ceritanet   situs karya tulis - edisi 202, rabu 2 februari  sampul
sajak
laporan
cerpen

novel
memoar
catatan
foto

edisi lalu
kirim tulisan
tentang ceritanet
ikut mailing list

 


Memahami kata-katamu serasa memasuki labirin ibukota. Jalan-jalan telah menjadi jaring laba-laba dan orang-orang sibuk mengunci diri di dalam telepon genggam. Diam membatu seperti kekerasan dan petuah yang ingin kau tanamkan pada setiap generasi sebagai kebohongan anak-anak yang diternakkan dalam ruang udara yang disirkulasi. Setiap tanda tanya tak lebih hanya sebuah koloni titik yang menjelma menjadi tanda seru. Labirin Ibukota Gendhotwukir

Denting sendok yang terpeleset membentur piring disusul denyit garpu yang tergesek pisau saat mengiris daging yang dicocoknya, sesekali terdengar dari meja-meja di sekitar kami. "Kamu tak akan bisa menjalani masa depanmu dengan tenang, kalau kamu tidak berdamai dengan masa lalumu." Beberapa saat dia menatapku, menegaskan agar aku mengikuti kata-katanya. Aku dan Yojuni, ketika Noru Tiada Presiden Hayat

BACA JUGA

Yang Tersentuh dan Terindera Oleh Jiwa-jiwa Merindu - Suhendri Cahya Purnama

Panggil Aku Sara - Ani Mulyani

Matahari, Bulan dan Gugusan Bintang - Aminatul Faizah

LIHAT/DENGAR

Jakarta

KOMENTAR

ceritanet©listonpsiregar2000