ceritanet   situs karya tulis - edisi 206, selasa 3 mei 2011  sampul
sajak
laporan
cerpen

novel
memoar
catatan

foto

edisi lalu
kirim tulisan
tentang ceritanet
ikut mailing list

komentar Catatan Kecelakaan Sepeda
Liston P Siregar

Sekitar pukul setengah sembilan pagi lewat. Jalanan London sudah mulai ramai dengan pensepeda, tak sampai setengah jam mendekati masuk kantor resmi. Di lampu merah besar, seperti biasa ada kotak di depan khusus untuk sepeda supaya bisa melaju lebih dulu ketika lampu berganti hijau, sebelum nanti menepi kembali ke kiri, didahului mobil, bus, mobil barang, truk, dan sepeda motor yang umumnya sudah buas-buasnya juga mengejar waktu masuk kerja.

Seperti biasa pula, di lampu lalu lintas yang besar, ada jalur penyeberangan pejalan kaki melintang persis di depan kotak khusus sepeda. Di ujung jembatan Waterloo, salah satu jalur masuk ke pusat kota London dari kawasan pinggiran tenggara, ada persimpangan empat. Lampu hijau untuk penyeberangan hanya sekali menyala, ketika semua jalan raya lintas sedang merah. Hanya pejalan kaki yang bergerak saat itu, tapi harus menunggu dua jalan raya.

Jadi ada saatnya ketika salah satu jalan raya sedang merah, maka sepotong jalur penyeberangan tampak aman, karena di sepotong jalan itu semua kenderaan, sepeda sampai bus, berhenti total menungu giliran. Bagi yang sudah terbiasa, bisa langsung menyeberang sepotong dulu tapi harus melihat dari arah kiri untuk potongan berikutnya, yang jalannya agak berbelok sedikit sehingga pandangan terbatas. Jika arah lengkungan terlihat kosong maka setengah berlarilah orang karena bisa jadi ada kenderaan yang meluncur cepat dan tiba-tiba sudah sampai di jalur penyeberangan pejalan kaki di potongan kedua.

Bagi yang tidak biasa -yang cuma menyeberang potongan kedua karena terbawa arus kelompok yang sudah ahli- bahaya mengancam.

Itulah yang terjadi, pagi itu.

Saya dan beberapa pensepeda berhenti di kotak khusus, saya agak di baris kedua, setengah ban di belakang beberapa pensepeda serius dengan celana dan baju ketat warna warni seperti para pembalap Tour de France atau Tour de Java. Lampu baru saja merah. Segerombolan pejalan kaki menyeberang di depan kami terburu-buru dan tibat-tiba di sebelah kanan kami, ada teriakan. Melihat ke arah kanan, seorang pensepeda sudah terjungkal dan berteriak marah. Rupanya ada orang yang tidak biasa yang menyeberang potongan kedua tanpa lihat kea rah kiti. Dan tak sedikit pensepeda di London yang kencang.

Pria itu bangkit, itu pertanda baik karena berarti tidak cedera serius. Tapi dia masih marah, itu pertanda buruk karena dia memaki-maki keras. Beberapa pejalan kaki bersimpati dan membantu mengangkat sepedanya, dia masih marah-marah. “Kau hampir membunuhku,” begitu katanya disela-sela sumpah serapahnya. Kami semua di jalur kiri menyaksikan dan mendengar jelas kemarahan dan caci maki pensepeda itu.

Seorang perempuan muda, langsing, dan berambut pendek dengan wajah tegang tetap berdiri di kaki lima dekat pria itu, yang memeriksa sepedanya. Perempuan itulah yang tidak terbiasa menyeberang di potongan kedua, dan tampaknya si pensepeda terjungkal ketika mencoba menghindari perempuan itu.

Lampu masih merah di jalur kami. Tak ada solidaritas dari kami para pensepeda di jalur kiri untuk turun membantu karena pensepeda itu bisa berdiri kembali dan memaki-maki; jasmaniah dan rohaniah sehat seratus persen. Jika turun ada risiko lampu berubah hijau dan mungkin tak sempat lagi kembali ke jalur awal dan melaju. Lagipula jatuh dari sepeda namun tetap segar bugar –tentu dengan sedikit lecet di siku dan lutut- adalah bagian melekat dari bersepeda di London.

Maka kami semua cuma menonton.

Setelah memeriksa sepedanya masih utuh, si pria mendekati si perempuan dan masih melampiaskan kemarahan. Tiba-tiba si perempuan menangis dan melipat kedua tangan seperti seorang yang berdoa. Kami di jalur kiri menjadi lebih penasaran, melihat ke lampu merah di depan dan, masih sempat menonton ke kanan. Perempuan itu menangis terisak-isak. Saya kira dia juga amat kaget, melihat seorang terjungkal keras –bunyinya memang keras dan amat beruntung tidak ada mobil di belakang pensepeda itu- gara-gara dia menyeberang semborono.

