ceritanet   situs karya tulis - edisi 209, jumat 15 juli 2011  sampul
sajak
laporan
cerpen

novel
memoar
catatan

foto

edisi lalu
kirim tulisan
tentang ceritanet
ikut mailing list

komentar Rusak Susu Sebelanga Karena Setitik News of The World
Liston P Siregar

Akhirnya konglomerat media terbesar dunia News Corporation mundur dari upaya pembelian total saham jaringan TV satelit Inggris, BSkyB –empat hari setelah rajanya, Rupert Murdoch, tiba di London untuk mencoba memadamkan penyadapan telepon oleh salah satu ‘recehan’nya: mingguan kuning, News of The World (NoTW). Ternyata penutupan NoTW –yang diumumkan sebelum Murdoch tiba- tidak cukup menjadi karpet merah bagi Murdoch. Tiba di London, raja media berusia 80 tahun itu masih harus bergulat di balik layar untuk menyembunyikan 'kepanikan.'

Adalah Deputy Chairman News Corp, Chase Carey, yang mengumumkan dibatalkannya rencana akuisi BSkyB atau British Sky Broacasting, jaringan TV berbayar terbesar di Inggris dengan 10 juta pelanggan.  "Kami yakin usulan akuisisi BSkyB oleh News Corporation akan memberi keuntungan bagi kedua perusahaan, namun menjadi jelas bahwa hal itu amat sulit dicapai dalam iklim seperti ini.”

Mundurnya News Corp dari BSkyB kontras dengan suasana kedatangan Murdoch ke London, pekan lalu. Walau skandal penyadapan telepon sudah meledak, dia menyempatkan diri dulu mendampingi istrinya Wendi untuk tayangan eksklusif film Snow Flower and the Secret Fan, Jumat 8 Juli, di hadapan sekitar 100 undangan di Sun Valley Opera House, Idaho. Karya Wendi Murdoch baru beredar 15 Juli, ketika suaminya mungkin tetap harus menyiapkan diri menjawab pertanyaan para anggota parlemen Inggris –walau sebagai warga negara Amerka, dia boleh saja menolak untuk datang.
 
Baru keesokan harinya Murdoch terbang dengan Boeing 737 pribadi -yang dilengkapi ruang rapat dan tempat tidur- dan tiba di London, Minggu 10 Juli, bersamaan dengan terbitan terakhir NoTW, yang sudah berusia 168 tahun.

Setibanya di London, dia tampil ke depan umum bersama Rebekah Brooks, eksekutif puncak News International –induk perusahaan, NoTW. Ketika ditanya wartawan prioritas kunjungannya ke  London, Murdoch tesenyum ringan dan menunjuk Rebekah Brooks sambil menjawab “dia.” Sebelumnya dia memang mengeluarkan penyataan Rebekah Brooks –yang didesak mundur oleh sejumlah orang- tetap pada jabatannya.
 
Apakah itu mencerminkan ketenangan dari seorang taipan global -yang memiliki beragam jenis media mulai dari Australia di timur hingga Kanada di utara dengan total pendapatan tahunan diperkirakan US$32 miliar atau sekitar sepertiga RAPBN Indonesia- atau ketidakpahaman atas skandal yang sedang mengancam kerajaannya?

Kotak pandora
Apapun, nasi sudah menjadi bubur. Peluang untuk sepenuhnya menikmati keuntungan sebelum pajak sebesar US$465 juta pada semester pertama 2010 yang diraih BSkyB –yang 39% sahamnya sudah dimiliki Murdoch- musnah.

Memang berdasarkan undang-undang Inggris, News Corp bisa kembali mengajukan permohonan akuisisi enam bulan lagi, tapi yang tinggal sekedar menunggu formalitas lampu hijau dari pemerintah harus kembali ke titik nol. Dan belum tentu kondisi sosial dan politik di Inggris enam bulan mendatang sudah kurang bermusuhan atas Murdoch.

