ceritanet
situs nir-laba untuk karya tulis
edisi 19, Rabu 8 Agustus 2001
___________________________________________________
memoar Comandante Gusmao 1
Mohamad Susilo

Sejarah selalu bersisi dua. Ketika Indonesia masih berkuasa di Timor Timur, Xanana Gusmao dicap sebagai tokoh pemberontak, tokoh pengacau keamanan, bahkan sempat dipenjara sebagai kriminal --dan bersama-sama kriminal Indonesia-- di LP Cipinang. Pendulum nasib berubah ketika referendum kemerdekaan Timor Timur dilangsungkan Bulan Agustus 1999. Xanana menjadi bapak bangsa Timor Lorosae. Akhir Agustus ini, rakyat Timor Timur akan kembali ke kotak suara, kali ini memilih 88 wakil untuk Majelis Perwakilan. Inilah yang kelak akan menjadi titik awal dari pemerintahan Timor Lorosae. Sejauh ini Xanana Gusmao sudah berulang kali menegaskan tidak bersedia menjadi Presiden Timor Lorosae, walau banyak yang menduga akan sulit baginya untuk menolak tuntutan rakyat Timor Lorosae. Siapakah Xanana?

Akhir tahun 1992 koran-koran Indonesia diwarnai dengan berita penangkapan tokoh pemberontak Timor Timur Xanana Gusmao. Penangkapan Xanana ini merupakan klimaks bagi TNI. Selama 17 tahun Xanana berjuang melawan pemerintah Republik Indonesia. Tertangkapnya Xanana ini tentu sebuah prestasi ; keberhasilan membekuk simbol perlawanan Timtim. Xanana memimpin perjuangan bersenjata Fretilin karena menganggap aneksasi Indonesia atas Timtim tidak sah.

Setahun setelah penangkapan, Xanana diganjar hukuman penjara seumur hidup. Perubahan politik membuat hukuman Xanana dikurangi jadi 20 tahun. Perjuangannya bergulir dari gerakan bersenjata bersama Fretilin di hutan-hutan Timor Timur ke pelataran kampanye politik di seluruh dunia melalui CNRT. Usai referendum Agustus 1999, yang dimenangkan oleh suara kemerdekaan, Xanana otomatis bebas dan pulang ke Timor Timur atau Timor Lorosae ; Tanah Air Timor.

Ketika meringkuk di Penjara Cipinang, Xanana menyempatkan untuk menulis memoar. Memang tak banyak yang tahu karena ditulis secara rahasia. '''Saya menulis catatan perjalanan hidup ini atas permintaan sebuah kelompok solidaritas Portugal,'' katanya. Karena keterbatasan fasilitas di penjara, Xanana memulai otobiografinya hanya dengan mengandalkan kenangan yang mengendap di kepalanya. Sama sekali tak ada referensi.

Penulisan ini dibantu oleh seorang Timtim lain yang juga dipenjara di Cipinang. Dialah yang mengetik ulang tulisan tangan Xanana yang mencapai 45 lembar. Seluruh manuskrip asli Xananan diketik dengan mesin ketik merk Remington, dan setahun kemudian naskah itu diseludupkan ke Portugal. Catatan hidup Xanana dalam memoarnya itu bermula dari tahun 1946, ketika Timtim masih menjadi jajahan Portugal...

Jose Alexandre Gusmao
Bapak saya asli Laleia. Ia anak tunggal dari sebuah keluarga petani kecil. Setelah menyelesaikan pendidikan guru, bapak pindah ke Manatuto, kota kecil sekitar 50 km dari Dili. Bapak menikah dengan ibu, yang juga berasal dari keluarga petani kecil. Karena tak punya apa-apa, satu-satunya yang bisa dikerjakan adalah menggarap tanah milik para tuan tanah. Saya sendiri lahir di Manatuto ; Jose Alexandre Gusmao. Saya anak kedua.

Ibu bercerita bahwa saya lahir di antara detik-detik tanggal 20 Juni atau 21 Juni 1946. Ketika itu musim kemarau. Matahari bersinar sangat terik hingga mematangkan bulir-bulir padi menjadi kekuningan. Saat saya berusia sekitar dua tahun, bapak dipindahkan dari Manatuto ke Lacluta, sebuah daerah pegunungan yang berkabut di wilayah yang sering disebut Bibileo-Aitana. Di tempat ini pula, saudara perempuan saya, Lucia, lahir.

