ceritanetsitus karya tulis, edisi 199 kamis 101118

sampul
esei
sajak
laporan
cerpen
novel
memoar
catatan
terbitan
edisi lalu
daftar buku
kirim tulisan

ikut mailing list

tentang ceritanet

cerpen Srikandi di Line A
Rama Yunalis Oktavia

“Sapta monitor, Sapta monitor”, teriakku pada HT memanggil ketua tim.
“Di copy, Bu Kikan”, suara Sapta di seberang.
“Sapta, tolong speed mesin packaging dinaikkan jadi 75 dan speed conveyor kamu naikkan jadi 80 ya, mesin B belum ada progress”, perintahku pada Sapta.
“75, Bu?” Sapta ragu menjawab perintahku.
“Untuk sementara saja, kamu ikut juga, suruh sebagian operator ikut packing, helper diatur lagi,ok, daripada WIP menumpuk, speed process aku akan minta Pak Satya turunkan juga, ok!”, tegasku kembali pada Sapta.
“Baik, Bu”, jawab Sapta.

Malam ini di Line A terasa begitu sibuk, salah satu mesin packaging rusak, sehingga membuat aku stand by penuh di line agar WIP tidak terlalu menumpuk, aku harus selalu berkordinasi dengan Mas Satya di bagian proses agar dia mengatur speed process.
Speed mesin dan speed conveyor packing finished product terpaksa aku tambah. Speed 75 berarti dalam satu menit ada 75 pouch yang harus dikemas, sangat cepat untuk pekerjaan dengan menggunakan tangan. Sebenarnya aku tak tega melihat tangan-tangan pekerja lepas, yang kami sebut helper, itu bergerak lebih cepat dari biasanya, menyusun produk kemudian memasukkan dalam karton, apalagi mereka kerja pada malam hari, tentu stamina mereka sedikit berkurang.

Sudah terbayang kalau hal ini terjadi pada shift pagi, tentu aku dan timku akan terkena semprot basah oleh manager produksi orang Jepang itu. Kulihat Pak Sardi sedang berusaha memperbaiki mesin.
Satu jam sudah Pak Sardi mengutak-atik mesin, belum terlihat tanda-tanda mesin akan jalan lagi. Kulihat Sapta sibuk membantu para helper untuk mengemas produk, terlihat beberapa mulai merasakan pegal-pegal.

Keringat dingin mulai membasahi keningku, padahal ruang packing ini bersuhu 20 C, sudah terbayang apabila mesin itu tak bisa jalan dan aku tidak bisa mencapai target hari ini, aku pasti akan ditegur manajer,  maka point ku akan berkurang pada bulan ini dan gelar sebagai the best line akan terhempas dari timku.

Kuhampiri Pak Sardi yg sudah terlihat penuh peluh diwajahnya.

“Bagaimana, Pak, sudah bisa?”, kataku penuh harap.
“Tenang, Neng, mungkin 10 menit lagi, ini tinggal pasang baut-bautnya aja, kayanya nih mesin harus mulai di overhaul, sudah banyak yang work out, Neng”, kata Pak Sardi.
Detik berlalu, menit berjalan, huh...betapa lama waktu 10 menit itu.
Dalam kepanikan, tiba-tiba Pak Sardi mengacungkan jempolnya, “Ok, Neng, diturunkan lagi aja speed mesinnya, kasihan para helper, udah keteteran”.
“Terima kasih, Pak”. Alhamduillah, gumanku dalam hati.
“Mas Satya monitor, Mas Satya  monitor”, panggilku pada Mas Satya.
“Yup, Satya dicopy”, balasnya.
Packing sudah ok, normalkan kembali speed process, Mas”.
“Ok, honey”, canda Mas Satya.

Satya adalah rekan satu shift dan tim yang menyenangkan. Dia selalu mengerti akan kesulitan yang aku hadapi di line. Segera kuhampiri Sapta agar dia menurunkan speed mesin dan conveyor, terlihat kelegaan dari semua operator dan helper, mereka pun berteriak kesenangan. Kutarik nafas dalam-dalam, selesai sudah masalah ini. Aku bersyukur punya tim yang hebat dan mau bekerjasama, ini memperingan kerjaanku di line.

Timku hampir 70 % adalah perempuan, tetapi aku salut dengan stamina kerja mereka yg sangatlah kuat, tak berbeda dengan pekerja pria.

