ceritanet   situs karya tulis - edisi 204, kamis 17 maret 2011  sampul
sajak
laporan
cerpen

novel
memoar
catatan

foto

edisi lalu
kirim tulisan
tentang ceritanet
ikut mailing list

catatan Merenung Energi Nuklir
Liston P Siregar

Di depan layar TV, kami berdua –ketika sedang sedikit lega tak banyak pekerjaan –mengikuti berita pasca ledakan ketiga di reaktor Fukushima. Waktu itu empat hari setelah gempa dan tsunami menghantam Jepang. “Inilah gawatnya, reaktor nuklir,” kata kawan itu.

Tapi bagaimana mungkin pembangkit listrik nuklir diabaikan, ketika listrik menjadi nafas kehidupan dunia. “Kalau semua orang di seluruh dunia sepakat tak pakai listrik, okelah,” tanggap saya praktis.

Tiga tahun lalu, saya ke daerah pelosok Kabupaten Kutai Kertanegara, Kalimantan Timur, melihat danau-danau batuan peninggalan tambang batubara -yang sudah pindah ke tempat lain, meledakkan lagi gunung hijau baru, dan menambah lagi danau batuan berair keruh yang baru atau lembah bebatuan kosong yang kering.

Menghancurkan alam, menutup sumber kehidupan maupun budaya orang Dayak, dan untuk sumber energi batubara, yang kotor polusinya. Orang setempat cuma jadi Satpam, pembersih atau pelayan. Dilatih untuk supir lori pengangkut batu bara -yang lalu lalang di jalan tanah keras yang pernah menjadi hutan mereka- pun tidak. Tanpa menunggu gempa 8 skala Richter, masyarakat sudah menderita pemiskinan di kampung sendiri oleh para pendatang, yang menghancurkan sistem kehidupan setempat.

Jadi PLTN -yang patuh standard keamanan dan keselamatan baku dan yang baru melempar risiko jika terjadi bencana alam- terasa lebih tepat. Risiko yang sama juga ada di PLTA Bendungan Tiga Ngarai di Cina, yang dibangun dengan mengusir 1,2 juta jiwa warga. Jika bendungan itu –yang mengalami keretakan kecil hanya beberapa hari setelah dibuka tahun 2008 lalu- jebol, maka ratusan ribu orang pasti mampus karena bakal tak ada peringatan dini.

Risiko selalu ada di semua pembangkit listrik skala besar, dan selama orang haus listrik, PLTN tak bisa disingkirkan. Begitukan?

***
Ada satu ciri tekonologi nuklir -menurut wartawan lingkungan The Independent, Michael Mc Carthy- yang tampaknya sudah dilupakan orang, bahwa teknologi itu milik militer dan bekerja dengan cara militer: kamu atau saya yang mati. Dan militer sering sekali bekerja secara rahasia. Teknologi seperti itulah yang diterapkan ke dalam kehidupan sipil, yang semakin haus listrik.

Di Fukushima, sampai terjadinya ledakan keempat, masih belum ada angka terbuka tentang kadar radiasi di dalam reaktor, yang diduga sudah amat tinggi karena ditahan terkungkung di tempat yang ditutup rapat. Lima puluh pekerja tanpa wajah –karena menggunakan pakaian dan helem anti radiasi untuk bekerja keras memompa air laut ke dalam reaktor- diperkirakan sedikitnya terpapar radiasi lima kali lebih tinggi dari kadar maksimal yang diizinkan Amerika Serikat untuk para pekerja nuklirnya.  Semua orang menunggu, apakah tingkat radiasi itu akan tetap bisa dipertahankan terus di dalam reaktor tanpa harus dilepas ke udara terbuka.

Banyak ahli kesehatan yang yakin bencana separah Chernobyl tidak akan terulang di Fukushima. Pemerintah Jepang dinilai sudah menempuh langkah-langkah seksama. Dua puluh kilometer ditetapkan sebagai kawasan tertutup, semua warga sekeliling langsung dievakuasi dan diperiksa kadar radioaktifnya. Sejauh ini 150 warga sipil terpapar radioaktif  dan 23 harus menjalani dekontamintasi. Di kalangan pekerja reaktor - sejak gempa dan tsunami- tercatat lima tewas, 22 cedera, dan dua hilang, namun disebutkan karena berbagai alasan bukan karena radioaktif semata.

Jepang punya sistem yang handal, tapi tetap semua orang cemas menanti apakah ada kejutan besar di balik informasi yang ke luar sekeping demi sekeping.

Soalnya, ledakan Chernobyl tahun 1986 -yang paling banyak diangkat media- sempat ditutup-tutupi rezim Uni Soviet. Dua hari kemudian ilmuwan di Swedia mendeteksi tingginya kadar radioaktif di negara mereka, yang terpisah lautan sejauh 1.000 kilometer lebih dari Ukraina. Terbongkarlah bencana nuklir itu: 56 orang tewas langsung akibat radiasi, termasuk 19 staf dan pemadam kebakaran yang kulitnya melepuh.

Sekitar 4.000 ribu lain mati karena penyakit yang berkaitan dengan radiasi nuklir, entah kanker tiroid, kanker otak, atau gangguan pernafasan. Chernobyl Forum, di bawah PBB, mencatat sekitar 9.000 korban jiwa namun Greenpeace memperkirakan 15 tahun setelah ledakan, korban masih bermatian dengan jumlah total 93.000 jiwa, plus ratusan ribu lain yang masih menderita penyakit kronis akibat radiasi.

