ceritanetsitus karya tulis, edisi 198 kamis 101104

sampul
esei
sajak
laporan
cerpen
novel
memoar
catatan
terbitan
edisi lalu
daftar buku
kirim tulisan

ikut mailing list

tentang ceritanet

cerpen Spekulasi dari Sebilah Pisau
Arpan Rachman

Enny Kribo, yang mengaku 42 tahun, juga mengaku anak Kampung Baru. Banyak orang tahu, kampungnya itu kawasan lokalisasi pelacuran terbesar di kota Palembang.

Perempuan itu dipanggil Enny Kribo karena rambutnya keriting rimbun seperti pohon beringin. Dia sekarang jadi spekulan beras. Sasarannya, operasi pasar dekat gudang Bulog, Jalan Perintis Kemerdekaan.

Selasa siang 20 Februari, dimanfaatkannya sebagai hari pasar menangguk untung. Tak jauh dari lokasi operasi pasar, OP, berdiri Kantor Koperasi Karyawan Perum Bulog Divisi Regional Sumatra Selatan. Enny menjaring pembeli di sana.

“Beras ini saya jual Rp4.300 per kilogram. Untungnya Rp 600," ujarnya.

Berarti, dia membeli beras seharga Rp3.700. Katanya: "Itu sudah termasuk upah antre…"

Ditanya, mengapa bukan dikonsumsi sendiri? Si kribo berkelit paham: "Di rumah saya, beras masih banyak."

OP beras murah, selain jadi incaran spekulan untuk menangguk untung, juga jadi ajang rebutan warga.

Kandar (50) penduduk 23 Ilir, berkesah: "Justru dengan cara seperti ini, pembagian beras jadi tidak merata."

Sebabnya? Praktek "siapa cepat dia dapat" dan "siapa yang paling banyak mengerahkan orang-orang untuk mengambil giliran mengantre akan paling banyak dapat jatah beras OP". Sebuah praktek yang merugikan bagi calon pembeli lain yang sabar antre selama berjam-jam.

“Beruntung, kita dapat. Tapi kalau sial pasti gigit jari," ucapnya.

Soalnya distribusi beras OP terkesan dibagikan secara acak-acakan, tempatnya di toko-toko dan pasar-pasar saja. Pengoperasi tidak pernah menyasar langsung kawasan rumah ke rumah di pelosok perkampungan. Paling jauh, di halaman Kantor Kecamatan. Di sana, praktek spekulasi dan rebutan beras berulang terjadi.

Terdata, 8,92 ton beras OP jadi jatah penduduk di tiap kecamatan se Palembang.

Rilis yang diterbitkan Perum Bulog Divre Sumsel, OP beras 125 ton per hari untuk 14 kecamatan. Beras OP dijual Rp3.700 per kilogram kepada setiap warga yang dijatah 20 kilogram per orang.

Begitulah, sebuah sumber tanpa nama membeberkan petunjuk teknis dan petunjuk pelaksanaan. Tertulis itu di atas kertas…

Tapi ada orang-orang seperti Enny Kribo. Hitunglah sendiri bila jumlahnya sepuluh spekulan di tiap titik OP. Maka 200 kilogram dikali 14 kecamatan dikali Rp4.300 = Rp2 juta lebih merupakan jumlah uang yang beredar di antara para spekulan dadakan.

Pulang liputan, saya main futsal.

Malam berkeringat, terasa menyegarkan.

Saya kira kota Pempek ini sudah aman sejak saya lahir. Di dekat pusat kota, Bundaran Air Mancur malam itu terlihat cantik, kelap-kelip lampunya berpendar. Beberapa pengunjung, barangkali turis, datang mengambil foto buat kenang-kenangan. Masjid Agung, di seberang Bundaran Air Mancur, berkilau lampu yang indah. Monumen Perjuangan Rakyat berdiri hitam kurang cahaya di tepi Jembatan Ampera.

Tepian Sungai Musi bersemilirkan angin…

Tak jauh dari situ, pukul sepuluh malam, saya sedang beranjak pulang sehabis berolahraga sepak bola kecil dari klub kebugaran. Sengaja menempuh jalanan sendirian. Mengajak jantung berdamai sebentar dari asap rokok yang tiap hari berkepul di sela bibir ini, menyehatkannya…

Saya tunggu angkutan oplet ke pinggir trotoar Kantor Telkom Drive Sumsel di samping kantor Pos Giro, di seberangnya Rumah Tahanan Kelas I Palembang. Ini Jalan Merdeka.

Mungkin pakaian saya terlalu mencolok mata. Kaos oblong, training-suit, sepatu kets. Sambil menyandang ransel berisi pakaian ganti, handuk lembab, termos air mineral, sepatu bola.

Ada seseorang lewat, menegur, "Malam-malam kok marathon!"

Saya jawab: "Aku baru pulang."

Orang itu, sebaya saya, mulanya saya sangka seseorang yang mengenal saya. Dia menjawab dari kejauhan. Nadanya tinggi, sengak.

Katanya: "Kau apo dak seneng ditegor!" (Kau apa tidak senang ditegur!)

Kuulangi lagi menjawabnya. Tak ingin beranjak dari tempat di mana kaki ini berdiri.

"Kamu dak senang ya?!" katanya kencang. Raut gusarnya tampak benar ingin menguji mental.

"Aku baru pulang bukan mau marathon," ujarku. "Aku senang kau tegur."

Akhirnya dia berbalik pergi. Geraknya seperti sengaja memperlihatkan "sesuatu" menonjol di balik pinggangnya. Tonjolan itu jelas sebilah pisau. Mungkin merek cap garpu panjangnya 12 dim.

Entah, saya merasa geram. Ingin berkelahi saat itu juga. Ah, setan! Tak soal ada bilah pisau tajam dipegangnya demi melawan saya dengan duel.

Mata melirik, sebilah besi tersandar dekat pos pengamanan Kantor Telkom Divre Sumsel. Jarak ke sana, lima meter, saya perkirakan dalam hitungan sekejap mata.

Lirikan saya memicing ke tengkuk calon musuh. Tengkuk itu tampaknya rapuh, perutnya agak buncit, tipe yang tak kuat berlari kencang.

Seorang teman lama pernah berkata, "Ini kota bandit!"

Tidak habis saya berpikir apa benar kata-katanya.

Masih juga kebiasaan kampungan yang disebut idiom setempat 'besak gah' (besar gertak). Gah yang tak kunjung hilang. Hanya soal kecil, misalnya, gara-gara saling tegur di tepi jalan, sebilah cap garpu 12 dim ditujahkan. Tapi, lur, jangan kira saya mempan di takut-takuti dengan senjata.

Kuhirup angin malam, dan kutinggalkan si perut buncit menjauh.

Kulkirik ke belakang, belum terlihat oplet dan kulanjutkan jalanku. Si perut buncit menatap makin tajam tapi tak tergerak. Besi di dekat pos pengamanan masih ada, tapi tak ingin kugapai lagi. Begitu dia bergerak mendekat, kupilih untuk lari.

Ini kotaku, dan aku tak mau dia atau aku mati hanya karena sapaan. Ada banyak yang begitu, tapi tidak aku dan juga tidak dia.

Ini Palembang!
***
Monpera, Okt4

Untuk Gambaran Doamu Dewi Penyair

ceritanet©listonpsiregar2000