ceritanet   situs karya tulis - edisi 209, jumat 15 juli 2011  sampul
sajak
laporan
cerpen

novel
memoar
catatan

foto

edisi lalu
kirim tulisan
tentang ceritanet
ikut mailing list

cerpen Segenggam Biji untuk Kakek Bumi
Aminatul Faizah

Dulu ketika aku masih kecil, atau mungkin aku setengah dewasa. Sadar atau tidak aku selalu mendengar seseorang yang berkata, atau mungkin setengah mengeluh.
"Jiwa ini milik siapa?"
"Tubuh ini naungan siapa?"
"Raga ini tak bertuah dan mati…Tapi aku mencintai kamu sebagai pemimpin munggil?"

Seperti itu kira-kira bunyinya. Mungkin setiap manusia perasa -atau yang mau meluangkan sedikit waktu untuk merenungkan yang ada di sekitarnya atau mendengarkan yang terdengar dan terpinggirkan bisa merasakan yang terbuang dan sedikit menyatu dengan tanah, udara, dan air setiap harinya.

Kau akan mendengarnya lagi dan lagi.
"Ragaku yang kau jajah sepanjang aku mengenalmu…"
"Ini raga akan hendak dibawa ke mana?"
"Ini hati akan dipautkan ke siapa?"
"Dan ini hidup akan diabadikan untuk siapa?"

Lalu ketika kau terhenti dan berusaha menebak, kau akan dapati seorang roh laki-laki tua yang compang camping mengikuti langkahmu. Ia tak memakai baju yang sempurna layaknya roh yang agung. Tubuhnya sangat renta dan layaknya seonggok danging yang berjalan dengan tongkat kayu yang berlumut dan sehelai daun yang menjuntai ke atas sebagai rambutnya.

Ia nampak lesu, keringat mengucur deras dan helaan nafasnya akan terdengar ngos-ngosan. Ketabahan dan juga keramahan terlintas di wajahnya.

Ia tersenyum begitu lembut namun semua manusia yang mengenggam materi, kepandaian, kuasa dan juga benih hanya berlalu.

Seorang anak kecil yang suci menatapnya, mengulurkan tangan dan tersenyum manja. Dia terlalu suci untuk mengetahui kakek tua itu adalah roh murni yang selalu mengikuti manusia.

"Kakek siapa?" tanya anak kecil itu.
"Aku Bumi... dan kau?"
"Aku Arai..." kata anak itu sambil memberikan sebotol air mineral pada Bumi.

"Kakek tua mau ke mana? Kalau aku mau pulang? Kakek mau ke mana?”

Anak itu tersenyum sambil menyentuh ubun-ubun Bumi. Hanya ada sehelai daun yang tumbuh dan itu sangat lucu. Seperti daun sono di depan rumahku.

"Kakek kenapa kakek tak memiliki rambut?"
"Aku sudah terlalu tua...banyak kutu yang menghinggapi kepalaku."
"wah...kakek malas membersihkan kepala ya?" katanya sambil mengelur kepala kakek.
“Mana-mana tidak ada kutunya?" kata anak kecil itu sambil melihat kepala botak itu.

Bumi hanya tersenyum, menatap anak kecil itu sambil berkata dalam hatinya: "kalau aku rajin mengkramasi rambutku maka kaummu akan terkena air bah.. dan banjir. Bagaimana kamu akan menatap masa depan dengan perasaan yang bahagia."

Anak itu mengajak Bumi menuju rumahnya. Di depan rumah itu hanya ada sebatang pohon jambu yang sudah tua. Anak suci mengandeng tangan Bumi dan memanggil ibunya untuk  menjamu seseorang yang dibawanya pulang. Ibunya hanya tersenyum. Sudah sangat lumrah baginya melihat siapa pun entah dari mana asalnya yang diajak anaknya pulang.

Biasanya anaknya membawa pemulung dan merengek agar ia membeli semua yang dibawa. Pernah pula, seorang pengemis dan meminta untuk memberi semua uang di dalam tasnya, atau sekali waktu seorang tukang becak yang makan dan minum sepuasnya di rumah mereka.

Sekali waktu ia sangat terkejut ketika anaknya membawa seorang koruptor dan memintanya membeli semua uang dan harta yang dibawa koruptor itu. Kata anaknya, koruptor harus ditolong dan disadarkan. Itulah sekali-sekalinya dia menolak: bagaimana mungkin menukar yang haram dengan yang halal?