Aku kembali ke ruanganku untuk membuat laporan tentang kejadian ini, agar pagi-pagi mesin tersebut bisa lebih diinvestigasi oleh mekanik ahli karena baru pertama kali kejadian seperti ini terjadi, masih untung Pak Sardi bisa memperbaikinya.

Kulirik jam sudah menunjukkan pukul 3 pagi, saatnya tim istirahat. Sapta telah mengatur pembagian jadwal istirahat buat mereka. Sayup terdengar gaduh para pekerja menuju kantin untuk makan pagi. Aku tak pernah ikut makan, karena bagiku makan jam 3 pagi terlalu tanggung waktunya: disebut sarapan terlalu kepagian, disebut makan malam terlalu telat. Aku lebih banyak menghabiskan waktu istirahatku dengan tidur, yang rasanya ebih bermanfaat bagiku. Kucoba berbaring di dua buah kursi yang digabungkan, lumayan bisa tidur satu jam dapat membuat staminaku sedikit terdongkrak setelah 5 jam kerja tegang.

“Kebakaran…….!!!!”, teriakku. Sontak aku terbangun, alarm di HP ku berbunyi nyaring, kulihat sudah jam 4.30t.
Aku pun beristigfar ternyata aku hanya bermimpi. Mengapa mimpi itu selalu hadir beberapa hari ini, pabrik kebakaran. “Apa maksud mimpi ini ya?”, gumamku pada diri sendiri. Bergegas aku ke kamar kecil untuk cuci muka masih ada waktu sebelum aku kembali ke Line A, bergantian istirahat dengan Sapta.

Kulihat Sapta sedang asyik menikmati makan paginya, beberapa pekerja tertidur di Mushola dan di ruang loker karyawan . Segera aku berkeliling line untuk memastikan bahwa semuanya berjalan lancar.
Ya, inilah aku, Kikan atau Srikandi Pramesti, satu-satunya supervisor produksi perempuan di sebuah pabrik makanan yang mempunyai 6 line, dengan seragam biru dan label merah, safety shoes yang beratnya hampir 1 kg serta HT yang selalu menggantung di celanaku: semua orang bilang aku gagah dengan seragam itu.

Kadang aku ragu apakah karakterku yang membuat aku cocok dengan seragam gagah itu atau setelah hampir sembilan tahun bekerja, karakterku yang perlahan-lahan menyesuaikan diri dengan seragam pabrik. Sesekali aku memandang tubuh telanjangku di cermin kamar mandi, memastikan apakah lenganku mengeras atau payudaraku menyusu, ikut menyesuaikan dengan seragam dengan kantung kiri dan kanan di bagian dada. Sering kali pula tak bisa kujawab, ukuran BH ku masih tetap sama, juga celana dalamku, jadi mestinya tak ada yang berubah secara fisik.

Jam kerjaku yang mewajibkan aku masuk shift malam, juga sudah membuat jiwa dan ragaku menyesuaikan diri. Hanya Bunda yang protesi.

”Tidak bagus perempuan kerja malam-malam, apa tidak ada kerjaan lain, Bunda yakin kamu bisa kerja normal seperti yg lain, apalagi kamu lulusan perguruan negeri terkenal” keluh Bunda saat itu.
“Bunda, aku kerja malam kan bukan untuk yang aneh-aneh, aku kerja dipabrik dan itu pun banyak orang, tidak mungkin aku melakukan hal yang aneh-aneh, lagian apa yang kerja shift malam lantas disebut tidak normal, apa jadinya kalo semua pekerja masuk pagi semua, rumah sakit, pekerja bangunan, pemadam kebakaran tutup dong, bahaya kan? Tenang aja, Bunda, aku bisa kok jaga diri”, dalihku. Ketika itu aku tak tahu persis kenapa aku menerima pekerjaan di pabrik. Ada sebuah kegalauan mungkin, tapi juga ada sebuah tantangan.

“Bunda beri aku nama Srikandi biar aku jadi jagoan kan, Bunda, kalau ada yang iseng akan kukeluarkan panah saktiku, wuzzhh …, hahahaha”
***

Segera kuselesaikan laporan malam itu: 20 menit lagi waktuku pulang. Syukurlah hari Sabtu besok hari liburku, jadi aku bisa sedikit santai dan tidur agak banyak.

