ceritanet
situs nir-laba untuk karya tulis
edisi 20, Jumat 17 Agustus 2001
___________________________________________________

novel Dokter Zhivago 20
Boris Pasternak (alih bahasa Trisno Sumardjo)
disalin sesuai aslinya dari terbitan Djambatan, Maret 1960, dengan penulisan ejaan baru

Mereka mendengar bahwa barikade mungkin akan digempur dan rumah mereka mungkin dalam bahaya. Terlambatlah untuk tinggal di rumah kawan-kawan atau di bagian lain dalam kota Moskow, sebab distrik mereka telah dikepung ; mereka terpaksa berlindung dekai dari situ. Yang hendak dituju ialah Hotel Montenegro.

Ternyata banyak orang lain yang mengalami keadaan yang sama telah mempunyai tujuan yang sama juga. Hotel inipun penuh tapi demi persahabatan lama mereka dijanjikan akan mendapat tempat tidur yang dibentangkan di lantai gudang kain.

Agar tak menarik perhatian dengan menjinjing kopor-koopor, segala barang keperluan dikumpul dalam tiga bungkusan; tapi dari hari ke hari kepindahan mereka tertunda-tunda.

Menurut kebiasaan lama, bengkel masih buka lama sesudah permulaan pemogokan umum. Tapi pada suatu senja dingin yang menjemukan, berbunyilah genta di pintu. Ada orang datang untuk menuntut dan memprotes. Majikan diminta keluar. Fetisova menggantikannya untuk meredakan keributan. Beberapa saat sesudah itu dipanggilnya para penjahir ke serambi depan untuk diperkenalkan kepada tamu. Tamu ini keliling menjabat tangan canggung tapi penuh perasaan, lantas pergilah ia, rupa-rupanya setelah ada yang diurusnya dengan Fetisova.

Para penjahit kembali ke kamar kerja dan mulai mengenakan kain leher serta mantel musim dingin yang usang.

"Ada apa?" tanya Nyonya Guishar, buru-buru masuk.
"Mereka suruh kami ke luar, Nyonya; kami mogok."
"Tapi mengapa... Apa kesalahanku pada kalian?" Nyonya Guishar menangis.
"Jangan begitu, Amalia Karlovna. Kami tak apa-apa terhadap kamu. Kami banyak berhutang budi. Soalnya bukan antara kamu dan kami. Semua orang berbuat yang sama, seluruh dunia. Kita tak bisa melawan semua, bukan?"

Mereka semua pergi, juga Olya Demina, bahkan Fetisova yang ketika pamit berbisik pada Nyonya Guishar bahwa ia hanya memerankan pemogokan untuk menolong perusahaan serta pemiliknya. Nyonya Guishar putus asa.

"Tak tahu budi sama sekali! Tertipu benar aku oleh orang-orang ini! Berlimpah-limpah kebaikanku pada anak gadis itu. Nah bolehlah dia dimaafkan, sebab masih kanak-kanak, tapi penenung tua itu?"
"Mereka tak boleh mengecualikan ibu sendiri, ibu tak mengerti." Lara mencoba membujuknya. "Tak ada yang menaruh dendam pada ibu. Malah sebaliknya. Apa yang terjadi sekarang, dilakukan atas nama kemanusiaan, guna membela yang lemah, untuk menolong perempuan dan anak-anak. Begitulah sebetulnya. Jangan geleng-geleng kepala. Akan ibu alami, suatu hari nasib ibu dan aku akan lebih baik karena ini."

Namun ibunya tak mengerti. "Selalu begini," isaknya. "Justru kalau aku tak dapat berpikir, datanglah kau dengan sesuatu yang mengherankan; sedang orang menggencet aku, kau bilang itu menolong. Wah, rupanya aku kehilangan akal."

Rodya lagi di sekolah. Lara dan ibuny amundri mandir sendiri di rumah kosong. Lebuh tak berlampu memandang nanar ke dalam kamar dan kamar melampiaskan pandangannya.

"Mari ke hotel bu, sebelum gelap," mohon Lara. "Marilah, bu, Jangan tunda, pergilah kita sekarang."

Mereka memanggil juru kunci. "Filat, Filat. Bawa kami ke Hotel Montenegro, Filat sayang."
"Baik nyonya."
"Bawa bungkusan-bungkusan ini. Dan jagalah rumah ini, Filat, sampai beres nanti. Harap jangan kau lupakan makanan burung buat si Kyril Modestovich dan gantilah airnya. Inilah kunci rumah. Cukuplah begitu, kukira, datanglah menengok kita."
"Baik, nyonya."
"Terimakasih Filat. Tuhan melindungimu. Nah duduklah kita*, lalu berangkat nanti."

Waktu mereka keluar, hawa segar seakan asing, seolah mereka tadinya sakit berminggu-minggu. Bunyi-bunyi keras, bulat seperti di asah di meja putar, bergemulung penuh gema lembut di udara ikal, beku, dan bersih. Tembakan dan salvo meletup, meledak dan berdebuk, hingga jarak dibuatnya pipih seperti apam.

Sungguhpun Filat mencoba meyakinkan Lara dan Amali bahwa tembakan-tembakan itu benar-benar berpeluru, namun mereka tak percaya.

"Kau tolot, Filat. Pikirlah sendiri. Tak mungkin berpeluru sebab tak kelihatan orang menembak. Siapa yang menembak menurut kau? Roh kudus barangkali Tentu tak pakai peluru."

Pada sebuah simpangan jalan mereka ditahan oleh sepatroli Kosak yang menggeledah dan secara kurang ajar menjamah-jamah mereka dari kepala sampai kaki. Pici Kosak yang tak berpucuk itu diikat ke dagu, tergelimpang dengan manisnya ke kuping dan membuat tiap mereka buta pada mata yang sebelah.

"Bagus sekali," pikir Lara sambil berjalan terus. Ia tak akan berjumpa Komarovsky, selama distrik dipisahkan dari kota selebihnya. Ibunya tak memungkinkan dia melepaskan Komarovsky. Ia tak dapat mengatakan : 'Harap ibu tak bergaul lagi dengan dia.' Kalau itu dibuatnya, semuanya akan terbuka.

Tapi apa salahnya? Mengapa ia takuti itu? O Tuhan! Apa saja boleh terjadi, asal itu berakhir!

Allah! Allah! Ia akan jatuh pingsan lantaran mual. Apa yang barusan diingatnya? Apa nama gambar yang mengejutkan itu? Ada orang Romawi gendut di dalamnya. Tergantung di kamar pribadi pertama, tempat mulai semua ini. "Wanita jambangan?" Itu dia. Pastilah gambar termashur. Orang Romawi gendut itu sedang menentukan pilihannya antara si wanita dan jambangan. Ketika ia mula-mula melihatnya, ia masih belum wanita, ia belum dapat dibanding dengan karya seni semahal itu. Itu kelak mendjadi kenyataan. Meja diatur indah seperti untuk pesta.

"Kemana kau lari sekencang itu? Aku tak dapat mengejarmu," sengal Nyonya Guishar. Lara jalan cepat. Tenaga tak dikenal mendorongnya, ia seakan melangkah dalam udara, dijulang oleh daya pendorong yang gagah itu.

"Bagus sekali," pikirnya, mendengarkan letupan bedil. "Bahagialah yang tertindas. Bahagialah yang tertindas. Bahagialah yang ditipu. Tuhan mempercepat peluru. Mereka dan aku satu hati."
***

* Adat di Rusia ; sebelum pindah atau bepergian, orang duduk sebentar agar selamat.

ceritanet
kirim karya tulis
©listonpsiregar2000