa kecilku, tapi mungkin aku mampu memilih masa depanku. Itu yang ia ajarkan.
***

Aku menghabiskan masa kecil di Jogja, setelah melalui upacara tedak sinten di rumahnya. Upacara langkah kakiku pertama kali, justru saat kakek tak ada di sana. Ia pergi meninggalkan ibu dan kerabat-kerabatanya untuk bergembira dengan adat yang baginya melanggar aqidahnya.

Aku tinggal bersama kakek sejak itu, dengan ibuku. Kakak sulung ikut ayah di Pudhak. Hubungan ayah dan ibu sedang terganggu. Itulah diinginkan almarhumah nenek: ibu yang berdarah biru tidak akan ia lepaskan dengan seseorang yang bedarah hijau dari kalangan pesantren.

Ibu pulang bukan karena membenci ayah, tapi karena ayah tidak memungkinkan menemani ibu karena alasan pekerjaan. Mungkin, ibu sedikit kesal karena tak punya pilihan selain pulang ke Jogja.

Aku ingat di rumah joglo yang memiliki pendopo luas. Setiap sore aku melihat banyak orang datang ngobbrol panjang dengan kakek juga melihat tarian putri-putri kecil yang belajar melayangkan selendang. Meliuk-liuk seirama angin dan juga udara yang mengelilingiku. Biasanya aku coba mengikuti gerakan mereka meski tidak sempurna. Lalu perempuan tua, salah seorang abdi kakek, akan mengendongku sambil menuju pendopo tengah. Abdi itu, aku lupa namanya. Mungkin Mina atau Dirah, aku tak yakin. Tapi aku samar-samar kedua nama itu serring disebut kakek.

Perempuan tua mengenal kakek dengan baik. Dia tumbuh mnenjadi tua bersama-sama kakek. tapi dengan posisi berbeda. Yang satu dilayani dan yang satu melayani. Tahun demi tahun ia menjadi tahu kopi yang akan diminum kakek pagi hari, jam berapa, dan koran yang harus diletakkan di sebelah kopi, atau ke mana mengembalikan buku yang sudah selesai dibaca kakek dan lebih penting lagi apakah buku itu sudah selesai dibaca atau belum.

Tahun-tahun yang memungkinkan perempuan itu membaca lembaran demi lembaran kehidupan kakek. Dia juga satu-satunya yang membersihkan kursi sebelum kakek mengetik. Kakek selalu mengetik di mejanya, dan sering kulihat kakek mengetik sebelum aku tertidur dan esok paginya ketika aku bangun dia masih di situ. Buatku pekerjaan kakek adalah mengetik.

Itu dulu, sebelum kakek menjadi tahanan rumah, begitulah yang kutahu belakangan.

Tapi waktu itu, aku merasakan keramaian di mesin ketik itu terganti dengan kesunyian. Mati dan hilang. Seolah kakek dari menjadi tiada. Kakek hidup namun ada yang ingin menghapusnya.
**

Kakekku, selalu menunggu sebuah surat yang datang. Banyak surat untuknya, tapi sepertinya bukan yang ia tunggu. Pak pos yang sudah lama mengenal kakek menaruh semua surat untuk kakek di rumah mantan mahasiswanya. Pak pos dan pria itu amat menghormati kakek dan menjalin kerjasama agar orang tidak perlu melihat kakek masih mendapat surat-surat, masih berkomunikasi dengan banyak orang.

Dan aku yang menjadi kuri. Sesekali pria berkacamata tebal -yang kemudian kutahu adalah seorang dosen terkenal- menungguku di luar sekolah. Dengan perlahan dia akan mendekati dan sambil berjalan ke arah mobilnya, dia berbisik: "jangan sampai orang-orang yang menjaga rumah kakek untuk melihatnya. Janji…..”
“Janji.”

