sampul | cerpen | sajak | novel | esei | laporan | memoar | terbitan | komentar

edisi pertama
Sabtu 25 November 2000

 

ceritanet
situs nir-laba untuk berbagi karya tulis

esei Apa Pentingnya Politik Cina
I. Wibowo Wibisono

Sekolah tempat saya belajar dulu bernama School of Oriental and African Studies, SOAS. Nama ini tentu sangat unik, yang tak ada duanya di dunia. Sebelum menjadi bagian Universitas London, inilah tempat terbaik di seluruh Eropa untuk mempelajari segala sesuatu tentang Asia dan Afrika. Memang SOAS boleh menyombongkan diri karena koleksi buku-bukunya tentang dua benua tersebut yang sungguh luar biasa. Bagaimana negara Inggris bisa mempunyai sekolah seperti itu? Mungkinkah pemerintah Inggris mendirikan tanpa pamrih? Karena semata-mata minat akademis? Tentu jawabannya tidak sebab sekolah itu sebenarnya tidak didirikan untuk mengembangkan ilmu tentang Asia dan Afrika. Tujuannya lebih sederhana: untuk memberi bekal dan latihan bagi orang-orang Inggris yang bersiap bertugas di Mesir, Kenya, atau di India, atau di Cina.

Jadi, SOAS tidak dapat dikatakan sebagai sebuah sekolah dalam arti sekarang. Mungkin lebih tepat disebut pusdiklat. Walaupun di sana disimpan buku-buku langka tentang negara-negara Asia dan Afrika, semuanya disimpan semata-mata demi memenuhi kebutuhan segera saat itu, yaitu kolonialisme. Dengan kata lain, pengetahuan tentang negara lain tidak lebih daripada seonggok informasi yang tidak mempunyai nilai lain kecuali nilai instrumental. Lebih tegas lagi, pengetahuan itu dipakai untuk tujuan penindasan. Edward Said mengistilahkan dengan kata orientalisme.

Nasib ini tidak dapat dihindarkan oleh studi tentang Cina. Untuk apa mempelajari negara Cina kalau tidak untuk mengetahui kekuatan dan kelemahannya? Inggris memang merupakan negara pertama yang berhasil menggedor pintu kekasiaran Cina, dan mengalahkan armada Cina dalam Perang Candu secara telak pada tahun 1840. Pendekatan ini ditiru oleh negara-negara Barat lainnya. Di Amerika Serikat, misalnya, banyak universitas besar mempunyai pusat studi Cina, di samping banyak pusat studi wilayah lain. Khusus mengenai Cina, banyak sarjana ilmu politik mendapat grant untuk mempelajari institusi politik Republik Rakyat Cina secara amat mendetail. Mereka bahkan dapat dengan teliti mencatat ucapan maupun gerak-gerik elit Cina sehingga menjadi sebuah cerita. Tidak heran kalau muncul julukan 'China Watchers' untuk menamai orang yang terlibat dalam studi politik yang seperti itu. Walaupun tidak diingkari adanya orang-orang yang sungguh ingin mengenal Cina, suasana "perang dingin" yang melanda Amerika Serikat pada tahun 1970-an pasti berperan besar dalam mengembangkan studi tentang Cina, terutama politiknya.

Sampai sekarang, pendekatan ini belum diatasi oleh sarjana-sarjana di Amerika Serikat, meskipun Perang Dingin telah usai. Masih ada sejumlah buku yang bertemakan "ancaman dari Cina" dihasilkan oleh sarjana-sarjana dari universitas terkemuka. Ingat saja buku oleh Bernstein dan Munro yang berjudul The Coming Conflict with China,dan dalam arti tertentu, buku dari Huntington, The Clash of Civilization. Ini sebenarnya sebuah terjemahan sikap orientalis secara baru. Kalau dulu pengetahuan dipakai untuk menaklukkan penduduk tanah koloni, sekarang untuk membendung 'bahaya komunisme,' atau 'bahaya Cina.'

Studi politik Cina dengan tujuan yang sangat instrumental yang berakar pada orientalisme ini barangkali memang sungguh dibutuhkan oleh negara seperti Inggris atau Amerika Serikat. Tetapi, kalau sebuah studi atau kajian hanya terbatas pada tujuan instrumental, maka tidak akan menambah dan mengembangkan ilmu pengetahuan, hanya akan menghasilkan ketakutan dan kebencian antar rakyat. Sebuah kajian politik semestinya mendorong manusia untuk meningkatkan kesadarannya akan hidup bersama. Dengan menyadari apa yang terjadi pada lingkungan di sekitarnya, ia dapat memperbaiki diri dan masyarakatnya ke taraf yang lebih tinggi, lebih beradab. Studi tentang politik Cina (atau tentang politik negara manapun) mestinya terarahkan pada perspektif seperti itu.

