ceritanet   situs karya tulis - edisi 203, rabu 23 februari  sampul
sajak
laporan
cerpen

novel
memoar
catatan

foto

edisi lalu
kirim tulisan
tentang ceritanet
ikut mailing list

cerpen Tuhan Kutitipkan Surat Untuk Bapakku
Aminatul Faizah

Hal yang terkonyol namun melegakan adalah ketika aku duduk di sini. Didekat Bosphorus dan di dekat makam seorang yang kuanggap bapak.

Bapakku yang telah lama mati dalam hati, kini kutemukan meski hanya angan-angan belaka.

Di sini, jauh dari rumahku. Bukannya aku ingin berlari. Aku hanya ingin merasakan rasanya diperanak oleh bapak yang sesungguhnya. Meski dulu saat ia hidup, dan kini aku kehilangan orang yang menyumbangkan kepingan kasih sayang padaku.

Aku ingin Tuhanku tahu...

Tuhanku tahu yang ia lakukan padaku. Betapa kecewanya aku dan aku ingin Tuhan membaca yang kutulis padanya. Pada nasibku yang tak kunjung berubah akan luka hatiku. Luka yang bahkan sudah menjamur dan membusuk.

Tahukah kau itu Tuhan, Maha Tahu.

Kau tahu lukaku...

Terlalu lama bapakku menggoreskannya, berulang-ulang seolah menyakitiku adalah bagian hidupnya. Tuhan, aku tak pernah sekecewa ini. Aku tak marah ketika kau jadikan seorang anak miskin. Aku tak marah ketika teman-temanku menghinaku. Juga kuterima cacatku.

Tapi entah kau sisihkan aku ketika menciptakan aku dari bibit bapakku. Tidakkah kau kasihan padaku?

Tuhan, aku ingin membunuh bapakku, atau aku akan membunuh diriku. Agar kubisa menjauh dari manusia yang tak mengasihi aku atau setidaknya amarah bapak tak akan ada lagi. Bapak akan tenang karena orang yang paling ia benci telah pergi.

Tuhan, adakah cara untuk membuat bapakku menyanyangiku?

Katakanlah dan akan aku coba dan kan kuhapus kekecewaanku. Akan aku coba, seperti doa yang kupanjatkan padamu setiap detiknya agar tangan bapakku menyentuhku dengan halus. Agar mulutnya memanggilku pelan, agar telinganya mendengarku sabar, agar matanya memandangku lembut. Agar kasih sayangnya memencar. Agar hatinya terbuka bahwa bukan aku yang menginginkan lagi sebagai perempuan. Agar ia sadar bahwa engkau, Tuhan, yang menentukannya.

Tuhan, aku tak menyesalkan ibu dan kakakku. Juga tak menyesalkan detik-detik yang habis untuk mengemis. Tak pernah kusesalkan tanganku yang cuma segumpal daging tak berbentuk.

Tuhan, di sini di atas Bosphorus, aku menitipkan sesuatu kepada bapakku. Bahwa aku ingin membunuhnya, memutus pertalianku dengan dia. Tapi aku tak bisa Tuhan.

Sampaikan padanya.

Sampaikanlah lewat angin, lewat hujan. Ku tahu engkau mampu...
Istanbul, 27 Januari 2011
***

Bapak...
Siapakah aku ini?

Adakah kau cintai aku sama seperti cintai kakak-kakakku atau sama seperti kau sanjung anak tetangga? Pernahkah engkau melakukannya meski hanya semenit?

Meski tak pernah, aku sayang kau Bapak.

Datanglah kepadaku, bukan lewat mimpi. Datanglah secara nyata dan rangkul aku dalam kalbumu. Karena aku kini terjatuh akan kasih sayangmu. Bisikkan namaku seperti kau bisikkan nama yang lain, meski hanya sekali. Hanya sekali.

Bapak...

Aku tak bertanya kenapa kau benci aku? Tapi bisahkah aku meminta kasihmu.

Rangkulah hatiku dan siramilah jiwaku dengan cintamu?

Bapak...

Kau kemana? Aku di sini menunggumu, selalu. Jangan kau tinggalkan aku dan membiarkan luka terus menganga.

Hanya beberapa saat, hapuslah air mataku. Itu yang kuminta.

Hanya cinta. Hanya kasih.

Aku sayang kau bapak.
***

BACA JUGA

Jawabku Untukmu - Suhendri Cahya Purnama

Labirin ibukota - Gendhotwukir

Aku dan Yojuni, ketika Noru Tiada - Presiden Hayat

Yang Tersentuh dan Terindera Oleh Jiwa-jiwa Merindu - Suhendri Cahya Purnama

Panggil Aku Sara - Ani Mulyani

LIHAT/DENGAR

London

KOMENTAR

ceritanet©listonpsiregar2000