Banyak dari anggota timku yang tetap bekerja Sabtu dan Minggu, tapi aku serahkan ke Sapta agar dia yang mengatur. Terkadang aku kasihan melihat dia sering lembur, tapi sebenarnya dia malah senang apabila kusuruh lembur karena gajinya tambah pada akhir bulan -”Untuk beli susu, Bu”, katanya.

Aku salut dengan orang-orang seperti Sapta, apalagi perempuan-perempuan anggota timku yang bekerja keras mengais tambahan penghasilan dengan lembur tanpa libur. Di rumah merekapun masih harus bekerja melayani suami, orangtua, dan anak. Alasan mereka bekerja adalah membantu keuangan keluarga, mereka adalah pekerja keras.

Di pabrik ini, hampir semua karyawan dibawah level operator memakai jasa dari yayasan atau out sourcing. Mereka sebenarnya bukan karyawan perusahaan jadi tidak mendapatkan tunjangan kesehatan ataupun bonus. Sebagai pekerja kontrakan, mereka bisa dipekerjakan dan dirumahkan kapan saja. Tingkat pendidikan mereka pun hanya lulusan SD, SMP atau putus SMA.

Sering aku miris memikirkan mereka. Pekerjaan fisik yang berat dengan gaji UMR dan masih dipotong biaya administrasi per bulan untuk yayasan, plus dipotong uang seragam. Banyak perusahaan memakai jasa kontrakan mereka atas nama efisiensi karena merupakan tenaga kerja yang sangat murah dan praktis tak punya hak tawar apapun kecuali aksi anarki. Aksi anarki ini beraawal dari antrian panjang pekerja kontrak lain sehingga ada yang bersedia mengeluakan uang jutaan rupiah sebagai sogokan agar bisa lolos tes masuk yayasan dan bisa disalurkan ke pabrik-pabrik.

Akibat uang suap dan nepotisme, ada karyawan yang sebenarnya tidak layak tapi sekedar absen dan berlagak sok jagoan. Ditegur malah membalas dengan gaya premanisme. Pernah suatu saat ban motor Pak Abud, supervisor produksi, digembosin, helm Pak Sigit disembunyikan, kaca spion Pak Bambang dicopot.

Aku pun pernah jadi korban ancaman pisau karena memberikan SP2 kepada salah seorang karyawan pria di line A yang ketahuan tidur di jam kerja. Utungnya orang personalia bisa menyelesaikan hal tersebut. Sudah beberapa kali pabrik pernah dikepung oleh preman-preman satu kampung, lengkap dengan parang, golok, clurit karena Personalia mengeluarkan salah satu pekerja yg ternyata anak preman kampung dekat kawasan industri ini.

Polisi turun tangan dan urusannya beres, tapi aku ingin rasanya berteriak. Sekelompok kecil yang memilih jalan anarki itu seperti meremehkan sebagian besar pekerja yang setia pada tugasnya. 

Tiba-tiba suara Pak Andre, supervisor di bagian proses, terdengar di HT ku “Siap jalan, dicopy.”

Aku kaget karena aku mengharapkan suara Mas Satya. “Apa dia tukar shift dengan Pak Andre? Sialan, biar nanti kutelepon dia,” gumanku.

Aku tidak terlalu suka bekerja satu shift dengan Pak Andre. Dia tersohor dengan cari muka dihadapan manajer produksi dan gerak tubuhnya menunjukan ketidaksukaan dengan kehadiranku sebagai supervisor produksi semenjak aku bekerja di pabrik ini. Dia juga satu-satunya yang terbuka menolak perempuan di line produks. “Kerjaan ini tidak cocok untuk perempuan, perempuan itu cocoknya kerja kantoran”.

Aku sudah membiasakan diri dengan perilaku Pak  Andre, tapi jelas tak sepenuhnya berhasil. Sering sekali suaranya yang cuma kudenar lewat HT sudah membuatku tak nyaman.
***

Pagi itu proses berjalan lancar, tak begitu banyak masalah, managerku pun tak banyak permintaan. Mungkin Pak Andre cukup puas dengan hasil target yang telah dicapai sebulan ini. Aku pun punya waktu dan ketenangan untuk masuk ke ruang favoritku: Ruang Ibu, tempat para pekerja hamil. Mereka bekerja hanya pada shift pagi dan ditempatkan di ruang khusus untuk tugas memisahkan atau mensortir produk reject dengan produk yang masih bisa direpouching. Bulan ini ada 10 orang, karena Marni dan Uut sudah melahirkan dan mengambil hak cuti mereka bulan kemarin.

