ceritanet
situs nir-laba untuk karya tulis
edisi 20, Jumat 17 Agustus 2001
___________________________________________________

memoar Comandante Gusmao 2
Mohamad Susilo

Dili adalah kota dagang. Tak seperti desa kelahiran saya, Dili panas, berdebu, dan penuh dengan babi yang berkeliaran di sana sini. Ketika kali pertama tiba di kota ini, saya tiba di sebuah gubuk kayu kecil. Gubuk ini terletak di sebelah toko milik pedagang Cina. Keluarga Cina ini menjual minyak, kue yang terbuat dari nasi goreng, dan pakaian anak-anak. Kue dan pakaian ini dibuat oleh istri pedagang Cina. Dia gemuk dan suka mengenakan celana longgar yang terlihat kotor. Mungkin sabun terbaik dari minyak kopra Baucau tak bisa membersihkan celana biru gelap tersebut. Suami istri Cina ini mempunyai pelayan yang baik hati. Dialah yang mengizinkan kami membentangkan tikar sekadar untuk beristirahat. Dia juga memberi kami air yang diambil dari sumur di belakang rumah. Malam itu, bersama bapak, saya tidur di beranda berdebu, berbagi tikar, roti, dan sardin. Sebelum tidur, sambil bergumam, Bapak sempat mengatakan ; "Paling tidak, kita lebih berbudaya dibandingkan dengan orang-orang Cina.''

Secara alamiah, saya sudah merasa menjadi seorang pemberontak. Saya sering dipukul ketika bersekolah dasar. Saya merasa tak lebih pandai daripada murid-murid sekolah lanjutan. Di seminari, rosario dan doa-doa membuat saya tertidur. Nilai tingkah laku saya tak lebih dari 13 dari poin tertinggi 20. Saya tak pernah mendapat nilai tertinggi.

Meski begitu, saya mempunyai pendeta yang sangat baik hati. Namanya Romo Isac. Bila bapak membuat saya bisa membaca, Romo Isac membuat saya lancar berbahasa Portugis. Saya terkadang mencuri beberapa copy Noticias de Portugal (berita-berita Portugal). Saya bisa betah berjam-jam membaca Noticias de Portugal di salah satu ruang milik Romo Zuloaga, rektor berkebangsaan Spanyol. Dia juga sangat ingin melihat saya menjadi pendeta. Seminari, bagi sedikit orang, sama dengan penjara. Para remaja mengalami kesulitan-kesulitan seksual di masa pubertas mereka. Bisa dimaklumi. Sebab dalam masa seperti ini mereka melalui fase tersebut tanpa kehadiran perempuan. Akhirnya saya memutuskan untuk keluar dari seminari. Ketika itu, bapak sudah dipindahkan ke Manatuto. Saya tidak tahu apakah keputusan saya mengejutkan bapak atau tidak.

Saya juga tidak tahu secara persis perkembangan yang terjadi di luar seminari. Tentu saja, kehidupan telah berubah. Kehadiran saya di rumah menambah beban yang harus dihidupi. Untungnya, saudara perempuan saya, Felismina, bekerja sebagai guru taman kanak-kanak. Gaji Felismina sekitar 300 escudos. Sementara gaji bapak 700 escudos. Bapak dan ibu harus pandai-pandai mengatur agar bisa menghidupi keluarga yang sekarang terdiri atas dua anak laki-laki dan enam perempuan. Seorang paman menulis surat ke bapak dan menawarkan kepada saya untuk tinggal di rumahnya di Dili. Saya menerima.

Tak Ingin Jadi Tentara
Di Dili, pagi hari saya bekerja sebagai tukang gambar di Missao de Estudos Agronomicos do Ultramar (MEAU). Sore hari saya mengajar bahasa Portugis di Sekolah Cina. Ibu sangat baik hati. Selama setahun ia menabung sehingga tahun berikutnya saya berkesempatan mengikuti sekolah lanjutan. Karena sempitnya waktu, saya mengambil kelas malam. Saya juga mencoba mencari kerja.

Tak lama kemudian, saya diterima sebagai tukang ketik di kantor pelayanan kesehatan. Beberapa teman, setelah belajar setahun di seminari, masuk ke Milician Sergeant's Course. Saya tidak. Saya tak ingin menjadi tentara. Sekali lagi, saya balik ke Manatuto. Keluarga saya masih seperti dulu. Tetap harus berjuang keras agar bisa makan. Ayah tetap sibuk mengajar dan tak sempat berencana untuk mempunyai ladang yang bisa ditanami jagung. Di Manatuto, saya biasa mencari kayu bakar di padang rumput bersama dengan saudara perempuan. Saya bermimpi mempunyai kuda dan ratusan ternak. Persis seperti koboi yang saya intip melalui lubang dinding sebuah gedung bioskop.

