ceritanet   situs karya tulis - edisi 207, sabtu 21 mei 2011  sampul
sajak
laporan
cerpen

novel
memoar
catatan

foto

edisi lalu
kirim tulisan
tentang ceritanet
ikut mailing list

cerpen Hujan
Aminatul Faizah

Hujan…hujan…hujan membawaku jauh kedalam masa laluku yang terdalam.

Hujan juga yang memberikan irama menghayutkan aku untuk jauh kedalam tabirku. Kucoba kembali, aku…aku mengingatnya  lagi.

Aku ingin menghapus rasa sesalku sedihku dan maluku…sendiri terasing dengan apa yang aku yakini.

Ini mungkin, hukuman atas perbuatanku atas dustaku dan juga egoku. Tak mungkin, tak mungkin aku tak menyesalinya. Tersesalkan dalam dada. Tersesak dan aku selalu ingin menelanjangkan diriku dalam hujan. Setidaknya aku merasa terlindungi.

Terasa aku tak sendiri, terasa semua energi kesedihanku terhapuskan. Aku sendiri…di ujung retaknya Asia dan Eropa. Aku menyesal. Ingin rasanya aku mengulangi hidup dengan kejujuran. Bukan ego atas nama rasa mampu yang kamuflase.

Aku retak, terpisahkan antara iman dan juga nafsu mencari celah dari dalil yang benar menjadi sesuatu yang sah. Menutup mata akan adanya dosa yang menelanjangiku, menyesatkan aku atas nama obsesi.

Mereka bilang keyakinan akan mengubah segalanya, asalkan kita yakin maka jalan akan terbuka.

Mereka bilang Tuhan akan mempermainkan kita.

Tuhan akan memberi nasib pada yang mereka sukai. Jangan berdoa akan kesabaran maka kamu akan diberi nasib buruk. Karena Tuhan ingin mengujimu. Entah siapa yang memulai.

Aku rajut mimpiku dan berhasil mengertuk gerbang pendidikan terbaik. Tapi mereka…sayap-sayapku menolak karena takut akan terbang dengan yang berkilau. Mereka bilang abu-abu tak pantas untuknya. Entah kenapa? Aku hanya bisa berbalik dan meyakini kelak.

Kelak aku akan kembali.

Bertahun-tahun aku hidup dengan mengais mimpi. Merendahkan dengan kebanggaan kamuflase. Aku malu pada kawanku yang berotak setengah berhasil lulus dengan  uang dan keterbatasan daya pikir. Tuhan memberikan nasib yang baik padanya dan menghukum dustaku.

Aku mengais dengan sen untuk berpendidikan di pinggiran. Aku berkilau namun aku tak bangga. Aku merasa terkucilkan dengan apa yang aku alami.

Aku terhina tapi takdir membawaku ke jalan yang lain. Aku menjadi diriku setelah perjalananku yang panjang…
***

Aku terbangun dan entah kenapa hujan lagi.

Lagi hujan membuatku ingin menangis. Lagi aku tersesat di kota ini. Aku telah merasakan bagaimana kau hidup namun aku mati karena rasa putus asaku. Aku masih terlalu sakit hati dengan Tuhan.

Rasanya kali ini aku benar-benar muak. Aku ingin mengakhiri hidup dengan melompat, melompat dan mati bersama anganku dan mimpiku.

Aku merasa bersalah, tapi aku juga muak. Dimana angin berhembus disitulah Tuhanmu. Merengkuhmu dengan kasih yang tiada batasannya. Menyimpan rasa terindah dalam hidupnya.

Lepaskanlah hasrat akan nafsu, maka Tuhanmu akan memberikan yang lainnya. Yang lebih indah, lebih menyejukkan.

Lepaskanlah tangismu akan kehilangan dengan keihlasan. Tuhan akan memberikan janjinya akan kebahagiaan.

Gema di salah satu masjid itulah yang membuatku melangkah mundur. Aku melangkah mundur, karena jika aku menerjunkan diri di Bosphorus  maka aku akan jadi konyol, menjadi pengecut.

Aku yakin Tuhanku Maha Pengampun. Tuhanku menyediakanku sebuah kisah yang hebat di sana…di kemudian hari.
***

Dengan menyebut nama Tuhanku, aku melangkahkan kaki. Tapi aku sudah memaafkan diriku. Maka disinilah aku kini. Aku tak sendirian lagi, hujan atau kering.

Tuhanku selalu ada and aku tak retak karena mengimani-Nya.
***

BACA JUGA

Ketika Hampir Mati, Aku - Eliakim Sitorus

Salah Siapa - Mohamad Ulil Albab

Catatan Kecelakaan Sepeda -
Liston P Siregar

Lelaki Gelisah Mengeja Nafas -
Dieqy Hasby Widhana

Obrolan Mayat-mayat - Presiden
Hayat

Mari Bicara Tentang Cinta yang Mengawang - Suhendri Cahya Purnama

LIHAT/DENGAR

Brgihton2011

KOMENTAR

ceritanet©listonpsiregar2000