novel memoar catatan foto
edisi lalu kirim tulisan tentang ceritanet ikut mailing list
Bagaimana rasanya menjelang ajal? Betulkah ada proses yang sangat rumit meninggalkan kehidupan menuju ke kematian? Bagaimana meyakinkan diri bahwa di balik kematian fisik, memang menanti kehidupan yang lain? Pertanyaan-pertanyaan yang dulu amat sering dulu saya dengar dalam diskusi-diskusi pemahaman alkitab. Juga banyak dibahas dalam buku-buku teologia, kesehatan, juga kejiwaan. Saya sudah lupa semua, yang dulu saya bahas dengan semangat, juga yang sudah saya baca dengan mendalam. Tapi saya pernah mengalaminya. Ketika Hampir Mati, Aku Eliakim Sitorus Hujan…hujan…hujan membawaku jauh kedalam masa laluku yang terdalam. Hujan juga yang memberikan irama menghayutkan aku untuk jauh kedalam tabirku. Kucoba kembali, aku…aku mengingatnya lagi. Aku ingin menghapus rasa sesalku sedihku dan maluku…sendiri terasing dengan apa yang aku yakini. Ini mungkin, hukuman atas perbuatanku atas dustaku dan juga egoku. Tak mungkin, tak mungkin aku tak menyesalinya. Tersesalkan dalam dada. Tersesak dan aku selalu ingin menelanjangkan diriku dalam hujan. Setidaknya aku merasa terlindungi. Hujan Aminatul Faizah Di tanah gersangpun kau sempat memanjakan diri dengan sebongkah es Tak kau berikan aku minum hHingga sekejap es lenyap di permukaan mulut Salah siapa, tak bersabar hidup dengan kekeringan Hah, ada juga adik kakak sedang sempat berbagi canda tawa Ada pula yang sedang berebut minum susu dari ibunya Salah siapa tak kau ajarkan aku tentang kesabaran Salah Siapa Mohamad Ulil Albab
Bagaimana rasanya menjelang ajal? Betulkah ada proses yang sangat rumit meninggalkan kehidupan menuju ke kematian? Bagaimana meyakinkan diri bahwa di balik kematian fisik, memang menanti kehidupan yang lain? Pertanyaan-pertanyaan yang dulu amat sering dulu saya dengar dalam diskusi-diskusi pemahaman alkitab. Juga banyak dibahas dalam buku-buku teologia, kesehatan, juga kejiwaan. Saya sudah lupa semua, yang dulu saya bahas dengan semangat, juga yang sudah saya baca dengan mendalam. Tapi saya pernah mengalaminya. Ketika Hampir Mati, Aku Eliakim Sitorus
Hujan…hujan…hujan membawaku jauh kedalam masa laluku yang terdalam. Hujan juga yang memberikan irama menghayutkan aku untuk jauh kedalam tabirku. Kucoba kembali, aku…aku mengingatnya lagi. Aku ingin menghapus rasa sesalku sedihku dan maluku…sendiri terasing dengan apa yang aku yakini. Ini mungkin, hukuman atas perbuatanku atas dustaku dan juga egoku. Tak mungkin, tak mungkin aku tak menyesalinya. Tersesalkan dalam dada. Tersesak dan aku selalu ingin menelanjangkan diriku dalam hujan. Setidaknya aku merasa terlindungi. Hujan Aminatul Faizah
Di tanah gersangpun kau sempat memanjakan diri dengan sebongkah es Tak kau berikan aku minum hHingga sekejap es lenyap di permukaan mulut Salah siapa, tak bersabar hidup dengan kekeringan Hah, ada juga adik kakak sedang sempat berbagi canda tawa Ada pula yang sedang berebut minum susu dari ibunya Salah siapa tak kau ajarkan aku tentang kesabaran Salah Siapa Mohamad Ulil Albab
BACA JUGA
Catatan Kecelakaan Sepeda - Liston P Siregar
Lelaki Gelisah Mengeja Nafas - Dieqy Hasby Widhana
LIHAT/DENGAR
KOMENTAR
ceritanet©listonpsiregar2000