Saya kembali lagi ke Dili. Dua teman saya diterima sebagai pegawai pemerintah. Pada tiga bulan pertama, mereka mendapatkan 30 escudos per hari. Saya ditawari juga tapi menolak masa percobaan karena sebelumnya telah bekerja selama enam bulan tanpa peningkatan gaji yang berarti. Bagaimanapun, pada akhirnya saya menerima juga tawaran tersebut.

Tiga bulan berikutnya, saya tak mengalami peningkatan gaji. Sedangkan yang lain mendapat promosi dan mendapat gaji lebih. Saya mulai datang terlambat dan pulang kantor lebih awal. Tujuan saya adalah agar upah saya sesuai dengan jam kerja. Atasan saya marah dan minta saya berperilaku seperti semula. Saya menyarankan teman-teman untuk membuat surat protes karena perlakuan kantor tidak adil. Sayang, teman saya tidak mau. Kemudian, saya langsung menuju kantor bos dan mengancam akan menghajar bila kantor tetap memperlakukan saya secara tidak adil. Hasilnya? Saya dipecat.

Saya juga terpaksa meninggalkan kelas malam karena tak bisa membayar iuran. Di antara perasaan pahit dan marah, saya mengenang bagaimana saya harus membungkuk memberikan hormat dan menelan kalimat-kalimat yang ditujukan para kulit putih kepada saya. Saya akhirnya sadar, teman-teman saya begitu mudah menjadi pegawai pemerintah karena mereka anak-anak staf. Kelas masyarakat yang mempunyai keterkaitan darah dengan Portugis dan bisa berbahasa Portugis dengan aksen yang benar.

Jadi Tentara Portugal
Kehidupan saya ternyata makin sulit. Suatu hari, saya menerima pengumuman dari kantor administrasi lokal. Dan, pada Agustus 1968, saya mendaftar menjadi anggota tentara Portugal. Saya tak bisa menghindari wajib militer.

Pada tahun 1969, saya menikahi tunangan saya, Emilia, di catatan sipil. Saya tak menikah di gereja karena sebelumnya bertengkar dengan seorang pendeta. Beberapa waktu setelah saya menikah, mertua melarang hubungan kami. Saya tak tahu penyebabnya. Apa karena saya seorang tentara? Karena saya miskin? Atau karena saya asli Timor? Hanya dia yang tahu.

Lepas dari kondisi sulit ini, saya melihat perlakuan kolonial yang begitu jelek. Saat itu keinginan kami hanya satu: bangsa kulit putih harus segera hengkang dari Timor Timur. Saya ingin melihat diri saya bebas untuk tidak menghormat orang kulit putih. Saya tak ingin mengabdi kepada rezim yang hanya bisa membungkam mulut-mulut kami dengan sekerat roti. Saya ingin bebas. Setelah Portugal memulai proses dekolonisasi pada Bulan April 1974, dua partai utama muncul; UDT dan ASDT --yang kemudian menjadi Frente Revolucionara do Timor Leste Independente atau Fretilin. Kedua partai ini mendukung Timtim sebagai negara tersendiri.


Jati Diri Orang Timor
Tanggal 7 Desember 1975, sekitar pukul 03.00, saya terbangun oleh suara yang sangat gaduh. Terdengar suara pesawat-pesawat militer meraung-raung di udara menuju timur menyisir tepi pantai. Berikutnya, kami dikejutkan oleh berita tentara Indonesia telah mendarat di Dili. Hari berikutnya, dengan mengendarai Land Rover tua, kami menuju sebuah desa di gunung di Balibo. Di desa ini, Nicolau Labato memegang komando. Kami memutuskan untuk mengawasi dan mencermati keadaan Dili.

Dari balik pohon, dengan sebuah teropong, kami melihat jumlah tentara makin banyak. Bunyi rentetan senjata yang diarahkan ke gunung-gunung terus terdengar, sementara mereka memenuhi kapal kargo mereka dengan barang-barang dari gudang Bea Cukai. Hari-hari berikutnya saya melihat makin banyak orang berlari menuju gunung. Sama sekali tak ada ketakutan di mata mereka. Meski jiwa mereka terancam, saya masih bisa melihat mereka tersenyum.