Apa yang kita ketahui tentang politik negara Cina, kita tangkap dan terima, lalu kita bandingkan dengan apa yang terjadi di negara Indonesia. Adakah hal-hal yang sama antara Cina dan Indonesia? Kalau ada, mengapa sampai ada? Mungkinkah Indonesia belajar dari Cina? Atau mungkinkah Indonesia mengelakkan apa yang terjadi di Cina? Ambillah contoh tentang militer di Indonesia dan Partai Komunis Cina di Cina. Walaupun berbeda dari sudut hakekatnya, tetapi keduanya merupakan cara kerja yang nyaris identik. Kedua-duanya adalah organisasi yang rapi, teratur, berdisiplin, dapat menyalurkan perintah dari pusat hingga ke daerah-daerah paling terpencil. Baik militer di Indonesia dan Partai Komunis Cina, PKC. mengawasi birokrasi negara dengan melekatkan badan pengawas pada tiap tingkat administrasi negara. Semua itu, kata mereka, mendapatkan legitimasinya karena mereka mengklaim berjasa membebaskan bangsa dari cengkeraman musuh --militer Indonesia dari Belanda, dan PKC dari pasukan Chiang Kai-shek. Baik dari sudut struktur, ideologi, maupun strategi, keduanya menunjukkan kesamaan. Dengan melihat kesejajaran antara keduanya, kita makin mengerti bahwa yang menakutkan sebenarnya bukan militer, melainkan karena karakter organisatoris yang dimiliki oleh militer.

Dapat dikatakan, sebuah organisasi yang berciri amat elitis mempunyai potensi luar biasa, kalau dibiarkan berkuasa, untuk mendominasi sebuah negara dengan cara yang sewenang-wenang. Dominasi itu mencengkeram seluruh masyarakat lewat struktur organisasi yang sedemikian rapi sehingga masyarakat benar-benar bagaikan terlilit oleh jari-jari dari sebuah ikan gurita. Michael Mann mengistilahkan fenomen ini dengan istilah yang sangat tepat: infrastructural power. Organisasi kekuasaan itu terdapat merata di seluruh teritori sehingga ia menjadi sebuah infrastruktur.

Jadi, ketakutan kita pada militer pertama-tama bukan pada senjata yang dimilikinya, melainkan pada infrastructural power yang mereka kembangkan lewat struktur komando teritorial. Lewat kodam, kodim, korem, dan seterusnya, masyarakat Indonesia berada dalam posisi terkontrol, persis sama dengan masyarakat Cina yang ada di bawah kendali jaringan Komite Partai. Atas dasar kesimpulan ini pula kita sekarang bisa tertawa bagaimana pihak militer sering menakut-nakuti rakyat Indonesia akan bahaya komunisme, tapi mereka sendiri menjalankan taktik seperti yang dilakukan oleh rekan mereka yang komunis. Bukannya ini maling teriak maling. Tanpa metode komparatif seperti di atas barangkali kita tidak akan sampai pada kesimpulan setajam ini.

Dalam mempelajari politik negara sendiri, orang sebaiknya tidak berhenti di dalam negeri, melainkan melihat dan membandingkan dengan negara tetangga. Negara lain dipelajari untuk mempertajam pengertian tentang diri sendiri. Ia dapat dipakai sebagai cermin. Dalam masa reformasi sekarang, kebutuhan untuk mengerti diri sendiri semakin mendesak, tetapi harus diiringi dengan kemampuan untuk bercermin dari negara lain. Cina sebagai negara yang juga sedang berjuang untuk membangun ekonomi dan politik kiranya merupakan cermin yang baik sekali. Lebih lagi, keduanya berada di Asia, dan keduanya masih berjuang untuk menegakkan demokrasi. Maka, masalah maupun krisis yang muncul di sana tidak jauh berbeda. Pendekatan ini lain sekali dengan pendekatan yang pernah dikembangkan oleh sarjana negara-negara Barat. Mereka yang di Inggris mempelajari negara lain untuk tujuan kolonialis mereka, sedang mereka yang di Amerika Serikat untuk membendung komunisme. Di Indonesia kita mempelajari politik negara lain untuk dijadikan cermin.
***

ceritanet
situs nir-laba untuk karya tulis

kirim karya tulis
©listonpsiregar2000