Melihat perempuan itu menangis, si pensepeda yang malah terlihat agak panic. Dia melangkah mendekat dan memeluknya lembut di bagian pundak sambil menepuk kecil punggung perempuan itu. Si perempuan masih menangis ketika pelukan dilepas dan si pensepeda sudah tidak memaki-maki keras, tapi tersenyum kecil.

Lampu di jalur kami berganti hijau.

Di depan saya rupanya teman satu kantor. Di tempat parkir, saya bilang “lucu ya, di lampu merah tadi”

“Iya, mestinya si laki-laki itu yang dapat pelukan, eh malah yang perempuan dapat.” Kami berdua tertawa, kecelakaan sepeda yang berakhir indah.

***
London Cycling Campaign, LCC, menetapkan Rabu, 30 Maret 2011, sebagai hari No More Lethal Lorries Day of Action, yang jika diterjemahkan menjadi Aksi Hari Tidak Ada Lagi Lori Yang Mematikan.

Hari itu, para pegiat sepeda dan sukarelawan mengumpulkan tanda tangan di sepuluh lokasi di London Raya untuk mewajibkan supir lori -atau truk panjang maupun gandeng- ikut kursus keselamatan bersepeda. Selain menambah jumlah tandatangan yang sudah terkumpul lewat internet dan facebook, Rabu 30 Maret juga dijadikan LCC sebagai hari peningkatan kesadaran keselamatan sepeda bagi para pengguna jalan lain.

London sebenarnya semakin meningkatkan upaya keselamatan sepeda, apalagi setelah dibukanya layanan sewa sepeda untuk umum oleh pemerintah kota London tahun 2010. Kalaupun tidak tersedia jalur khusus sepeda di semua jalan, banyak gambar sepeda berwarna putih di sebelah kiri jalan untuk memberitahu pemakai kenderaan bermotor bahwa ada pensepeda yang juga memakai jalan itu.

Tapi tetap saja masih ada kelompok pengguna jalan –termasuk pejalan kaki- yang tidak melihat keberadaan pensepeda –atau mungkin menganggap remeh- sekalipun pensepeda memakai jaket warna stabilo mencolok serta lampu kerlap kelip terang jenis LED, di depan dan belakang.

Supir lori -yang menjadi sasaran utama kampanye LCC tadi- sepertinya termasuk yang tidak selalu bisa melihat pensepeda. Tempat duduk yang tinggi dari permukaan jalan membuat ada ruang kosong yang tidak bisa mereka lihat sama sekali. Sebuah laporan tentang keselamatan bersepeda di London menunjukkan supir lori memang bisa melihat pensepeda di bagian ekor sebelah kirinya, namun sama sekali tidak melihat jika pensepeda sudah berada di sebelah kiri depan, sejajar dengan bagian ruang supir.

Jadi ada kemungkinan ketika berbelok ke kiri, dia sama sekali tidak menyadari sedang menghimpit seorang pensepeda dan –sekedar mengingatkan- ban lori itu hampir setinggi seorang yang sedang berada di atas sepeda. Kecelakaan sepeda di London umumnya terjadi ketika kenderaan berbelok ke kiri, menghimpit, atau memukul pensepeda jatuh dan menyeretnya.

Tentu bisa juga karena berat, maka lori tidak bisa melakukan manuver dengan cepat, sementara sepeda ringan dan bisa berkelit cepat sehingga tiba-tiba sudah berada di samping lori. Dan banyak pensepeda di London yang  mungkin layak ikut Tour De France, atau Tour de Java,  seandainya balap sepeda bergengsi di Prancis itu hanya berlangsung sehari –bukan dua mingguan.

Artinya, jika supir lori tidak konsisten menyediakan ruang satu meter antara lorinya dengan  kaki lima –walau jalur sepeda di Inggris London sebenarnya minimal 1,5 meter- selalu ada kemungkinan dia menghimpit pensepeda. Jelas bisa saja supirnya sekedar telodor karena buru-buru mengejar setoran.

Yang jelas tingkat mematikan lori cukup tinggi. Walau jumlah lori yang melintas di London Raya, hanya sekitar 5% dari total pengguna jalan, mereka bertanggungjwab pada setengah kecelakaan sepeda di jalan, yang mengakibatkan luka ringan, berat, maupun kematian. Awal Februari, dalam waktu 48 jam, dua pensepeda terkena hantaman lori, satu menderita cedera kaki serius dan satu lagi sempat dalam kondisi kritis di rumah sakit sebelum terbebaskan dari ancaman kematian.

Jelas terjadi penuruntan tingkat kematian pensepeda di London dan Inggris Raya, walau sebenarnya kecenderungan menurun itu pada semua moda transport, seperti angka dari Kantor Statistik Nasional. Untuk sepeda, rata-rata 56,9 kematian per miliar kiilometer di tahun 1981, menurun menjadi 32,6 pada 2001, dan 24,2 untuk tahun 2008.