Sering aku mengelus perut-perut buncit mereka. Sungguh menakjubkan ketika kusentuh bayi itu bergerak seperti menyambut sapaku. “Ayo, Bu, kapan menyusul kami, biar Ibu bisa mengelus perut sendiri”, kata Minah. Aku hanya menjawabnya dengan senyuman. Pikiranku menerawang ke dua tahuh lalu.

Andai Bang Iwan mau bersabar menunggu aku yang kala itu sedang latihan 9 bulan ke Jepang, tentu aku sekarang sudah mempunyai anak sekarang. Atau sebutlah mungkin. Tapi sekarang ini jelas tidak mungkin.

Kami sudah merencanakan pernikahan sepulangnya aku dari Jepang, tapi ibunya menentang putra sulungnya menikah dengan perempuan dari suku lain. Dia amat yakin dengan mitos-mitos yang tidak jelas sumbernya, dan Bang Iwan menikah dengan gadis pilihan Ibunya .

Ya, aku sakit hati, walau sebenarnya aku merasa terbebaskan juga. Bagaimana hidupku menikah dengan seorang pria yang cuma bisa menurut total ibunya. Aku pernah mengharapkan Bang Iwan datang ke rumahnya, membawaku lari ke luar kota dan kami kawin di sebuah kantor catatan sipil kecamatan di Kalimantan atau bahkan Papua. Tapi Bang Iwan Cuma bisa mengeluhkan dilemanya kepadaku, bukan rencana yang memastikan pilihannya padaku.

Ya, mungkin aku terbebas dari laki-laki yang dicocok hidung oleh ibunya, walau selalu saja kegusaran menghantam jiwa ragaku setiap umurku bertambah, setahun, sebulan, atau bahkan –jika emosiku sedang anjlok- sekedar tambah umur seminggu saja membuat aku gelisah.
***

Pagi ini mendung.

Kemarin, ketika cuaca cerah dan hatiku sedang riang dan ringan, kami semua dikumpulkan di halaman pabrik. Semuanya. Banyak orang yang baru pertama kali aku lihat. Sedikit aneh rasanya bahwa aku menjadi bagian dari satu mesin besar yang terdiri dari ribuan sekrup. Aku merasa kecil, juga merasa tak berguna.

Ada panggung di depan, dan mikrofon besar. Setelah kami berbaris sembarangan, Direktur Utama warga Jepang datang bersama dengan Direktur Umum, Pak Susanto, yang hanya kulihat sesekali. Hatiku berdebar, sebuah peristiwa peristiwa yang tidak biasa tak selalu membawa kejutan, juga kesedihan.

Kemarin, matahari sudah terasa terik sekitar pukul 11 siang itu. Pabrik karena merugi. Penjelasan Pak Susanto kudengar sayup-sayup antara persaingan dan produk yang dianggap tidak halal. Kami semua hening dan usai penjelasan itu, semua hening berjalan kembali ke dalam pabrik. Kulirik Sapta juga Pak Satya, mereka tak terlihat di antara ribuan sekrup, juga anggota timku. Aku merasa asing di sebuah tempat yang sudah kudatangi hampir sembilan tahun, sebuah tempat yang sempat kukhawatirkan menjadi bagian dari karakterku, yang kukenal sudut-sudutnya dengan emosi dan akal sehatku. Aku berjalan mengambang.

Pagi ini terasa semakin mendung.

Aku berkeliling ke line A untuk melihat beberapa mesin-mesin yang telah terbungkus plastik. Terlalu efisien ketika akan menghentikan produksi, pikirku. Aku tersenyum sinis melihat mesin-mesin yang setiap kujalankan selalu membuatku merasa punya kehidupan yang dinamis, hanya sebagai seonggok besi tak berdaya ketika mati.

Kulangkahkan kakiku masuk ke Ruang Ibu. Tak ada teman-teman berperut buncit. Di sudut ruangan hanya tergeletak majalah-majalah kehamilan. Dua tetes air mataku jatuh.

Kubiarkan turun ke pelipisku dan aku kembali ke ruanganku, mengemas barang-barangku.
***

* WIP= produk yang sudah selesai diproses tapi belum dikemas.

Sehabis Hujan Rumah Kita
Rambang Saswanda Harahap

ceritanet©listonpsiregar2000