sampul | cerpen | sajak | novel | esei | laporan | memoar | terbitan | komentar
edisi
pertam Sabtu 25 November 2000
ceritanet
situs
nir-laba untuk karya tulis
novel Dokter
Zhivago 1
Boris
Pasternak (alih bahasa Trisno Sumardjo)
disalin
sesuai aslinya dari terbitan Djambatan,
Maret 1960, dengan penulisan ejaan baru
Mereka maju sambil menyanyi "Kenangan
Abadi" dan tiap kali mereka berhenti, derap kaki mereka, kuda-kuda
serta embusan angin seakan-akan menlanjutkan nyanyian itu. Orang-orang
yang lewat menyingkir untuk pawai itu, lalu menghitung jumlah karangan
bunga dan membuat tanda salib. Beberapa orang ikut serta karena ingin
tahu saja dan bertanya : "Siapa yang akan dikubur?" --"Zhivago," jawab
orang-- ".O pantas." --"Bukan dia, melainkan istrinya." -- "Apa
bedanya? Nah semoga ia istirahat dengan damai. Pawai ini bagus." Saat-saat
terakhir lewat cepat menurut takdir, tak mungkin surut. "Tuhanlah
yang empunya bumi serta isinya, bumi serta segenap penghuninya." Pendeta
menebarkan tanah dalam bentuk salib atas tubuh Marya Nikolayevna.
Terdengar nyanyian "Jiwa mereka yang adil." Kemudian amat
riuhlah khalayak. Keranda ditutup, dipaku dan diturunkan ke tanah.
Tanah bergumpal-gumpal berkelutuk bagai hujan atas tutupnya, ketika
kuburan buru-buru diunruk dengan empat catuk. Gundukan tanah tumbuh
diatasnya dan seorang anak lelaki umur sepuluh tahun naik ke puncaknya.
Pada akhir pemakaman yang besar-besaran perasaan orang biasanya hampa
dan beku dan inilah agaknya yang menyebabkan beberapa pelawat menyangka
bahwa anak itu hendak berpidato atas makam ibunya. Ia menegakkan
kepala dan dari tempat ketinggiannya itu ia memandang nanar ke tamasya
tandus di musim panas itu dan ke kubah-kubah biara. Mukanya dengan
hidung pesok itu menegang. Ia julurkan lehernya. Kalau anak serigala
berbuat begitu, pastilah ia hendak meraung. Anak ini menutup mukanya
dengan tangan-tangannya, lalu tersedan-sedan. Angin mnimpanya serta
melecut tangan dan mukanya dengan sambaran dingin air hujan,. Seorang
laki-laki berpakaian hitam dengan lengan baju ketat berjalan ke kuburan.
Itulah Nikolay Nikolayevich Vedenyapin, saudara wanita yang meninggal
dan paman anak yang menangis itu; ia adalah pendeta yang meninggalkan
jubahnya atas permintaannya sendiri. Dihampirinya si anak dan diantarnya
ke luar.
***
Mereka
menginap di biara; paman Kolya dapat kamar di situ karena bekas pendeta.
Malam itu malam terakhir menjelang Pesta Penyembahan Sang Perawan
Kudus. Esok harinya mereka hendak bepergian ke Selatan, menuju ke
sebelah kota di pedalaman di sungai Volga, tempat paman Kolya bekerja
pada penerbit yang mengeluarkan harian progresif. Mereka telah membeli
karcis dan barang-barang mereka terkemas dalam kamar. Ratapan peluit
mesin-mesin berbunyi dari jauh, diantar oleh angin dari jalan kereta
api yang terdekat. Malam itu sangat dingin. Dua jendela di kamar
itu setinggi tanah dan membuka pandangan pada pojok taman dapur yang
tak terurus, selajur jalan raya dengan bencah-bencah beku dan sepotong
tanah pekuburan tempat Marya Nikolayevna dikebumikan siang hari tadi.
Di taman dapur itu tak ada apa-apa kecuali semak-semak akasia di
sepanjang tembok serta beberapa tempat persemaian kubis yang kerut-kerut
dan biru karena dingin. Pada tiap tiupan angin akasia tak berdaun
itu menari-nari seolah kerasukan dan mengendap-endap ke tanah. Pada
malam itu Yura, si anak itu, dibangunkan oleh ketukan di jendela.
Kamar gelap diterangi kerdipan sinar putih yang berpuaka. Dengan
hanya sepotong kemeja menutupi tubuhnya, larilah ia ke jendela dan
menekankan wajahnya ke kaca dingin. Di luar tak ada kelihatan jalan,
pekuburan atau dapur taman, tak apa-apa selain badai serta udara
penuh kepulan salju. Badai ini seolah melihat si Yura sadar bahwa
ia berdaya menakutkan, maka menderumlah ia, memekik dan berbuat sedapat-dapatnya
untuk menarik perhatiannya dan sorak-sorailah ia atas hasil yang
diperolehnya. Iapun jungkir balik di langit, selimut putih berleret-leret
menyebarkan diri di atas bumi dan membungkusnya seperti dengan kain
kafan. Taufan ini merajai bumi dan tak ada tandingnya. Ketika Yura
turun dari daun jendela, hasrat pertamanya ialah mengenakan pakaian,
lari ke luar dan hendak berbuat sesuatu. Ia kuatir bahwa tempat kubis
itu akan teruruk, hingga tak dapat digali kembali dan bahwa ibunya
yang tertanam di lapangan terbuka itu akan tenggelam makin dalam,
makin jauh daripadanya di bawah tanah. Sekali lagi ia mengucurkan
air mata. Pamannya bangun, bercerita padanya tentang Kristus dan
mencoba membujuknya kemudian ia menguap dan berdiri depan jendela
termenung-menung. Mereka mulai berpakaian. Cahaya mulai terbit.
***
situs nir-laba
untuk karya tulis
ceritanet
kirim
tulisan
©listonpsiregar2000
|