Apalagi sebelumnya Menteri Kebudayaan Jeremy Hunt, sudah meminta Komisi Kompetisi Inggris untuk mengkaji dampak penguasaan total News Corp atas BSkyB atas keragaman media. Sementara badan pengawas TV Inggris, Ofcom, merasa perlu menilai kembali kepatutan dan kelayakan dari News Corp.

Terlalu banyak rintangan, walau tak ada masalah dari segi keuangan karena -menurut lembaga keuangan Credit Suisse- News Corp punya US$11,8 miliar tunai dan investasi jangka pendek di sakunya. Dan penyebabnya adalah penyadapan telepon untuk mengumpulkan bahan berita oleh NoTW, yang menyumbang keuntungan US$5 juta pertahun atau hanya sekitar sepersembilan puluh dari potensi keuntungan yang ditawarkan BSkyB.
 
Memang sejak awal ada semangat untuk ‘mengecilkan’ skandal penyadapan telepon NoTW. Sejumlah selebriti –termasuk Pangeran William- dan politisi Inggris disadap teleponnya oleh NoTW, yang mengelak dengan mengatakan itu kerjaan individu yang nakal. Januari 2007, seorang penyelidik pribadi, Glenn Mulcaire, dan redaktur urusan kerajaan NoTW, Clive Goodman, masuk penjara enam dan empat bulan karena di Inggris penyadapan telepon hanya bisa dilakukan lewat perintah pengadilan.

Dibaliknya, para penasehat hukum NoTW sibuk melayani gugatan para politisi dan selebiriti yang sebagian diselesaikan dengan ganti rugi di luar pengadilan. James Murdoch, -yang disebut sebagai penerus ayahnya- menyetujui pembayaran ganti rugi sebesar £500.000 kepada Gordon Taylor, Ketua Asosiasi Pesepakbola Profesional, yang teleponnya disadap oleh ‘individu’ yang nakal di NoTW.

Seperti kotak pandora, bermunculan nama-nama lain yang disadap –termasuk mantan Perdana Menteri Gordon Borwn, Wakil Perdana Menteri John Prescot, Milly Dowler –anak perempuan berusia 13 tahun yang tewas dibunuh, keluarga korban bom London 7 Juli, maupun keluarga tentara Inggris yang tewas di Afghanistan dan Irak. Diperkirakan ada 11.000 nama yang diduga teleponnya pernah disadap. Lebih parah lagi, ada polisi yang disuap untuk membocorkan informasi eksklusid dan terungkap pula Asisten Komisaris Kepolisian London, John Yates, sempat memutuskan untuk tidak meneruskan penyelidikan kasus penyadapan telepon. Yates sudah meminta maaf, juga dipanggil ke parlemen walau masih berkeras menolak seruan mundur.

Sementara itu Andy Coulson, mantan Pemimpin Redaksi NoTW, April lalu tak bisa mengusir tekanan mundur dari jabatan Direktur Komunikasi kantor Perdana Menteri David Cameron –yang sejak awal sudah diingatkan beberapa orang agar tidak merekrut Andy Coulson. Kantor Cameron menyebut Coulson sudah memberi jaminan tidak tahu menahu soal penyadapan telepon -dia masuk ke kantor David Cameron karena dikenalkan, temannya, Rebekah Brooks, eksekutif puncak News International yang menjabat Pemred NoTW sebelum Coulson.

Berakhirnya era Murdoch

Dan Cameron –yang mendapat dukungan dari kelompok media Murdoch saat pemilu 2010- langsung mengambil jarak bersamaan dengan melebarnya skandal penyadapan telepon –yang belakangan bukan hanya dilakukan NoTW tapi juga diduga oleh koran kuning lain milik Murdoch, The Sun. Pernyataan kantor Perdana Menteri Inggris menyambut baik mundurnya News Corp dari akuisi BSkyB. "Seperti yang sudah pernah dinyatakan perdana menter, bisnis sebaiknya fokus pada pembersihan kekacauan dan menertibkan rumahnya sendiri dulu.”