Di dalam mobil kami berdua duduk di belakang dan aku taruh tasku di ruang kosong di tengah kami. Perlahan-lahan dia kemudian memasukkan setumpuk kertas ke dalam tasku. Amat halus dan aku yakin supirnya tidak menyadari.

Aku tak mau tahu tumpukan kertas itu. Namun ketika mengambil tas sebelum turun dari mobilnya di jalan belakang rumah, kadang terlihatku beberapa surat serta surat kabar.

Biasanya aku tak langsung menyerahkan kepada kakek. Aku letakkan saja tasku di kursi dekat mesin ketiknya dan pergi bermain di halaman belakang sampai perempuan tua itu memanggilku untuk makan. Kakek sudah menungguku di ruang makan. Aku akan mengambil tasku dulu, masuk ke ruang makan, dan menggantungkannya di sandaran kursi.

Kakek akan mengambil tas itu -kadang dengan ucapan 'kita mau makan nak, tasnya tidak ditaruh di situ' atau tanpa komentar apapun- dan memindahkannya ke meja kecil di sudut ruang makan. Saat itulah, kuduga, kakek mengambil titipan dan langsung menyimpannya di laci meja. Pernah aku mengintati dengan ekor mataku, tapi gerakan kakek amat halus dan amat cepat. Aku hanya mendengar suara laci meja digeser dua kali, buka dan tutup.

Itu bahasa kami. Jika tas kugantung, artinya ada titipan untuk kakek. Tapi jika tak ada titipan untuk kakek, maka tas langsung kuletakkan di atas meja kecil itu.
***

Hari demi hari kakek kehilangan abdi dalem satu per satu dan ibu mulai menjual kue di Malioboro. Aku semakin besar dan semakin memahami situasi yang dihadapi kakek dan ibu, dan juga memahami diriku sendiri.

Setiap pagi kakek mulai membersihkan halaman depan rumah, juga menyapu pendopo. Aku sudah pada usia untuk mengerti ketidakbiasaan dari seorang Raden Mas yang membersihkan rumahnya sendiri.

Kadang aku melihat seorang tetangga yang berhenti di depan rumah sambil membawa sesuatu. Kakek hanya tersenyum. Melihat aku menyaksikan peristiwa itu, kakek berkata padaku: “Aku bangga.karena mereka masih mengabdi padaku. Aku beruntung tak seperti Presiden Soekarno yang dittinggal. Di rumah ini asalkan ada kalian aku merasa cukup.”
***

Suatu malam ketika aku terkena demam tinggi, kakek menjagaku sepanjang hari malam. Ia tak luput dari pandangan mataku ketika aku membuka mata dan juga masih di pandangan mataku sampai aku menutup mata. Seperti di mesin ketiknya dulu. Beberapa hari aku terbaring di tempat tidur, dia mengelus keningku sembari membaca buku cerita berbahasa Belanda.

Tapi tidak pada suatu malam. Ia menatapku mulai ujung kepalaku sampai ujung kakiku.
“Adikku…”
“Ada apa dengan eyang Retno.”

Kakek malah tersenyum kecil dan malam itu ia bercerita kerinduannya pada adiknya yang menikah dengan hakim dari negeri Belanda. Ia menghadirkan Eyang Retno dengan ceritanya, dengan gaya seyumnya, badannya dan juga kebiasaan-kebiasaan uniknya. Lalu kakek bercerita tetang ibuku, nenekku, dan istri-istrnya yang lain. Kakek juga mengulang kebanggannya yang berhasil membuat anak-anaknya menjadi guru atau paling tidak sekolah hingga madrasah aliyah.

