<%@LANGUAGE="JAVASCRIPT" CODEPAGE="1252"%> ceritanet

    ceritanet   situs karya tulis - edisi 200, senin 3 januari 2011                  

sampul
sajak
laporan
cerpen

novel
memoar
catatan
foto
edisi lalu
kirim tulisan
tentang ceritanet
ikut mailing list

Matahari, Bulan, dan Gugusan Bintang
Aminatul Faizah

Dia terdiam manakala ia menapaki langit dengan keheranannya. Ia heran dengan kelas yang jauh tiada berbatas dan berujung. Dia tersenyum dan terdiam. Selama ini yang ia tahu mereka mengelilinginya. Menjadikannya matahari sosok penting, dan saat lembayung bertanya padanya: kenapa langitku yang sederhana?

Matahari hanya tersenyum manis dan enggan menjawabnya. Dia hanya terus bersinar sambil tersenyum manis.

Cahaya-cahayanya menjamah seisi jagat dan dia tak banyak mengatur. Yang ia tahu hanyalah terus bersinar demi kehidupan. Lalu ia terdiam menatap pada lembayung dan seisi kebun. Dia menengadah mengingat bagaimana ia dahulu, ketika kesederhanaan merasa kurang siap menerima dirinya yang bercahaya. Ketika kesederhanaan hanya berpatok pada yang biasa bukan pada yang luar biasa.
***

Ia dahulu tersesatkan di antara yang berbenar dan berpijar. Terasa amat jauh dan ia ingin melangkah. Berbagi pada yang tiada bersinar. Dia salah berucap pada yang tidak bercahaya. Mengatakan kalau ia berasal dari negeri yang berbinar cahaya hingga mata akan menganggap mereka adalah emas atau permata. Dan itu membuat bulan terhina. Dirinya yang biasa dan berada di tempat sederhana merasa kikuk dan rendah. Matahari dituduh sombong tak bisa menempatkan diri. Matahari hanya menjawab apa yang bulan tanyakan dan jika bulan tersinggung, tidaklah ia ketahui.

Bulan tetap angkuh untuk menampakkan tubuhnya, sedang bumi terus berharap. Bulan salah melangkah, ia hanya sebuah benda yang terlihat indah namun hanya kamuflase. Berkata kalau dirinyalah yang benar: datang dengan waktu dan jam tertentu tanpa peduli pada bumi yang merindu. Bulan tidak cantik tapi ia dibutuhkan di malam yang gulita. Dia ingin dipandang, dengan angkuh dan sok ia permainkan perasaan hati bumi dan mahluk penghuninya.

Tapi bulan bersahabat dengan manusia tanpa sayap, yang biasa dengan tak gelap dan tak terang. Yang tak bersayap namun mengaku pemimpin bijaksana dari langit dan sekaligus perwakilan dari bumi. Dan warga bumi mengamini, bingung dengan pemimpin yang ada. tak tahu siapa dan bagimana pemimpin itu
***

Gugusan langit mulai menatap. Menatap matahari yang bersinar tanpa lelah. Kemilau cahayanya begitu menghangatkan semuanya. Memeluk semuanya. Manusia tidaklah perlu berharap dan merindu. Setiap pagi, setiap manusia membuka mata, ia menatap bumi maka ia akan melihat matahari. Tiada diminta menemani, ia selalu ada.

Bulan cemburu, merasa tersisihkan. Ia menindas matahari atas dasar langit kesederhanaan. Manusia tanpa sayap ikut pula.

Matahari bersedih dan meredupkan cahayanya. Ia sakit dalam kemilauannya. Bintang malam menoleh dan terbang menjauh dari bumi hingga hanya berupa secercah cahaya. Dia muak pada bulan yang sombong. Bukan kakak atau tetuah, bulan tak lebih dari bedebah yang mengatas namakan senioritas. Dengan angkuhnya dia merasa menguasai jagat langit yang gelap. Manusia tanpa sayap hanya bilang: "kami butuh kau, yang memberi sinar pada malam-malam, yang menerangi setapak-setapak saya, membuat jangkrik bersenandung dikecilnya kubangan.

Bintang bercahaya lainnya tertawa terkekeh. Menertawakan kecongkakan manusia tanpa sayap: bagaimana mungkin bicara tentang keunggulan atas tingginya langit jika tak bersayap. Ia hanya mampu membandingkan kuasanya atas tanah yang diinjaknya.

Tanah mulai kehitaman dan remang-remang. Tiada warna selain warna yang ternoda akan hitam. Dengan sisa tawanya, bintang melayang menjauh, tiada ingin berbagi cahaya, karena manusia tanpa sayap dan bulan telah menyakiti mataharinya. Matahari adalah bagiannya dan rasa sakit yang amat sangat terasa itu begitu dalam.

Kini manusia bersayap tertawa, bagaimana mungkin mereka yang tak bisa menempatkan diri karena perbuatannya, justru menyalahkan matahari yang dianggap tak mampu menempatkan diri. Rangkulan hangat manusia bersayap menenangkan tubuh matahari. Ia ingin mengajak matahari menjauh dari langit untuk membesarkan hatinya.

Matahari tersenyum kecil: menolaknya. Dia hanya ingin belajar dari yang sederhana, ingin menerangi bumi, ingin berteman, memberikan sedikit kasihnya akan sebuah pandangan baru yang bukan remang-remang kepada bulan dan manusia tanpa sayap. Bahwa dengan cahaya maka sebuah cakrawala baru akan terbuka: sebuah akan dunia tanpa batas. Bukan hanya sebatas langit yang sederhana tapi sebuah cakrawala bimasakti. Luas tiada batas.

Matahari meredamkan matanya sejenak, tak sadar tumbuhan jadi tiada mampu berbuah dan berbungah, juga tiada yang bisa menuju tujuan karena hanya remang-remang yang terlihat, terasa mati, sunyi pula. Mereka yang bernafas di bumi menyalahkan langit yang hanya menyediakan bulan yang angkuh. Tak mampu hadir sepanjang hari dan hanya pantulan sinar yang mampu ia berikan. Penyelasan yang amat dalam dirasakan manusia tanpa sayap, lalu memohon pada matahari untuk hadir kembali.
***

Semua yang pernah terjadi tidak bisa kembali seperti semula. Tapi matahari berusaha membesarkan hati dan melapangkan dada dan manusia tanpa sayap berupaya menjadi bijak tak ikut campur pada urusan langit. Ia menyadari sebatas manusia biasa yang menyadari matahari sebagai bintang jagat raya.

Matahari tersenyum, memandangi lembayung. Dia menimangnya sambil memberi kehangatan, lalu berbisik: “Kadang kau hanya bisa bicara tanpa kau pandangi dirimu, seperti bulan padaku….”
***
Gresik, 14 November 2010

BACA JUGA

Neraka level 13 - Presiden Hayat

Srikandi di Line A - Rama Yunalis Oktavia

Sehabis Hujan Rumah Kita - Bambang Saswanda Harahap

Telepon, pertanda alamat bingung -
Liston P. Siregar

LIHAT/DENGAR

KOMENTAR

ceritanet©listonpsiregar2000