ceritanet
situs nir-laba untuk karya tulis
edisi 20, Jumat 17 Agustus 2001
___________________________________________________


esei
Korupsi Terhadap Republik
B. Herry Priyono
Istilah korupsi berakar dari bahasa Indo-Eropa, yang pada gilirannya berasal dari kata Latin corrumpere --menghancurkan, merusak, memalsukan, menyuap. Pengertian ini mencakup benda, unsur kimiawi, kualitas orang, maupun tindakan. Dari kata itu terbentuk kata corruptio, yang terutama menunjuk pada tindakan maupun kondisi. Mungkin kita bisa mulai dari satu pertanyaan sederhana ; kalau kita bicara korupsi sebagaimana kita pahami, yang dimaksud 'korupsi terhadap apa dan siapa?' Tentu, asal-muasal istilah tidak menjelaskan mengapa kata itu sekarang digunakan. Namun sekaligus juga bisa tetap menjadi pedoman bagi arti yang dimaksud. Dalam hal ini, pertanyaannya ialah : lewat mana istilah korupsi menjadi sentral dalam kehidupan sosial, ekonomi-politik, hukum, dan sebagainya?
selengkapnya

laporan Air Wangi Gunung Kapur
Yayak Kencrit
Diajak aku suatu hari, tahun 1987, oleh Syeh Cempe Lawuwarta, seorang seniman jalanan, bekas anak buah Bengkel Teater, untuk menengok gurunya yang juga lagi ketitipan seorang kawan yang tergegar jiwanya akibat tekanan selama aktivitas kerja sosial politiknya di Lombok. Aku turuti saja.Menuju Pacitan selewat Wonogiri, mulailah kami memasuki daerah perbukitan kapur. Lepas dari jalan aspal, mulai masuk jalan tanah atau batu. Bayangkan ketidaknyamanannya, karena pantat tak pernah nempel nyenyak di jok mobil. Tanganpun tak pernah lepas dari pegangan pengaman, bila tak mau kepala terbentur atap. Goyang sana, goyang sini. Hanya beberapa tempat hijau. Daerah yang berpenduduk ditandai dengan tanaman singkong dan jagung atau ladang-ladang kering. Meski tampak beberapa ternak, kebanyakan lebih sering menunjukkan sebentuk kehidupan yang berat. Selebihnya tanah coklat dan batu kapur. Di beberapa tempat agak terhibur melihat pohon-pohon jati mulai berbunga. Meski naik mobil, melelahkan benar perjalanan itu.
selengkapnya
penulis 20

memoar Comandante Gusmao 2
Mohamad Susilo

Dili adalah kota dagang. Tak seperti desa kelahiran saya, Dili panas, berdebu, dan penuh dengan babi yang berkeliaran di sana sini. Ketika kali pertama tiba di kota ini, saya tiba di sebuah gubuk kayu kecil. Gubuk ini terletak di sebelah toko milik pedagang Cina. Keluarga Cina ini menjual minyak, kue yang terbuat dari nasi goreng, dan pakaian anak-anak. Kue dan pakaian ini dibuat oleh istri pedagang Cina. Dia gemuk dan suka mengenakan celana longgar yang terlihat kotor. Mungkin sabun terbaik dari minyak kopra Baucau tak bisa membersihkan celana biru gelap tersebut. Suami istri Cina ini mempunyai pelayan yang baik hati. Dialah yang mengijinkan kami membentangkan tikar sekedar untuk beristirahat. Dia juga memberi kami air yang diambil dari sumur di belakang rumah. Malam itu, bersama bapak, saya tidur di beranda berdebu, berbagi tikar, roti, dan sardin. Sebelum tidur, sambil bergumam, Bapak sempat mengatakan ; "Paling tidak, kita lebih berbudaya dibandingkan dengan orang-orang Cina.''
selengkapnya

novel Dokter Zhivago 20
Boris Pasternak (alih bahasa Trisno Sumardjo)
Mereka mendengar bahwa barikade mungkin akan digempur dan rumah mereka mungkin dalam bahaya. Terlambatlah untuk tinggal di rumah kawan-kawan atau di bagian lain dalam kota Moskow, sebab distrik mereka telah dikepung ; mereka terpaksa berlindung dekai dari situ. Yang hendak dituju ialah Hotel Montenegro. Ternyata banyak orang lain yang mengalami keadaan yang sama telah mempunyai tujuan yang sama juga. Hotel inipun penuh tapi demi persahabatan lama mereka dijanjikan akan mendapat tempat tidur yang dibentangkan di lantai gudang kain. Agar tak menarik perhatian dengan menjinjing kopor-koopor, segala barang keperluan dikumpul dalam tiga bungkusan; tapi dari hari ke hari kepindahan mereka tertunda-tunda.Menurut kebiasaan lama, bengkel masih buka lama sesudah permulaan pemogokan umum. Tapi pada suatu senja dingin yang menjemukan, berbunyilah genta di pintu.
selengkapnya
©listonpsiregar2000 ceritanet