Uuntuk pertama kalinya pula sejak Cameron berkuasa Mei 2010, ketiga pemimpin partai utama Inggris kompak. Pemimpin oposisi, Partai Buruh, Ed Miliband menyebutnya sebagai kemenangan rakyat. “Tidak ada yang bisa menggunakan kekuasaan di negara ini secara tidak bertanggungjawab,” tuturnya.

Sedangkan Nick Clegg dari Partai Liberal Demokrat –rekan koalisi Cameron- sudah lebih dulu meminta agar Murdoch mundur dari akuisisi BSkyB. “Lakukan hal yang pantas dan masuk akal, dan pertimbangkan kembali tentang rencanamu untuk BSkyB,” kata Clegg, Senin pekan lalu usai bertemu dengan keluarga Milly Dowler, yang bisa disadari amat muak dengan penyadapan telepon putri mereka yang hilang dan belakangan tewas dibunuh.

Tapi apakah skandal ini akan berhenti di BSkyB?

David Cameron sudah mengumumkan penyelidikan umum yang dipimpin seorang hakim tentang perilaku yang tidak tepat di kalangan pers maupun polisi dan untuk mengkani pengaturan pers yang baru. Cameron mengatakan penyelidikan akan dimulai “secepat mungkin” dan hakim Sir Brian Leveson diberi wewenang untuk memanggil pemilik media, wartawan, polisi, maupun politisi untuk memberi keterangan di bawah sumpah. “Hakim Leveson akan memberi rekomendasi tentang cara baru yang lebih baik dalam mengatur pers yang mendukung kebebasan pluralitas dan kemandirian  dari pemerintah dengan standard etik dan professional yang tertinggi,” jelas Cameron di parlemen.

Namun yang lebih penting adalah mereka yang terbukti melakukan kesalahan tidak akan diizinkan lagi memimpin media di Inggris. Dan orang pun membayangkan Rebekah Brooks -yang menurut Murdoch menjadi prioritas dalam kunjungannya ke London- karena juga menjabat Pemred NoTW pada masa penyadapan telepon berlangsung.

Banyak orang Inggris yang berpendapat ambruknya peluang BSkyB cuma perlambang dari berakhirnya era Murdoch –yang mendukung kampanye Tony Blair maupun David Cameron dan sekaligus menikmati hubungan akrab dengan politisi utama Inggris. Kredibilitas Rupert Murdoch sudah tercemar dan sulit untuk dibangkitkan kembali –karena NoTW praktis telah menyakiti semua lapisan masyarakat- sehingga muncul spekulasi dia mungkin bakal melepas kelompok media cetaknya di Inggris yang tersisa, seperti The Sun, The Times, The Sunday Times. Secara bisnis, itu mungkin bukan soal bagi Murdoch karena kerajaannya medianya yang tersebar dimana-mana, termasuk Afrika.

Cuma tak ada jaminan skandal bisa terlokalisir di Inggris saja. Di Amerika Serikat  senator jay D Rockefeller IV dari partai Demokrat –yang juga menjabat Ketua Komite Perdagangan Senat- sudah meminta dilakukan penyelidikan tentang apakah entitas News Corportaion di Amerika Serikat juga menggunakan metode illegal dalam pengumpulan beritanya.

Murdoch pertama kali terjun ke bisnis media tahun 1953, ketika ayahnya wafat dan mewariskan dua koran di Adelaide, Australia. Baru 58 tahun kemudian senja tiba baginya, di usia 80 tahun, dan masih ditunggu apakah James Murdoch -putra ketiga dari istri pertamanya- juga punya kepiawaian di bisnis media. Atau skandal ini menjadi pengganjal untuk meneruskan News Corp sebagai perusahaan 'keluarga' dan Murdoch senior harus menyerahkan tahta kepada eksekutif profesional, bukan putra karbitannya.
***

BACA JUGA

Segenggam Biji untuk Kakek Bumi -
Aminatul Faizah

Jawabku Untukmu - Suhendri Cahya Purnama

Tuhan Kutitipkan Surat Untuk Bapakku - Aminatul Faizah

Labirin ibukota - Gendhotwukir

gunung

ceritanet©listonpsiregar2000