Di daerah pegunungan ini, bapak tak lama bertugas dan dipindahkan lebih ke timur, yaitu ke misi Saint Theresia di Ossu. Masih lekat di benak saya perjalanan menuju daerah ini. Saya menunggang kuda menyisir sungai di sela-sela pohon casuarina.

Masa kecil saya penuh dengan mimpi-mimpi. Saya bermimpi jadi guru seperti ayah. Masa itu, guru merupakan sebuah gelar yang sangat berarti. Semua orang memberikan hormat. Bahkan, pemimpin tradisional --lurai-- juga menghormati guru. Begitu juga dengan para pedagang Cina. Pendek kata, guru adalah sebuah profesi yang membanggakan. Sayangnya gaji guru sangat kecil. Saat itu, gaji bapak bapak tak lebih dari 60 patacas. Jumlah yang sangat pas-pasan untuk menghidupi keluarga selama satu bulan. Meski begitu, masa kecil saya sungguh menyenangkan. Saya bebas berlari-lari di padang-padang rumput Timor yang hangat. Terkadang saya berlari di sela-sela rumput saat hujan turun.

Bapak adalah orang yang memegang prinsip. Dia juga sederhana dan percaya diri. Saya bisa mengenali bapak dari jauh hanya dengan melihat topinya. Bapak sangat suka membaca dan berlangganan majalah Katolik. Di sela-sela kesibukan mengajar, ia masih menyempatkan diri membacakan buku untuk saya. Waktu itu saya sudah bisa membaca dan bersama bapak, saya membaca satu dua cerita.

Ibu juga senang bercerita. Biasanya, ibu bercerita tentang pendudukan Jepang, tentang nenek, dan paman yang bekerja sebagai penerima telepon. Kelak, paman membawa saya keluar dari dunia kecil dan membawa ke Dili. Dia meminta saya untuk bersekolah dengan baik agar bisa berbudaya. Ayah
mendukung. ''Biar menjadi Portugis yang baik,'' demikianlah kata ayah. Memang, ayah cukup beruntung. Dia merasa mengenyam apa yang disebut sebagai proses pembudayaan. Inilah yang membuat bapak bisa berpakaian dengan sedikit layak dan mampu menyekolahkan anak-anak. Sesuatu yang jarang dinikmati oleh rakyat Timor yang lainnya.

Masuk Seminari
Waktu kecil, saya sering menyaksikan para penghuni penjara di gedung administrasi dicambuk. Masih lekat di benak saya, bagaimana para narapidana tersebut berdiri sambil mengerang. Badan mereka terlihat legam akibat terpaan sinar matahari yang panas. Kaki mereka terbelenggu.
Di jaman bersekolah, saya bersama dengan sejumlah teman kadang-kadang membolos. Dan, saya menyaksikan para buruh dipaksa kembali bekerja di rumah-rumah milik kolonial atau pedagang Cina.

Suatu hari, ketika pulang sekolah, ibu menangis meraung-raung. Air mata mengalir dari matanya. Paman --yang membuat saya mengenyam pendidikan-- meninggal dunia. Karena itu, begitu selesai mengikuti ujian akhir pendidikan dasar, saya tak punya banyak pilihan. Penyebabnya jelas uang. Padahal bapak ingin kalau saya sebagai satu-satunya anak laki-alki dari tujuh bersaudara bisa menjadi orang yang berhasil. Tidak ada alternatif lain. ''Kamu harus pergi ke seminari,'' ujar ayah lirih namun tegas. Tetapi, saya tak ingin menjadi pendeta. Saya benci melihat pendeta yang mencambuk murid-murid sekolah. Tetapi, lagi-lagi saya tak punya pilihan lain. Keputusan sudah dijatuhkan dan kami pun bersiap menuju Dili untuk mengikuti pendaftaran seminari.
***
bersambung


Memoar ini disadur dari Good Weekend, suplemen sebuah harian terbitan Australia.

ceritanet
kirim karya tulis
©listonpsiregar2000