Aku tahu saat itu kakek merindukan Eyang Retno, ibu, nenek, dan istri-istrinya. Ia sedang rindu, dan di balik senyum kecilnya aku lihat matanya membasah. Aku tak mau melihat kakek menangis dan kututup mataku. Esok paginya, aku bangun dan kakek sudah di pandanganku kembali. Tapi tidak menangis. Dia tesenyum riang.
***

Malam berikutnya kakek berkali-kali menatap ke arah jam dinding tua di kamarku. Seolah waktunya telah habis. Di malam itu kakek bercerita lagi tentang banyak hal, tidak membacakan cerita berbahasa Belanda. Kakek bercerita tentang masa sekolahnya, masa cintanya dengan nenek, juga istri-istri lainnya, masa ia menjadi bapak dan mengeluh kerepotan. Kakek bercerita panjang, seperti mengurai benang-benang halus dari rentangan kehidupannya. Tak ada benang yang terlewatkan.

Saat kusentuh bajunya, aku sadari baju itu tak terpakai dengan baik. Ada kancing baju yang terlewati. Itu bukan kakekku yang biasanya. Aku tahu kakek tak sepenuhnya kakek di malam itu. separuh jiwanya pergi, entah kemana. Untuk pertama kalinya aku melihat kakek tak utuh lagi. Kesedihan, kerinduan dan juga kekosongan, dan keterbatasannya untuk menulis dan berbicara seolah membumbung, memuncak, dan menghilang dengan gelegar.

“Jadilah anak baik ………. !”
“Ngeh.”

Aku belum jatuh tertidur tapi kakek sudah berjalan meninggalkanku. Aku membisu. Aku tahu kakek suika salat malam. Aku tak pernah melihatnya. Badanku terasa segar dan hidup. Aku bangkit dari tempat tidur dan mengikuti suara takbir yang disenandungkannya, yang makin menguatkanku.

Kulihat kakek salat malam, menghilang karena menyatu dengan kegelapan dan takbir malam. Kakek telah melakukanya malam demi malam dan dia sudah menjadi bagian utuh dari salat malamnya.

Kakek terdiam sangat lama setelah wirid. Dan dilihatnya aku.
“Chocun pour soi “

Aku menatapnya sambil meninggikan alisku, bingung dengan kalimat asing yang tak aku mengerti. Lalu aku mendekat, berharap kakek mengulangnya dengan bahaasa Indonesia.

“Kakek hanya bercanda,” katanya sambil tersenyum.

Ditariknya aku duduk di sampingnya, dan digenggamnya tanganku. Tangannya dingin dan ketika aku tanyakan ia hanya tersenyum. Lalu senyuman itu memedar dan menghilang untuk selamanya.
***

Mari kita bercerita tentang kakekku sebelum malam itu. Jangan sesudahnya, aku tidak mampu lagi. Terlalu pedih jika aku bercerita tentang hari sesudah kepergiannya. Hari itu juga segerombolan pria bringas menyerbu masuk ke dalam ruang kerja kakek dan membanting mesin ketik kakek, membalikkan kursi dan meja kakek, juga membakar buku-buku. Tak ada yang tersisa, selain penyesalanku karena aku tak pernah tahu apa yang ditulis kakekku.

Pesan-pesan itu menghilang bersama abu dan debu.

Aku kehilangan rumah kakek, kehilangan masa kecilku dan juga Jogjaku. Kutuliskan kenanganku untuk kakek pada malam yang bringas itu.
Aku rindu, aku rindu ketikanmu.
Aku rindu saat ceritamu.
Aku rindu
Aku ingin bersamamu, walau hanya semalam di Yogya.
Aku mencintaimu……Selamanya, kau tak pernah mati.
Chocun pour soi, semua orang memikirkan dirinya sendiri, setiap orang memiliki kebebasan dirinya sendiri.
Dan kau akan selalu ada ketika aku memikirkan diriku, ketika aku memiliki kebebasanku.

Mari bercerita tentang kakekku. Dia ada di Jogjakarta.
***

BACA JUGA

Di Mana Kau Hujan - Mohamad Ulil Albab

Bang Jeck - Divo Utomo

Kucinta kau, selalu - Victor Immanuel Talahatu

Rusak Susu Sebelanga Karena Setitik News of The World - Liston P Siregar

oxford

ceritanet©listonpsiregar2000