ceritanet   situs karya tulis - edisi 203, rabu 23 februari 2011  sampul
sajak
laporan
cerpen

novel
memoar
catatan

foto

edisi lalu
kirim tulisan
tentang ceritanet
ikut mailing list

Ini raga akan hendak dibawa ke mana?
Ini hati akan dipautkan kesiapa?
Dan ini hidup akan dipersembahkan untuk apa?
Malam telah merangkak mendekati titik terkelam. Sisa-sisa lantunan takbir, tasbih, dan
tahmid masih mengalun indah. Mengawang ke angkasa. Menembus tujuh lapis langit dengan membawa impian-impian terjauh manusia.  Siklus itu senantiasa berulang. Setiap waktu. Setiap masa. Setiap tahun. Setiap jarum jam di penghujung kamar bercat putih itu yang masih berdetak. Jawabku Untukmu Suhendri Cahya Purnama

Hal yang terkonyol namun melegakan adalah ketika aku duduk di sini. Didekat Bosphorus dan di dekat makam seorang yang kuanggap bapak. Bapakku yang telah lama mati dalam hati, kini kutemukan meski hanya angan-angan belaka. Di sini, jauh dari rumahku. Bukannya aku ingin berlari. Aku hanya ingin merasakan rasanya diperanak oleh bapak yang sesungguhnya. Meski dulu saat ia hidup, dan kini aku kehilangan orang yang menyumbangkan kepingan kasih sayang padaku. Aku ingin Tuhanku tahu...
Tuhan Kutitipkan Surat Untuk Bapakku Aminatul Faizah

BACA JUGA

Labirin ibukota - Gendhotwukir

Aku dan Yojuni, ketika Noru Tiada - Presiden Hayat

Yang Tersentuh dan Terindera Oleh Jiwa-jiwa Merindu - Suhendri Cahya Purnama

LIHAT/DENGAR

London

KOMENTAR

ceritanet©listonpsiregar2000