ceritanet   situs karya tulis - edisi 202, rabu 2 februari  sampul
sajak
laporan
cerpen

novel
memoar
catatan
foto

edisi lalu
kirim tulisan
tentang ceritanet
ikut mailing list

cerpen Aku dan Yojuni, ketika Noru Tiada
Presiden Hayat

Denting sendok yang terpeleset membentur piring disusul denyit garpu yang tergesek pisau saat mengiris daging yang dicocoknya, sesekali terdengar dari meja-meja di sekitar kami.       
 
"Kamu tak akan bisa menjalani masa depanmu dengan tenang, kalau kamu tidak berdamai dengan masa lalumu." 
 
Beberapa saat dia menatapku, menegaskan agar aku mengikuti kata-katanya.

"Dia sudah pernah dicium orang lain, Yo" aku balas menatapnya. Sedih.

"Itu 17 tahun yg lalu bro! Saat kita masih SMA. Kamu masih belum bisa lupakan," dia terperanjat dan hampir tersedak.

"Cacat lu! Dia dicium bekas pacarnya 17 tahun yang lalu dan kamu masih belum bisa lupakan?" ulangnya.

Aku menggeleng pelan; "Dia juga mengaku sudah tidak perawan lagi."
 
Pffuff!

Dunia disekitarku seperti melambat dan berhenti. Yang bergerak cepat hanyalah bayangan adegan mesra antara tunanganku dengan bekas pacarnya. Seperti layaknya film 3D yang diulang-ulang. Seperti nyata di depanku. Menyakitkan.

Tunanganku sudah tidak perawan lagi!

Pikiran seperti ini yang selalu menghalangi kata-kata menikahinya keluar dari mulutku. Dari awal, hati kecilku sebenarnya sudah tidak setuju dengan pertunangan ini. Kalau dia sudah merelakan dicium dan menyerahkan keperawanannya kepada bekas pacarnya, seharusnya dia hidup bersama dan bahagia dengan bekas pacarnya itu. Bukan hidup dengan orang lain.

Menyerahkan keperawanan adalah keputusan besar dan penting dalam hidup. Tidak bisa sembrono karena kita bukan anjing, ayam atau kucing.

Tapi aku tidak berani melawan kehendak orang tuaku yang menjadi sahabat baik orangtuanya. Aku takut durhaka.
 
"Dia sudah tidak perawan lagi" otakku menyiksa lagi. 
 
Adegan-adegan mesra tunanganku dengan bekas pacarnya muncul lagi menganiaya.
 
Menyakitkan.
 
"Are you all right bro?" ucap Yojuni pelan.

Kuhadapkan telapak tangan kiriku kedepannya, mengirimkan pesan bahwa aku baik-baik saja. Serius dia mengamati raut wajahku. Aku jengah diperhatikan seperti itu. Beberapa detik jadi canggung.

Pesananku datang, menyelamatkan suasana sarapan pagi yang muram. Senyum, anggukan kepala, dan ucapan terimakasihku ke pramusaji kubalas serupa. Dengan cekatan, dia letakkan piring datar berwarna putih berisi plain omelette yang di meja di depanku.

"Sorry Yo. Jadi curhat jadinya," aku beranjak dari kursi setelah pramusaji meninggalkan mejaku. Kucari wastafel untuk cuci tangan lagi. Kurasakan pandangan mata Yojuni masih mengikutiku.

 Aku datang ke hotel tempat dia menginap ini untuk menemaninya sarapan karena Yojuni hanya meeting sehari di Jakarta. Besok pagi dia sudah harus terbang pulang.

Dia sahabatku. Meski kami berbeda seperti langit dan bumi, dia selalu mengerti masalah-masalahku. Banyak yang hanya bisa kusampaikan pada Yojuni dengan nyaman.  
 
Aku, Yojuni, Noru -tunanganku- adalah teman sekolah sejak SMP. Kami berpisah selepas SMA ke tempat kuliah masing-masing. Yojuni dan Noru ke Melbourne dan aku ke Singapore.

Lulusan sekolah luar negeri masih jadi jalan tol untuk bekerja dan berkarir di negeri ini. Aku di sebuah perusahaan asing di Jakarta, juga Yojuni di Balikpapan dan Noru di Surabaya.

Namun kisah cinta kami tak semulus karir. Yojuni pernah punya pacar serius ketika sekoilah di Melbourne tapi putus dan setelah itu, akunya, dia punya banyak pacar-pacar yang tidak serius.

