Siluet
Gerimis
sudah
malam, kota. tidurlah bersama titik gerimis yang makin sayup dan
suara bisik-bisik daun.
hujan sudah selesai.
orang-orang di emperan
melebur mimpi-mimpi berdebu.
menatap toko-toko yang ditutup
sepanjang deretan gedung.
tinggal sunyi dan sinar lampu. pucat.
sudah selesaikah engkau menenggelamkan masa lalu ke kuburmu?
(bulan telur dadar tersenyum dari menara mesjid. jemaah telah lama bubar
membawa kerinduan tentang doa-doa. surga yang tak pernah bosan menantimu).
sudah malam, kota, titipkanlah gelisahmu di museum,
taman-taman dan buku kenangan.
ada rindu yang kausematkan di jantungku.
kubiarkan. sejuta cerita kugantungkan saja di langit-langit kamar yang
berdebu. sudah sunyi, kota.
sudah kaunyalakan semua gairah di penginapan lantas kaupadamkan.
(aku masih berdiri di tepian, termenung. menikmati rindu. sendiri-sendiri)
Ketika Teringat pada Damaimu, Kota
menunggu
hening suaramu, kota. ketika malam. dan musim adalah musik
pengantarku ke negri impian. diamlah, kuceritakan padamu tentang
arti ayat-ayat dari buku itu. kabar duka yang kubawa. karena tak
lagi dapat kausaksikan daun-daun gugur di sini. aku memang kerap
membayangkan kemesraan bersamamu. di jalan-jalan dan sekolah.
di ruang tamu dan catatanmu.
biarlah
aku pesan dahulu kerinduan dari wajahmu. seribu gairah.
lalu kusematkan kembang tanjung di tamanmu. dan segera kembali
menunggu
hening suaramu, kota. aku sendiri. lampu-lampu mampir
di kaca jendela. rantau
semoga
angin membawa hujan dari langit
semoga burung membawa gugur daun-daun
semoga pantai mengabarkan panas matahari
semoga kumbang mengabarkan bunga dari hutan
aku
memilih sunyi sendiri. musim kotamu hampir tiba.
meski tak sempat kita lewatkan berdua.
ceritanet
situs
nir-laba untuk karya
tulis