Chernobyl pastilah bukan satu-satunya kecelakaan nuklir dunia. Laporan IAEA –yang menempatkan bencana Chernobyl pada tingkat tujuh dalam skala tujuh- mencatat sedikitnya delapan kecelakaan di reaktor nuklir yang melepas radioaktif ke udara terbuka sejak tahun 1957. Hampir semua diminimalkan dampaknya atau, setidaknya, ditahan-tahan informasinya.

Kebakaran reaktor militer di Windscale, Inggris, tahun 1957 –pada skala lima IAEA- dirahasiakan dulu oleh pemerintah dan baru 24 jam kemudian dinas pemadam kebakaran sempat diinformasikan. Sekitar 200 kasus kanker ditemukan berkaitan dengan radiasi walau studi tahun 2010 memperlihatkan tidak ada efek jangka panjang yang diderita para pekerja yang ikut memadamkan maupun membersihkan reaktor itu.

Di urutan kedua IAEA, pada skala enam, adalah Khystym, reaktor militer Uni Soviet yang meledak sebulan sebelum Windscale. Kerahasiaan fasilitas senjata nuklir itu membuat sepekan setelah ledakan barulah 10,000 warga sipil di sekitarnya dievakuasi tanpa mendapat penjelasan dan tertanya-tanya sendiri tentang penyakit kulit yang meleleh misterius. Diperkirakan 500.000 orang terpapar radiasi 20 kali lebih tinggi dari korban Chernobyl.

Cikal bakal pengembangan teknologi nuklir memang untuk kepentingan militer, bukan sebagai alternatif dari energi fosil minyak. Dan pada masa perang dingin, Amerika Serikat kabarnya mengetahui bencana Khystym, namun mendiamkan karena kekhawatiran mengganggu proyek senjata nuklir mereka, yang berprinsip: kamu atau saya yang mati. 

Dua puluh tahun mengenang bencana nuklir Chernobyl, fotografer Robert Knoth memotret sejumlah korban Chernobyl di Ukraina dan Belarusia yang menderita kanker otak maupun tiroid akibat radiasi. Salah satu dimuat Foto8 dengan judul: Annya, Chernobyl Certificate No. 000358.

Waktu reaktor Chernobyl meledak tahun 1986, Annya, di Belarusia, baru berusia empat tahun dan sedang riang-riangnya lari ke sana kemari, kenang ibunya. Tak lama setelah ledakan Chernobyl, sampai sekarang, dia lumpuh tergolek di tempat tidur karena radiasi nuklir membuatnya menderita tumor otak. Annya tak mungkin sembuh, hidup dari tunjangan negara, setelah akhirnya dia mendapat sertifikat resmi No. 000358.

Semua foto Robert Knoth hitam putih, dan orang tak perlu menjadi melankolis untuk bersimpati pada Annya, juga pada ibunya. Satu generasi -yang seharusnya mendukung generasi orang tuanya-  justru menjadi manusia tak berdaya.

***
Merenung risiko nuklir Fukushima, saya teringat perjalanan pekan ketiga Februari ke sebuah pantai di Great Yartmouth, Inggris timur. Sore itu cuaca agak hangat, suasana tenang, riang, dan santai. Ada anak-anak yang main pasir, remaja yang main layang-layang, pria yang membawa anjing, atau saya yang cuma lontang lantung.

Di kejauhan ada belasan kincir angin besar, milik perusahaan listrik dan gas Inggris, EON. Ada papan informasi: tingginya sekitar 118 meter dari dasar laut, menghasilkan 60 MW, atau setara dengan kebutuhan listrik 30.000 rumah tangga. Terlihat ada kapal kecil berlayar di bawahnya, walau tak jelas kedekatannya dengan kincir angin itu. Seandainya ada gempa dan tsunami yang membuat kincir ambruk, mungkin cuma kapal itu saja yang tertimpa batangan besi raksasa.

Bisakah teknologi kincir angin diandalkan untuk kebutuhan listrik sekarang dan masa depan? Entahlah.

Tanggal 6 Maret lalu, sekitar 250 warga Inggris di bawah lembaga kemasyarakatan Cambrian Mountains Society, menggelar aksi unjuk rasa menentang pembangunan 64 kincir angin energi –masing-masing setinggi 140 meter- di Nant y Moch, Wales, Inggris barat daya. Alasannya? Merusak keindahan alam yang unik.

Saya pernah ke beberapa tempat di Wales, belum ke Nant y Moch. Tapi Agustus tahun lalu saya melintasi jalan-jalan kampung yang sempit di sekitar Ponterwyd, sekitar 10 kilometer dari danau penampungan air Nant y Moch.

Pemandangan alam di Wales memang indah, dan ada banyak foto kenangan dari sana, tapi saya memilih melihat kembali foto-foto Annya, Chernobyl Certificate No. 000358.

Masalahnya jauh lebih serius dari sekedar keindahan alam.
***

BACA JUGA

Ojek ke Surga - Ronny P Sasmita

Orang-orang Sisa Kekalahan - Dieqy Hasbi Widhana

Jawabku Untukmu - Suhendri Cahya Purnama

Tuhan Kutitipkan Surat Untuk Bapakku - Aminatul Faizah

Labirin ibukota - Gendhotwukir

LIHAT/DENGAR

Great Yarmouth

KOMENTAR

ceritanet©listonpsiregar2000