ceritanet   situs karya tulis - edisi 205, selasa 5 aprril 2011  sampul
sajak
laporan
cerpen

novel
memoar
catatan

foto

edisi lalu
kirim tulisan
tentang ceritanet
ikut mailing list

cerpen Mari Bicara Tentang Cinta yang Mengawang
Suhendri Cahya Purnama

Rumput hijau yang kududuki itu memang istimewa. Hijau, lembut dan terbebas dari rasa lembab. Bertebaran dalam pola lingkaran dan terbagi atas empat bagian, terpisahkan tanda (+) yang memagarinya begitu sempurna.

Bangunan-bangunan di sekitarnya pun tak kalah istimewa. Konon dirancang oleh para arsitektur kawakan dari negeri kaum samurai. Bertingkat lima dengan dua buah menara yang gayanya tak kutahu. Tapi melihatnya jadi mengingatkanku akan cerita menara Babylonia yang luruh ke bumi karena keangkuhan para dewa yang tersinggung.

Hmm… memang sebuah adikarya bangunan yang memanjakan mata. Luar biasa, wonderful, subarashii, wunderbar!

Untunglah di jaman posmo ini, tak ada lagi dewa yang mudah tersinggung hingga menghancur-leburkan salah satu bangunan kebanggaan universitas terkemuka di kota kembang itu.

He…

Namun semua keindahan fisik yang merengkuhku saat itu, tercerabut begitu tuntas oleh kata-kata dari seorang sahabat. Kala itu, ia duduk di sampingku dan bercerita tentang sebagian kisahnya.

“Aku lagi bingung. Ada seseorang yang saat ini dekat denganku. Awalnya ia kuanggap sebagai teman biasa. Tapi beberapa waktu lalu, tak kusangka ia bermaksud mengajakku sebagai teman hidupnya,” katanya memulai cerita.

“Ia memang baik, menyenangkan dan humoris. Tapi, ada beberapa hal yang membuatku ragu. Karenanya, hingga kini, aku belum memberikan jawaban padanya. Mengiyakan atau menampik ajakannya itu,” lanjutnya.

Cerita pun terus mengalir. Sesekali kutingkahi ucapannya. Selebihnya, aku lebih banyak menjadi pendengar mengimbangi setiap kegalauan hatinya.

Sejenak, di sela-sela ia bertutur, aku terbenam dalam riuh pikiran di otakku. Mata tertutup namun imajiku bermain dengan leluasa. Pikiranku mengembara, terpesat ke masa lampau. Ketika ribuan hari pernah kulangkahi.
***

“Bagiku, ia bagaikan sebelah rusukku yang telah lama hilang. Memandangnya, membuang segala keraguan yang selama ini menghantuiku. Dan kuyakin, hanya dialah yang akan menggenapkan separuh dien-ku ini,” ujar seorang sahabat yang lain.

Sebentuk percakapan di lain masa dan di lain tempat. Ketika itu, aku dan dia masih mondok di DT, Bandung.

“Kamu harus bantu aku ya,” ujar sahabatku itu. “Kali ini aku benar-benar jatuh hati padanya. Kamu harus percaya itu!” lanjutnya menegaskan.

Aku memang masih ragu mendengar ucapannya. Maklumlah, dengan kebiasaan sahabatku itu yang gemar berkasih mesra dengan makhluk berjenis hawa, tentu saja aku punya alasan kuat untuk tak ikut campur secuil pun. Pantangan besar untuk turut mempermainkan makhluk setipe ibuku, bahkan mengamininya sekali pun. Namun dengan raut muka penuh kesungguhan, dia berusaha keras meyakinkanku. Dan setelah agak terpaksa ia ‘berbaiat’ (he..), hatiku luruh juga.  

Kemudian, enam bulan menjadi ladang pembuktian ketika bersama-sama dengannya aku bergerilya. Jika siang hari menjadi mata-mata, pada malamnya aku menjadi psikolog sekaligus dokter cinta yang mumpuni.

Jarak Bogor-Banten pun, aku dan dia ukur bersama. Dari bibir pantai yang eksotis di Pelabuhan Ratu hingga menanjak di ketinggian pegunungan berbatu di kawasan Bayah, aku lakoni bersama dengannya.

Dan sebuah kehormatan bagiku ketika menyaksikan kisah itu jadi akhir yang indah. Alhamdulilah, sekarang ia dan bidadari hatinya, telah dianugerahi seorang bayi mungil nan manis.

Aku kangen padanya.

Kapan ya, aku bisa meluangkan waktu sejenak untuk menyeberangi Selat Sunda dan menghadirkan diri ini ke rumah mungilnya yang dibangun di tengah-tengah kehijauan pohon itu?

Inilah cerita yang berakhir happy ending. Ketika unsur intimacy, passion, dan commitment, berpadu dengan harmonis. Lahirlah true love. Itu yang dulu kupelajari di bangku kuliah.