Bagaimanapun masih saja ada kematian akibat lori. Sekitas sepekan setelah kampanye LCC itu, seorang mahasiswa berusia 20 tahun asal Polandia terhimpir dan terseret lori di London utara. Ketika supir lori menyadari ada yang terseret di bannya, mahasiswi itu, Paula Jurek, menderita luka berat dan meninggal di tempat kecelakaan. Dan harian The Independent mengangkat tewasnya Paula dalam kampanye keselematan bersepeda dengan berita utama di halaman satu berjudul “Save Our Cyclist.” Setiap tahun rata-rata 28 orang pensepeda tewas di jalanan di seluruh Inggris Raya.

Bersamaan dengan kampanye LCC dan koran The Independent, di ibukota pemerintahan Uni Eropa, Brussels, rupanya sudah ada dokumen RUU untuk mewajibkan semua lori yang baru -atau dikenal dengan istilah HGV- dilengkapi alat sensor untuk mendeteksi pensepeda. Lori baru juga harus dilengkapi rem otomatis jika ada hambatan di bannya.

Diharapkan UU itu mulai diberlakukan tahun 2013, atau sekitar dua tahun lagi tapi mudah-mudahan bukan setelah 56 pensepeda lagi mati.

***
Ada kalanya saya masuk kerja tengah hari, masuk jam 12 siang dan pulang jam delapan malam. Biasanya pada jam sekitar itu, lalu lintas tidak sepadat pagi dan bisa lebih santai mengayuh, jauh dari tekanan kenderaan bermotor dan juga dari sesama pensepeda yang tak sabaran mau mendahului maupun dari pensepeda yang lebih lamban di depan namun tak cukup menepi ke kiri supaya didahului dengan mudah.

Siang pertengahan Maret itu, hujan gerimis tipis ala Inggris, dan berarti akan lebih lambat pula. Sepeda saya jenis jalan raya dengan ban selebar 28 cm: ringan namun licin, atau sebutlah tidak semantap sepeda gunung berban lebar dengan bunga ban yang besar dan tebal.

Cuma sepertinya ada hubungan antara kesantaian dan kelambanan dengan kewaspadaan.

Lepas dari sebuah lampu merah, saya kembali membangun momentum kayuhan dan ketika kecepatan sudah normal, sebuah mobil hitam mendadak berbelok ke kiri. Saya sempat menarik rem namun tetap saja terpukul oleh bagian pantat sebelah kiri mobil itu dan terjatuh. Beberapa orang di kaki limat kaget dan berhenti. Seorang perempuan berteriak bertanya ‘are you all right?” Saya otomatis bangkit, dan semua orang yang kaget -termasuk perempuan yang bertanya tadi- kembali melanjutkan perjalanan dan urusannya setelah melihat saya bisa berdiri kembali.

Saya angkat sepeda, dan mobil hitam itu berhenti sekitar 50 meter di belokan. Seorang perempuan muda ke luar. Saya mendekat dan berteriak marah  karena dia kencang dan tidak pakai lampu belok. Perempuan itu membalas tidak kencang tapi tidak menyinggung soal lampu berbelok. Saya bentak lebih keras ‘bagaimana mungkin saya tidak sempat merem kalau kamu tidak kencang dan tidak pakai lampu…..’ lengkap dengan satu makian kasar.

Perempuan muda itu, menggenakan gaun hitam dan jaket abu-abu seperti kebanyakan pegawai kantoran- sama sekali tidak basa-basi berempati kepada saya yang terjatuh dan mungkin terluka, namun -mungkin karena makian saya atau karena sadar akan kesalahannya- mengatakan dengan kering ‘sorry, I am sorry’

Tragisnya dia minta maaf sambil berjalan ke arah bagian kiri pantat mobilnya yang memukul sepeda saya. Ternganga kecil, saya menggeleng kepala dan memutuskan untuk memeriksa sepeda: ada peot kecil di bagian tangkai rem sebelah kanan dan plastik penutup stang di ujung kanan sobek. Saya teriakkan satu makian lagi untuk dia, naik ke sepeda, dan kembali mengayuh. Perempuan itu tak perduli dan meraba-raba bagian pantat sebelah kiri mobilnya yang tergores. Saya berharap bagian itu juga peot dalam.

Ketika mandi di kantor, terasa perih di bagian lutut kanan: ada lecet merah kecil. Untung cuma lecet, walau masih amat terasa sisa-sisa kekesalan membayangkan perempuan yang menyerempet tadi, yang lebih perduli dengan mobilnya daripada yang diserempetnya.

Saya jadi teringat kepada perempuan yang menangis di dekat jembatan Walterloo karena mengakibatkan seorang pensepeda terjungkal. Seandainya dia yang menyetir mobil hitam, mungkin kesal saya sudah hilang sejak awal.
***

BACA JUGA

Lelaki Gelisah Mengeja Nafas - Dieqy Hasby Widhana

Obrolan Mayat-mayat - Presiden Hayat

Mari Bicara Tentang Cinta yang Mengawang - Suhendri Cahya Purnama

Merenung Energi Nuklir - Liston P Siregar

Ojek ke Surga - Ronny P Sasmita

LIHAT/DENGAR

London

KOMENTAR

ceritanet©listonpsiregar2000