sampul | cerpen | sajak | novel | esei | laporan | memoar | terbitan | komentar

edisi pertama Sabtu 25 November 2000

ceritanet
situs nir-laba untuk berbagi karya tulis

puisi Siluet Hujan
Arya Gunawan
lagu-lagu memanggilku pulang, mengulang kenangan
hanya hujan menyapu ingatan dan airmata,
dan dirimu masih seperti mimpi
buram dan baur di ranjang-ranjang usang menutup kematian

o, rindu pada malam-malam yang tak sendiri.
gelak tawa.
cangkir kopi
dan sepotong roti di berandamu. di taman.
seribu janji kaukenang sendiri.
aku sunyi. langkah kaki di antara bunga jatuh,
sepanjang jalan pulang. dingin dan ragu kudekapkan ke dada.
selamat malam, kota.
bergegaslah menamatkan surat-surat dan buku yang
tak pernah selesai kubaca...

Siluet Gerimis
sudah malam, kota. tidurlah bersama titik gerimis yang makin sayup dan suara bisik-bisik daun.
hujan sudah selesai.
orang-orang di emperan
melebur mimpi-mimpi berdebu.
menatap toko-toko yang ditutup
sepanjang deretan gedung.
tinggal sunyi dan sinar lampu. pucat.
sudah selesaikah engkau menenggelamkan masa lalu ke kuburmu?
(bulan telur dadar tersenyum dari menara mesjid. jemaah telah lama bubar membawa kerinduan tentang doa-doa. surga yang tak pernah bosan menantimu).
sudah malam, kota, titipkanlah gelisahmu di museum,
taman-taman dan buku kenangan.
ada rindu yang kausematkan di jantungku.
kubiarkan. sejuta cerita kugantungkan saja di langit-langit kamar yang berdebu. sudah sunyi, kota.
sudah kaunyalakan semua gairah di penginapan lantas kaupadamkan.
(aku masih berdiri di tepian, termenung. menikmati rindu. sendiri-sendiri)


Ketika Teringat pada Damaimu, Kota
menunggu hening suaramu, kota. ketika malam. dan musim adalah musik
pengantarku ke negri impian. diamlah, kuceritakan padamu tentang
arti ayat-ayat dari buku itu. kabar duka yang kubawa. karena tak
lagi dapat kausaksikan daun-daun gugur di sini. aku memang kerap
membayangkan kemesraan bersamamu. di jalan-jalan dan sekolah.
di ruang tamu dan catatanmu.

biarlah aku pesan dahulu kerinduan dari wajahmu. seribu gairah.
lalu kusematkan kembang tanjung di tamanmu. dan segera kembali

menunggu hening suaramu, kota. aku sendiri. lampu-lampu mampir
di kaca jendela. rantau

semoga angin membawa hujan dari langit
semoga burung membawa gugur daun-daun
semoga pantai mengabarkan panas matahari
semoga kumbang mengabarkan bunga dari hutan

aku memilih sunyi sendiri. musim kotamu hampir tiba.
meski tak sempat kita lewatkan berdua.

ceritanet
situs nir-laba untuk karya tulis

 

kirim tulisan
©listonpsiregar2000