ceritanet   situs karya tulis - edisi 210, senin 8 agustus 2011  sampul
sajak
laporan
cerpen

novel
memoar
catatan

foto

edisi lalu
kirim tulisan
tentang ceritanet
ikut mailing list

cerpen Kucinta kau, selalu
Victor Immanuel Talahatu

Rambut lurus panjangku terbuai angin. Aku sedikit terhentak.

Sebenarnya, jauh di dalam hati, aku tidak nyaman dengan penampilanku ini. Aku menanggalkan  semua ego hanya untuk dia. Terkadang aku tersenyum mentertawakan diri sendiri saat pikiran terbang melayang menembus dimensi waktu kembali pada masaku menikmati hari-hari rutin. Lompatan-lompatan di bawah ring bola basket dan lantai disko dengan lampu warna warni yang menghipnotisku membentuk hentakan-hentakan tubuh menjadi karya agung sang pencipta.

Sangat ingin aku kembali menerobos dimensi waktu ke masa lalu, tapi pada saat yang sama kurasakan beban besar di kedua kaki dan syaraf-syaraf otakku.

Mengenang rambut pendek dan jins kumal seperti melihat foto-foto bersejarah yang sudah pudar. Jauh dan amat berjarak dengan kekinian. Aku tersulap menjadi perempuan berambut panjang yang bergerak anggun bak putri salju di dongeng. Transformasi yang tak pasti untuk kusesali juga tak pasti akan kusyukuri.

Transformasi yang berupa sebuah kenyataan. Kenyataan cinta.

Dia telah mengambil seluruh nafas dan seluruh jiwa untuk melayang bersamanya. Seperti seorang pangeran dari kerajaan cinta, dia merasuk ke seluruh dengus nafas. Dan cintaku tak mau bertoleransi dengan apapun, seorang pangeran dari kerajaan cinta harus bertemu dengan seorang putri dari kerajaan cinta lain.

Lalu kunikmati senyumannya, kuserap kesabarannya, juga kuendapkan puisi-puisi cintanya yang tertulis di kertas koran, bungkus kado, sapu tangan kusut, atau kantung plastik. Puisi-puisi yang membawaku terbang melayang ke surga cinta, meninggalkan percik-percik duniawi yang melelahkan.

Kurindukan selalu belaian di rambutku, kudekap kehangatan tubunya, kuendapkan kecupannya yang menggetarkan miliaran titik poriku. Detak-dedak cinta dan birahi yang membuatku lumpuh tidak berdaya. Aku menjadi apa yang dia mau.

Dan ketika kegelisahan muncul, aku tak berani menjawabnya: "Apakah aku bisa hidup tanpa dirinya?"

Aku meronta. Aku menangis. Aku marah.

Terlintas sebuah dongeng tentang seorang putri dari kerajaan cinta terdampar di pulau di ujung dunia. Hanya ada putri cantik yang anggun. Putri hanya sendiri. Seekor katak pun tiada, yang bisa melompat dari sihirnya untuk menjelma jadi pangeran dari kerajaan cinta. Sepi dan dingin, putri itu.

Aku sedih, amat sedih.

Separuh jiwaku telah terbang pergi bersamanya. Tak bisa kurengut lagi jiwa itu.

Mungkin aku sudah terlalu lama menutup mata dan membiarkan hati untuk memandu detak-detak nafasku terombang-ambing dalam surga cinta. Telah lama pula waktu berlalu dengan mulutku yang tersumpal cinta sambil kutulikan telinga dari dari suara-suara dunia lain. Dan aku tak bisa lagi membuka mata, melebarkan telinga agar bisa menjejakkan kedua kaki ke lantai langit. Perempuan dari kerajaan cinta yang hilang dalam ilusinya sendiri, ketika pangeran cintanya pergi meninggalkanya.

Aku tersentak lagi. Rambut lurus panjangku terbuai angin.

Aku tidak pernah nyaman dengan rambut panjangku. Inti otakku mengingatkan bahwa tubuh dan ragaku masih sepenuhnya milikku. Kuangkat tangan menarik ujung rambutk,u meyakinkan kalau aku masih bisa merebut kembali separuh jiwa yang sempat raib. Tapi aku tak mau dan kubenamkan kedua kaki lebih jauh ke dalam cintaku. Kuterbangkan hati melayang-layang di surgaku.

Setahun sudah dan aku tetap mencintaimu. Kan selalu kubawa semerbak cinta segar setiap kudatang mengunjungimu. Tak akan pernah kubiarkan cintaku basi, layu, pudar, luntur.

Kusentuh bekas tetes air mata yang mengering di atas pusaramu. Pangeran cintaku yang jauh di alam seberang namun masih terdengar puisi-puisi cintanya, terasakan kecupnya, dan ternikmati senyumannya.

Rambut lurus panjangku kembali terbuai angin. Kubelai dengan tangan kiriku sambil kutelusuri nama di nisan dengan telunjuk kanan: kucinta kau, selalu.
***

BACA JUGA

Bang Jeck - Divo Utomo

Rusak Susu Sebelanga Karena Setitik News of The World - Liston P Siregar

Segenggam Biji untuk Kakek Bumi - Aminatul Faizah

Indonesia Satu, Dua, Tiga - Yudistio Ismanto

Negeri Di Balik Purnama - Suhendri Cahya Purnama

Aku - Rama Yunalis Oktavia

ramsgate

ceritanet©listonpsiregar2000