<%@LANGUAGE="JAVASCRIPT" CODEPAGE="1252"%> ceritanet

    ceritanet   situs karya tulis - edisi 200, senin 3 januari 2011                  

sampul
sajak
laporan
cerpen

novel
memoar
catatan
foto
edisi lalu
kirim tulisan
tentang ceritanet
ikut mailing list


Dia terdiam manakala ia menapaki langit dengan keheranannya. Ia heran dengan kelas yang jauh tiada berbatas dan berujung. Dia tersenyum dan terdiam. Selama ini yang ia tahu mereka mengelilinginya. Menjadikannya matahari sosok penting, dan saat lembayung bertanya padanya: kenapa langitku yang sederhana? Matahari hanya tersenyum manis dan enggan menjawabnya. Dia hanya terus bersinar sambil tersenyum manis. Matahari, Bulan, dan Gugusan Bintang Aminatul Faizah

Kemiskinan sudah melontarkan mereka ke neraka level 13
kalau mereka menangis dan putus asa
mereka akan menuju neraka level 99
setiap bangun pagi tiga pilihan
tertawa, menangis atau tidak melanjutkan hidup yang melelahkan
Neraka level 13
Presiden Hayat

 

BACA JUGA

Srikandi di Line A - Rama Yunalis Oktavia

Sehabis Hujan Rumah Kita - Bambang Saswanda Harahap

Telepon, pertanda alamat bingung -
Liston P. Siregar

LIHAT/DENGAR

KOMENTAR

ceritanet©listonpsiregar2000