Seperti biasa ibunya menyiapkan jamuan, lalu akan beramah tamah dan pertama kali bertanya tentang siapa dan asal.
"Aku Bumi dan berasal dari yang kau tempati."
"Apakah anda sejenis manusia akar, pohon ataukah anda manusia layaknya kami ?"
"Saya...bukanlah kalian yang terlahir sebagai para pemimpin. Aku adalah seseorang yang membutuhkan pembimbing, tauladan dan juga penyayang antar sesama. Menyayangi dan memelihara aku dengan kasihnya. Bukan malah mencuri dariku. Dari hamba yang renta..."

Ibu anak suci hanya tersenyum, bagaimana mungkin ada manusia-manusia yang mencuri darinya. Dari seseorang tua yang perlu kasih sayang.
"Selamat datang di negeri koruptor...ini dunia tuan. Hanya anaku yang akan berkata mereka bisa disadarkan," kata perempuan itu, sinis.

"Apa pekerjaan anda?" lanjut perempuan itu sambil menuangkan teh pada Bumi.
"Segenggam biji."
"Hanya itu?"

Bumi mengangguk: "saya bukanlah pengemis yang meminta uang dan sedikit memaksa, saya juga bukan koruptor yang serakah...saya hanya peminta segenggam benih yang akan saya tanam dan akan saya bagikan pada semua manusia."

"Benarkah?" tanya ibu tak percaya.
"Tak diberikan pun tak apa-apa...diberikan dengan dilemparkan ke tanah tak jadi masalah, aku akan memungutinya, itu sudah cukup...kau berikan baik-baik dengan mengenggamkan di tanganku dan akan bahagia."

"Oh... kasihan sekali kakek," anaknya yang naif muncul selepas menganti baju.
"Biji apa yang kakek paling sukai?" lanjutnya.

Bumi hanya tersenyum sambil mengayunkan tangannya untuk mengusir hawa panas. Bumi semakin panas dan wajahnya terlihat kemerah-merahan.

"Aku akan ambilkan air es untuk anda?" kata ibu anak itu.

Bumi menatap wanita muda itu memasuki ruang dalam yang dibatasi kelambu.
"Setiap pagi hari aku melewati perempatan kok tak pernah melihat kakek? Kakek orang baru yah?"
"Bukan...aku sering berpindah-pindah untuk mengingatkan manusia."
"Oh..." kata anak itu seolah-olah mengerti dengan yang dikatakannya.
"Kakek sering mengunjungi banyak tempat?"
"Semua tempat telah aku kunjungi, mulai dari daerah paling hitam yang tak berdaya, yang dipenuhi kaum ambal-ambal yang tak punya pilihan selain menurut, hingga puncak tertinggi Malaya yang dipenuhi manusia cendekiawan.”
"Apakah mereka baik?" tanya anak itu.
"Ada yang baik...ada yang tak peduli...ada yang apatis dan ada yang skeptis. Inilah dunia yang dipenuhi dengan variasi–variasi manusia.”
"Oh..." tanggapnya lagi seolah mengerti.

Ibunya datang membawa segenggam air es dan biji-bijian yang segar dan juga gemuk. Dia menyerahkan bungkusan kepada Bumi.

Bumi menerimanya, tersenyum, dan melapangkan dada.

"Andai semua tahu apa yang aku mau...mungkin...mungkin aku tak akan meminta dengan sedikit menyindir dan mengingatkan.”
"Maafkan kami."
"Ya..."
"Maaf kami tak mengerti."
“Kamu...dan kalian tahu hanya saja tak peduli."

Lalu tiba-tiba anggin semilir datang. Ibu anak itu tengah terlelap sekejap dalam mimpi.

Bumi menghilang berjalan dengan riang dalam dimensi ruang dan waktu yang lain. Baginya setidaknya ada harapan setitik putih di hamparan kertas hitam yang lapang.
***
Surabaya, 26 Februari 201

BACA JUGA

Rusak Susu Sebelanga Karena Setitik News of The World - Liston P Siregar

Jawabku Untukmu - Suhendri Cahya Purnama

Tuhan Kutitipkan Surat Untuk Bapakku - Aminatul Faizah

Labirin ibukota - Gendhotwukir

gunung

ceritanet©listonpsiregar2000