ceritanet
situs nir-laba untuk karya tulis
edisi 19, Rabu 8 Agustus 2001
___________________________________________________

komentar Perempuan di Titik Nol Besar
Sanie B. Kuncoro

Sebuah iklan televisi --swasta full-profit-- di Indonesia --belum ada penegakan tegas etika periklanan-- tentang minuman suplemen yang meyakinkan diri mampu meningkatkan stamina. Dicantumkan dengan jelas kalau produk untuk konsumsi laki-laki dewasa.

Adegan iklannya begini : barisan perempuan rata-rata berbaju mini antre mengikuti audisi. Pengujinya seorang laki-laki berjas lengkap. Para peserta perempuan berbaju mini bergiliran masuk ke sebuah ruangan tertutup bersama dengan penguji berjas lengkap. Usai ujian, pintu terbuka dan para perempuan berbaju mini keluar dengan gerakan merapikan pakaian dan dandanan yang jadi agak acak-acakan, plus wajah loyo sang penguji. Ups, penguji berjas lengkap segera minum produk iklan dan langsung segar bugar bergairah ; dua perempuan berbaju mini peserta audisi dipanggil masuk kamar sekaligus. Di pintunya, ia gantungkan ; Don't disturb, seperti layaknya sebuah kamar hotel.

Pesan apa yang tertangkap dari adegan macam itu? Pengakuan atas kerangka pikir individual akan menyebabkan aneka ragam persepsi. Perdebatan bisa panjang, tapi berani dijamin kalau orang rata-rata --yang menjadi sasaran utama produk iklan-- akan menangkap satu persepsi yang sama, paling tidak serupa. Minuman suplemen yang diiklankan akan langsung meningkatkan stamina untuk mengerjakan suatu aktivitas laki-laki yang berkaitan dengan perempuan. Singkatnya aktifitas seksual pria terhadap perempuan, sesuai dengan pesan iklan tadi --jadi bukan aktifitas seksual pria dan perempuan.

Mengapa aktifitas pria terhadap perempuan yang dipilih, lengkap dengan papan peringatan Don't disturb. Mungkin, sekali lagi mungkin, karena target sasaran produk adalan kaum laki-laki yang suka aktifitas seksual terhadap perempuan. Jadi sesuai dengan selera laki-laki. Bisa jadi, tapi masalah utamanya bukan sekedar soal selera.

Ada iklan lain, juga di televisi --swasta full-profit-- dan juga di Indonesia --belum ada penegakan tegas etika periklanan. Adegannya seorang perempuan berbaju pengantin meninggalkan calon suaminya di depan altar karena tergiur tiupan bau mulut mantan pacarnya. Perempuan dengan kecerdasan dan kepribadian macam apa?

Yang lain di media cetak, swasta full profit juga, dan masih di Indonesia --yang iklan rokok sudah dibatasi pada citra bukan rokoknya. Tapi ini tentang iklan teleshop yang memajang gambar seorang perempuan muda berbusana ala eksekutif sedang mengulum botol susu bayi. Di sampingnya ada bayi menangis keras sembari memegang handle telepon. Keterlaluan!

Kreasi adegan-adegan tadi --perempuan rok mini dengan pria berjas, pengantin perempuan meninggalkan pemberkatan pernikahan karena bau mulut segar, dan perempuan eksekutif mengulum botol susu bayi-- bukan tercipta oleh satu otak. Melainkan ada sebuah tim, dengan para anggota yang punya intelektualitas memadai. Apakah tim tersebut terdiri dari para laki-laki saja? Dipastikan banyak profesional perempuan di dalamnya, juga dengan tingkat pendidikan memadai. Artis peraga pasti pula bukan pula orang sembarangan. Melainkan mereka yang berhasil lolos audisi dari sekian banyak calon. Secara teoritis mereka pastilah di atas rata-rata.

Tapi mengapa muncul karya-karya berbau pembodohan? Bagaimanakah perempuan-perempuan itu melihat diri sendiri? Mereka mungkin lupa --atau sama sekali tidak sadar-- kalau secara langsung sedang melakukan sebuah pementahan atas perjuangan perempuan --di seluruh dunia-- untuk melepaskan kaumnya dari kondisi sebagai 'The Second Sex.' Pementahan karena ketika keperempuanan mereka sedang diperjuangkan untuk sampai pada kondisi yang harus diperhitungkan --bukan cuma sekedar objek pelengkap-- ternyata ada kelompok perempuan lain yang memunculkan tokoh-tokoh perempuan dengan keperempuanan yang menyedihkan. Ironis.

Ada novel terkenal karya Nawal al Saadawi berjudul Perempuan di Titik Nol. Dalam novel itu, Firdaus jadi tokoh utama yang mereprentasikan perempuan di titik nol. Dalam kehidupan nyata, di Indonesia, perempuan di titik nol melekat kepada para perempuan yang jadi alat peraga perempuan rok mini, perempuan bau mulut, dan perempuan botol susu, serta perempuan-perempuan di balik penciptaan karya itu. Perempuan di Titik Nol Besar.
***

ceritanet
kirim karya tulis
©listonpsiregar2000