Keesokan harinya, bersama dengan Sera Key, saya menuju rumah sakit Dili untuk mencari sanak saudara. Tidak ada jejak. Beberapa teman mengatakan, mereka mungkin berlindung di konsulat Australia. Tetapi, seorang teman yang lain mengatakan bahwa mereka sudah tak lagi berada di sana. Di tengah kebisuan, saya menatap Sera Key. Tak ada kata yang terucap. Di saat seperti ini, kata-kata seolah kehilangan makna. Kata-kata hanya akan menambah ketidakberdayaan.

Tentara Indonesia terus bergerak ke barat dan siap di Taci Tolu. Nicolau meminta saya dan Fera Lafaek, komandan Fretilin lain, pergi ke Tibar untuk menjaga moral Fretilin. Ketika itu, markas dipindah ke Maubise.

Situasi sungguh sulit. Di satu sisi, kami memerlukan komando yang kuat, di sisi lain kami tak berpengalaman. Kami mendengar kabar, musuh tengah menuju Aileu, sebuah kota berjarak 20 kilometer dari Dili. Mereka juga telah melaju ke Maubise. Saya menuju Manatuto ditemani Fera Lafaek. Di sinilah saya mempunyai rasa keterikatan yang amat kuat dengan tanah Timor.

Ketika sampai, hari masih pagi dan kabut menyambut kami. Harmoni muncul ke tengah-tengah pagi yang dingin. Terdengar suara-suara masyarakat seolah menyiratkan semangat muda. Inilah pertemuan saya dengan masyarakat tempat saya bermuasal. Agak pahit memang menemukan jati diri di tengah meletusnya perang. Saya pergi ke Laclubar, Cribas, Marabin, dan Manatuto untuk memimpin sebuah peleton. Terus terang, saya malu menyebut berasal dari Manatuto karena kota ini telah menyerah kepada musuh.

Bulan Mei 1976, terjadi pertemuan bersejarah. Soalnya, kami memutuskan untuk membentuk organisasi yang rapi dan menentukan kegiatan-kegiatan untuk melawan musuh. Inilah langkah awal untuk membebaskan tanah Timor. Sejarah kami juga dibentuk oleh konsep, ide, dan perjuangan. Dalam sebuah pertemuan selanjutnya, banyak tentara Fretilin ditunjuk menjadi pengurus komite sentral. Kami semua tahu, ini dilakukan untuk menghindari pemberontakan oleh sayap tentara dan agar komando militer ada di satu tangan. Konsep-konsep yang muncul dalam pertemuan ini, bagi saya, merupakan sesuatu yang baru. Saya masih ingat, sebuah kelompok mengemukakan tentang konsep negara. Seorang teman mengatakan, itu adalah marxisme.

Setelah perayaan 20 Mei, hari kelahiran Fretilin, Xavier do Amaral, presiden pertama Timtim, hengkang ke Remexio, kota di tenggara Dili, meninggalkan pasukan. Jelas, dia kehilangan kontrol karena memang tak tahu banyak soal politik --setahun kemudian, terbetik kabar, Xavier menyerah kepada Indonesia. Kami tetap berjuang di jalur tentara dan sebagian besar bebas dari politik.

Tak lama kemudian saya dipindah ke daerah Viqueque untuk mendukung Solan, tambahan Fretilin di Los Palos. Jujur saja, saya tak pernah berpartisipasi dalam mengerahkan massa. Saya tak pernah berbicara di depan banyak orang. Saya akan belajar. Musuh telah menguasai Bacau-Viqueque.

Awal Juli, saya dinominasikan menjadi wakil sekretaris daerah. Saya diminta bergerak ke timur. Saya protes karena merasa masih harus belajar banyak. ''Pergi dan laksanakan tugas,'' kata teman-teman. Saya pun melakukannya. Tetapi, saya berjanji kepada diri saya sendiri untuk tidak berbicara soal isme-isme di depan banyak orang, meskipun saya paham soal tersebut. Dan, saya juga diyakinkan bahwa persoalan politik tidak harus esoterik. Tidak harus hanya diketahui oleh sebagian kecil orang saja. Inilah langkah pertama saya belajar politik.
***

Memoar ini disadur dari Good Weekend, suplemen sebuah harian terbitan Australia.

ceritanet
kirim karya tulis
©listonpsiregar2000