Tapi kalau versiku, kisah mereka telah menitahkan jalinan cinta yang cahayanya menyempurnakan jalan penghambaan kepadaNya. Dan ketika cinta itu berpayungkan ikatan suci, iblis pun turut menangis karenanya.
***

Tak berapa lama, pikiranku kembali meloncat dan menghadirkan sebentuk percakapan dengan sahabat berbeda. Memiliki cerita sama namun berakhir pada sebuah kepiluan.

“Aku tidak akan pernah memaafkan pengkhianatannya. Ketika mahligai pernikahan sudah di depan mata, teganya ia meluluh-lantakkan semuanya. Aku tidak akan pernah lagi percaya padanya. Tidak akan pernah!” cerita sahabatku itu.

Kalaulah kata-kata itu keluar dari para artis sinetron atau telenovela, yakinlah tak sedikit pun aku akan mempedulikannya. Namun, ucapan itu meluncur dari seseorang yang dari matanya, kudapati luka begitu mendalam. Mengakar begitu jauh dan mungkin tidak akan pernah tertutup, meskipun berbilang masa menyelubunginya.

Memang, ‘Sayap-sayap Patah-nya’ Kahlil Gibran telah mengabarkan agar seseorang tetap maju dan berserah diri ketika cinta merangkulnya. Bertahan dan tegar meskipun dibalik sayap cinta itu, ada pedang yang bersemayam dan mengintai.

Tapi ironilah yang kusaksikan. Kala sahabatku itu pasrah, tanpa ampun, pedang-pedang itu mengobrak-abrik tubuh mungilnya. Mencecah setiap potongan hati, hingga tak menyisakan sedikit pun kepercayaan akan cinta. Dan ia akhirnya hilang tanpa jejak. 

Sahabat, di mana engkau sekarang? Please, hubungi aku bila kau telah lelah menuntaskan jalan cinta berujung kepiluan itu. Mari kita kembali bicara tentang kisah cinta yang lebih bermakna. Kita taburi kegelapan malam dengan cahaya kasih yang mampu memancar hingga langit ketujuh.

Jangan jadikan dirimu sebagai Layla yang meringis raganya karena cinta tak bertepi. Dan Majnun pun, akhirnya menjadi majnun (gila) karena cintanya pada Layla.

Kuyakin, cinta tak akan membuat si empunya terselubung kelemahan, terpenjara dan terlumpuhkan olehnya. Cinta itu hadir hanya untuk melahirkan sebuah cipta dan cita. Dan untuknya, manusia layak menyandang gelar sebagai khalifah. Begitulah kumandang seorang Muhammad lqbal.
***

“Lalu, aku harus bagaimana? Menurutmu, apakah ia layak menjadi pendamping hidupku? Bisa beri aku saran gak?”

Tersentak aku saat mendengar serentetan pertanyaan. Ternyata, walaupun pikiranku telah mengawang kemana-mana, tapi jasadku masih bercokol dihadapannya. Ia, sahabat yang tetap setia berbagi kehijauan rumput yang istimewa itu.

Aku hanya termangu. Terdiam membatu sembari menyesapi desir angin yang begitu nikmat kurasa. Dan ketika hendak berucap, kata-kata itu hanya mengiang di benak. Sungguh, kali ini aku tak mampu berkata apa-apa. Entah itu kata-kata bijak, atau tips-tips cinta terjitu, menguap tak tahu kemana. Lidahku kelu.

Sahabat, maafkan aku bila kali ini tak bisa banyak membantu. Senyatanya, untuk urusan mengurai cinta, aku pun tetap tergagap mengartikannya. Masih berkelana menyeresap dan tertatih mengumpulkan butir-butir terserak. Dan terbilur oleh keraguan yang menyesak.

Philia, eros, agape, narsis, mania, pragma, ludus, storage ataupun ragam cinta lain, hanya menghantarkan kebingungan padaku. Kuakui, teramat sukar menebak maunya hati.

Tapi satu hal yang kuyakin pasti, bila suatu masa aku bertemu dengan seseorang yang padanya hatiku terpikat, dan mampu membuatku berkata, ”Setelah Tuhan, kaulah yang mampu mematikan matahari.” Aku tak akan pernah mengacuhkannya.

Akhirnya, obrolan itu pun kita sudahi. Saat menatap langit yang mulai memudar, terngiang sebuah ucapan di telingaku, entah dari mana datangnya. Dan segera kusampaikan itu padanya dalam bisik angin yang berhembus.

 "Jangan tanyai akal tentang cinta itu apa. Pastilah akal akan menunjukkan kekurangannya, dan cinta pun tak akan terasa menyapa. Tapi tanyailah hati. Jika ia menjawab positif, walau tak bulat, maka tugaskan akal untuk mencari pembenarannya."

Mintalah fatwa dari hatimu, jangan dari akalmu, sahabat…
***

BACA JUGA

Obrolan Mayat-mayat - Presiden Hayat

Merenung Energi Nuklir - Liston P Siregar

Ojek ke Surga - Ronny P Sasmita

Orang-orang Sisa Kekalahan - Dieqy Hasbi Widhana

LIHAT/DENGAR

Hong Kong

KOMENTAR

ceritanet©listonpsiregar2000