ceritanet   situs karya tulis - edisi 207, sabtu 21 mei 2011  sampul
sajak
laporan
cerpen

novel
memoar
catatan

foto

edisi lalu
kirim tulisan
tentang ceritanet
ikut mailing list

Bagaimana rasanya menjelang ajal? Betulkah ada proses yang sangat rumit meninggalkan kehidupan menuju ke kematian? Bagaimana meyakinkan diri bahwa di balik kematian fisik, memang menanti kehidupan yang lain? Pertanyaan-pertanyaan yang dulu amat sering dulu saya dengar dalam diskusi-diskusi pemahaman alkitab. Juga banyak dibahas dalam buku-buku teologia, kesehatan, juga kejiwaan. Saya sudah lupa semua, yang dulu saya bahas dengan semangat, juga yang sudah saya baca dengan mendalam. Tapi saya pernah mengalaminya. Ketika Hampir Mati, Aku Eliakim Sitorus

Hujan…hujan…hujan membawaku jauh kedalam masa laluku yang terdalam. Hujan juga yang memberikan irama menghayutkan aku untuk jauh kedalam tabirku. Kucoba kembali, aku…aku mengingatnya  lagi. Aku ingin menghapus rasa sesalku sedihku dan maluku…sendiri terasing dengan apa yang aku yakini. Ini mungkin, hukuman atas perbuatanku atas dustaku dan juga egoku. Tak mungkin, tak mungkin aku tak menyesalinya. Tersesalkan dalam dada. Tersesak dan aku selalu ingin menelanjangkan diriku dalam hujan. Setidaknya aku merasa terlindungi. Hujan Aminatul Faizah

Di tanah gersangpun kau sempat memanjakan diri dengan sebongkah es
Tak kau berikan aku minum hHingga sekejap es lenyap di permukaan mulut
Salah siapa, tak bersabar hidup dengan kekeringan

Hah, ada juga adik kakak sedang  sempat berbagi canda tawa
Ada pula yang sedang berebut minum susu dari ibunya
Salah siapa tak kau ajarkan aku tentang kesabaran
Salah Siapa Mohamad Ulil Albab

BACA JUGA

Catatan Kecelakaan Sepeda - Liston P Siregar

Lelaki Gelisah Mengeja Nafas - Dieqy Hasby Widhana

LIHAT/DENGAR

Brgihton2011

KOMENTAR

ceritanet©listonpsiregar2000