ceritanet   situs karya tulis - edisi 201, selasa 18 januari 2011  sampul
sajak
laporan
cerpen
novel
memoar
catatan
foto
edisi lalu
kirim tulisan
tentang ceritanet
ikut mailing list

sajak Yang Tersentuh dan Terindera Oleh Jiwa-jiwa Merindu
Suhendri Cahya Purnama

Hening.

Detik pun merambat kala sepasang kaki mengayuh ombak. Kegelapan menyelimuti dengan serat-serat kelam tak tertembus. Nun di penghujung timur, mentari masih teramat dini untuk memunculkan pias-pias kehangatan. Hanya deru angin memayungi setiap langkah kaki yang tercetak jelas di pasir putih. Tapi hanya untuk beberapa helaan nafas. Setelahnya, datang serangkum ombak beringas menyantap.

Hilang. Sirna.

Orang-orang memanggilnya sebagai penyair. Yang mampu menorehkan serangkum aksara bermakna. Yang mampu mengembuskan nafas surga dari titian terjauh pencerapan manusia. Dan menghadirkan sajian terindah dengan untaian kata per kata dari pena yang selalu ia bawa, kemana pun ia ada.

Ia, kata orang-orang, tidaklah terlahir dari negeri ini. Di negeri di mana kuli diangkat jadi raja dan berperangai seperti kuli. Negeri tempat kebajikan mudah ditemukan. Tapi hanya untuk ditukar dengan sekantung berlian dan sekeranjang uang.

Ia, kata orang-orang, terlahir dari negeri sejuta pemikiran. Suatu tempat ketika Tuhan untuk pertama kalinya menabur segantang harapan. Bahwa ciptaannya kelak, suatu saat, akan mengharapkan hadirnya Tuhan. Bukan untuk surga dan neraka yang dijanjikan, tapi untuk cinta. Hanya untuk cintanya!

Sang penyair pun telah lama berlalu-lalang di negeri ini. Dari satu generasi ke generasi berikutnya. Dari satu milenium ke milenium selanjutnya. Hingga tak satu orang di negeri ini mengingat dengan pasti, siapa ia sesungguhnya. Dari mana ia berasal, dan apa yang ia cari.

Mereka hanya mengetahui sang penyair lebih mencintai ketenangan dan kesunyian, untuk menemukan momen-momen kontemplatif yang dicari. Seperti berjalan sendiri di atas bukit tepat malam bulan purnama menyinari. Bersenandung lirih di tengah-tengah hutan perawan, ditemani nyanyian binatang malam.

Atau seperti saat ini, membaurkan diri di keheningan ombak yang menyapu pantai. Sembari mata menatap jauh di kelam malam. Semua tingkah polah yang ia tunjukkan, ia lakukan untuk membuka ruang-ruang perenungan agar lebih mengenal cinta yang utuh. Sebuah cinta yang hadir dari kesadaran untuk mencari kesempurnaan.

Dan saat serpihan-serpihan cinta itu didapatkan, dengan tak sabar akan ia bagikan kepada seluruh penduduk negeri. Meskipun tak banyak yang sudi menerima, bahkan meliriknya pun tidak. Mereka lebih disibukkan oleh cinta yang lain: cinta perut dan di bawah perut.

Dulu, ia bukanlah penyair. Dulu, ia lazimnya penduduk negeri ini. Lahir, tumbuh dan menemukan pasangan hidup. Merenda masa depan bersama, dan berharap waktu berhenti berdetak agar kebahagiaan selalu lestari. Kefanaan bukanlah jadi perbincangan. Hidup setelah hidup hanya guyonan menjelang sore di warung kopi, sambil mengunyah sepotong pisang goreng. Dan bila malam telah pekat, kakinya akan membawa ia ke peraduan sang kekasih.

Begitu terus berulang. Begitu terus terjadi.

Dulu, ia memang terbiasa menulis. Tapi bukanlah syair yang menghiasi lautan retorika kearifan. Syair yang mampu membungkas gerigi tiram berisikan mutiara kehidupan. Kalaulah ada syair yang tercipta, itu hanyalah retorika picisan. Berisi pemujaan kepada sang kekasih. Mengagungkan cinta dan merasakannyas sebagai  kebahagiaan dan ketenangan hidup sesungguhnya.

Terus berulang, dan terus terjadi.

Hingga pada suatu ketika, masa memberangus semua. Bagaikan laba-laba yang terjerat oleh jaringnya sendiri, ia terlempar pada satu kesadaran. Hidup begitu rapuh. Serapuh jaring laba-laba yang sebelumnya dianggap begitu perkasa. Kekasihnya hilang ditelan badai. Teman-temannya ambruk diraup lindu. Negerinya sirna diterjang kepongahan manusia. Menyisakan ia sendiri. Terdampar di antara puing-puing ketakabadian.

Segala sandaran hati yang ia punya, raib tak berbekas. Tak ada lagi tempat mengadu, memohon, atau pun berkeluh kesah. Hanya satu yang ia dambakan. Kematian. Tapi, kematian tak pernah membukakan pintu baginya. Ia telah dikutuk untuk menjadi abadi. Keabadian yang berbuah manis untuknya. Keabadian yang mengantarnya untuk mengenal Tuhan Sang Penggenggam Jiwa.

Iapun tak pernah lelah arungi ombak di kelam malam. Atau mendulang cahaya purnama, hanya ditemani nyanyian binatang malam. Karena ia mendambakan sebuah tempat untuk jiwanya yang rapuh beristirahat dari perjalanan panjang dan berliku. Sebuah rumah spiritualnya. Syair-syairnya selalu bercerita akan hal itu. Kerinduan untuk kembali ke rumah jiwanya. Rumah spiritual.

Itulah ia. Penyair yang setiap syairnya telah menjadi legenda. Hingga tak jarang banyak orang menganggapnya bagaikan dewa, atau setidaknya manusia setengah dewa. Karenanya, pabila suatu masa kau mendapati segores syair bertahtakan kebijaksanaan. berjubahkan cinta mengenai Yang Maha Cinta. Yakinkan dirimu bahwa itu adalah darinya: Sang penyair.

Jangan lupa untuk menaburkan serangkai doa. Agar penyair itu menemukan rumah spiritual yang begitu ia dambakan. Rumah tempat jiwa-jiwa yang tenang dipanggil dengan penuh kasih oleh Sang Penggenggam Jiwa. Suatu saat. Suatu waktu kelak. Bila rumah spiritual telah ia temukan. Pasti penyair itu akan mengundang kita. Aku, engkau, dan mereka yang memiliki hati sebening kaca.

Ketika itulah rumah spiritual sang penyair akan terlihat. Tersentuh dan terindera oleh jiwa-jiwa yang merindu.
***

BACA JUGA

Panggil Aku Sara - Ani Mulyani

Matahari, Bulan dan Gugusan Bintang - Aminatul Faizah

Neraka Level 13 - Presiden Hayat

Srikandi di Line A - Rama Yunalis Oktavia

LIHAT/DENGAR

foto

KOMENTAR

ceritanet©listonpsiregar2000