Noru, kata Yojuni, terguncang ketika memergoki pacarnya selingkuh. Niatnya memberi kejutan indah -pulang diam-diam saat libur kuliah- malah menggores hatinya. Lima tahun pacaran serius –begitulah kata Noru- dan saling melepas keperjakaan dan keperawanan, ternyata tidak mampu mengikat mereka berdua.

Selera purba pacarnya lebih memilih seorang pegawai salon berdada besar, tutur Yojuni menyindir.

Aku dua kali putus karena memang tak serius. Kata Yojuni aku terlalu serius, "Nggak ada itu cinta pertama, nyambung dan kawin, beranak pinak dan bahagia. Kagak ada bro."

Entahlah. Yojuni memang sepertinya semakin liberal sedang aku menyeberang semakin konservatif.
***

Ketika ayah Noru meninggal, setahun lalu, kami bertiga berkumpul di Solo. Tak sempat ngobrol panjang, dan dari tempat pemakaman Yojuni langsung terbang ke Balikpapan. Aku masih tinggal di Solo menemani ayah dan ibu, yang kenal dekat dengan ayah dan ibu Noru.

Dalam perjalanan pulang dari Solo, ibu menjelaskan idenya dan ide orang tua Noru yang cukup mengejutkan. Mereka sepakat -paling tidak tanpa lebih dulu berbicara denganku- untuk mengawinkan aku dan Noru. Alasannya, kata ibu, karena kami berdua sudah berusia 30 tahun dan belum juga menikah.

Sedikit terkejut, aku diam saja dan ibuku sepertinya tidak perduli. Juga ayahku. Keputusan sudah diambil dan aku tak punya pilihan lagi. Dan seperti biasa pula, akhirnya aku harus mengakui ketakutanku mendebat ibu.

Kuceritakan pada Yojuni tentang hubunganku dengan Noru yang seperti berjalan di tempat. Ini kesempatanku untuk berkeluh kesah dengan ringan dan Yojuni tak punya waktu banyak. besok dia sudah pulang ke Balikpapan dan aku bukan tipe orang yang suka bertelepon sampai berjam-jama, jadi sisa-sisa waktu Yojuni kueksploitir untuk curhat habis-habisan.

Tapi rupanya bukan hanya aku yang butuh telinga Yojuni, juga sebaliknya.

"Singapore dan Jakarta yang bebas tidak menjadikanmu berubah, tidak sepertiku," raut wajahnya murung seperti daun maple yang luruh dan pasrah terhadap angin musim gugur. Sesaat aku tidak percaya perempuan yang selama ini kuanggap punya sel anti kecewa di darah putihnya. Yojuni yang selalu riang, bisa mendadak kelam.

 "Kau tau apa yang terjadi di Melbourne denganku?" kali ini hampir menangis.

"Tidak usah kau ceritakan kalau itu hanya menbuat kau sedih. Aku hanya punya sedikit sahabat dan aku tidak ingin sahabatku menangis hari ini," kuusap-usap tangannya, mengemis untuk tidak cerita.

"Tony, pacarku yang ganteng, wine, musim dingin dan suasana yang romantis membuat pengalaman bersetubuh pertamaku terasa indah. Tapi itu hanya berlangsung satu hari."

Yojuni diam, air matanya menetes dan kupandang matanya, terus kuusap tangannya berharap dia tidak usah harus melanjutkan ceritanya.

"Tanpa sengaja siangnya aku mendengarkan ocehan Tony ke teman-teman kampusnya. Katanya ML dengan perawan nggak enak. Suck. Seperti bercinta dengan mayat. Nggak hot. Ditengah-tengah kerasnya tertawa, dia malah bersumpah tidak akan bercinta lagi dengan perawan. Dia dan kawan-kawannya tertawa besar."

Suaranya tersekat karena emosi.

"Anjing! Saat itu juga aku labrak Tony dan kugampar dia." Tangis Yojuni pecah.

 Kugenggam tangan Yojuni erat-arat. Kubisikkan ketelinganya: “Kalau kau minta aku untuk membunuh anjing itu akan aku lakukan.“

Yojuni berdiri, merogoh tas tentengnya dan melambaikan kunci kamarnya.  

Life is complicated. Sepuluh menit kemudian kami berdua sudah di kamar Yojuni. Kami habiskan semua jenis alkohol di minibar.

Semua, sampai kering.
***

BACA JUGA

Labirin ibukota - Gendhotwukir

Yang Tersentuh dan Terindera Oleh Jiwa-jiwa Merindu - Suhendri Cahya Purnama

Panggil Aku Sara - Ani Mulyani

Matahari, Bulan dan Gugusan Bintang - Aminatul Faizah

LIHAT/DENGAR

Jakarta

KOMENTAR

ceritanet©listonpsiregar2000