ceritanetsitus karya tulis, edisi 197 minggu 101003

sampul
esei
sajak
laporan
cerpen
novel
memoar
catatan
terbitan
edisi lalu
daftar buku
kirim tulisan

ikut mailing list

tentang ceritanet

catatan Telepon, pertanda alamat bingung
Liston P. Siregar

Blackberry teman saya berdenyut banyak kali. Tak tahan, akhirnya saya ingatkan. Dia direktur salah satu radio swasta berjaringan. Bisa jadi pesan penting tapi mungkin dia tak enak memotong obrolan setelah satu tahun lebih kami tak bersua.

“Nggak penting itu.”

Sedikit bingung, saya tanya, apakah ada caranya untuk mengetahui pesan penting –telepon saya Nokia 6610 jelas tidak punya fasilitas itu. Terbayang saya Microsoft Outlook, ada tanda seru warna merah untuk menandai email penting, dan mungkin yang seperti itu juga ada di Blackberry: jika dari nomor tertentu maka bunyi denyut akan beda.

“Kalau penting, orangnya nelpon langsung.”

Beberapa hari kemudian, ketika Blackberry teman lain juga berbunyi pendek banyak, di kompartemen kecil di dekat persneling mobil, saya kira-kira sudah tahu situasinya. Sambil nyetir, teman saya ini –pengusaha serabutan mulai dari jasa STNK sampai bisnis kelapa sawit- nyerocos tak perduli sama Blackberrynya, yang berdenyut konstan selang satu dua menit.

Biarpun sudah bisa menebak, saya tanya juga: “nggak perlu dicek itu bos?”

Persis, tidak penting dan kalau penting akan menelepon. Telepon genggam kembali ke fungsi utamanya, menelepon dan ditelepon.

Cuma, kalau dia tidak perduli pesan bagaimana caranya kami bisa bertemu lewat janjian SMS –saya suka SMS, selain lebih murah, singkat, dan padat, juga kuping tidak panas.

“Ada prioritas bos, sebelum ketemu cek terus, yang dari bos kubaca. Sekarang, pesan lain tak penting. Kalau pas sama orang lain, pesan bos yang masuk tak penting. Jadi kalau mau penting terus, telepon ”

Tak lama Blackberrynya berdering. Diangkatnya: “Siap bos.”

Saya tak terlalu perduli dengan pembicaraan mereka, tapi lebih pada ketrampilan menyetir satu tangan sambil menelepon di tangan kiri. Mendekati lampu merah, ketika mobil memelan, baru saya sadar, persnelingnya otomatis. Pantas.

Sebelumnya saya menyaksikan hal serupa tapi tak sama. Pulang kantor, di bus way, saya duduk di samping seorang pekerja muda berkacamata dengan ransel komputer di pundak. Dia duduk agak menjorok ke depan, terdorong ransel, memencet-mencet tombol Blackberry, yang sedang memukau perhatian saya. Jarinya bergerak cepat.

Tiba-tiba terdengar nada dering, sambil sedikit memanjangkan kaki kiri, tangan kirinya mengambil telepon genggam lain, yang bukan Blackberry, dari saku. Dibalasnya panggilan itu dan berbicaralah dia. Saya tidak tertarik pembicaraannya, tapi takjub karena tangan kanannya masih terus mengetik Blackberrynya.

Saya menduga mungkin dia bisa melakukan dua hal itu secara bersamaan karena ada telepon yang bukan Blackberry urusan rasional –otak kiri- sedang yang Blackberry mengandalkan otak kanan untuk soal emosi. Satu atasan kerja, satu lagi pacar. Sampai saya turun, dia masih asyik ngobrol, sambil menatap layar Blackberrynya. Takjub saya tak berkurang: dua komunikasi secara bersamaan.

Esoknya, waktu makan siang ramai-ramai dengan teman sekantor ketika obroran sudah melebar kemana-mana dengan lepasan tawa riang, saya bercerita tentang ketakjuban pemakaian serentak dua telepon genggam. Tak berhasil memancing tawa, selain senyum basa-basi, saya coba bunuh cerita itu: “ngapain pula punya dua telepon ya.”

Seorang teman menanggapi.

“Satu untuk menelepon, satu untuk menerima dan BBM.”

Ah, pertama saya jadi tahu BBM dan kedua dari enam orang yang makan siang itu, ada tiga yang punya dua telepon genggam atau 50%.

Saya punya Nokia 6610 dan Sony Ericsson T303. Namun dalam konteks dua telepon, saya terkategori hanya menggunakan satu karena Sony Ericsson dengan kartu SIM Inggris ditinggal di London dan karena kontrak tahunan maka tak bisa diisi SIM perusahaan lain.

Soalanya, kenapa perlu dua kartu SIM Indonesia.

Teman lain yang sabar –sambil mungkin untuk menegaskan posisinya - menjelaskan, kalau dia sudah punya telepon genggam sejak Blackberry belum ada, yang nomornya sudah menyebar kemana-mana.”

Tapi kan bisa juga pelan-pelan menyebar nomor baru Blackberry?

“Bisa, tapi kalau nelpon lebih murah pakai Esia. Blackberry untuk Facebook dan BBM-nya gratis..”

“Lagian masak sih nggak punya Blacberry. Nggak keren dong.”

Saya mengangguk sambil membayangkan Nokia 6610 saya. Kalau tidak salah produk 2003, masa ketika telepon kecil jadi model, dan Nokia 6610 saya bisa berdiri di bentukan huruf L oleh jari telunjuk dan jempol. Warnanya hitam dengan sampul depan abu-abu tembaga. Tujuh tahun dan beberapa kali jatuh -di jalanan basah maupun di lantai kering- masih berfungsi sempurna, untuk kapasitas terpasangnya tentunya: SMS dan percakapan.

Maka dengan Nokia 6610 itu saya telepon sahabat saya di Solo, seorang penulis novel sendu keperempuanan –dengan tokoh utama selalu perempuan dan kisahnya selalu sendu. Sejak mahasiswa di Semarang dulu, dia selalu mengerti ketertinggalan jaman saya.

Orang pakai Blackberry supaya keren, tapi di busway, di kopaja, di pinggir jalan, di warung bubur ayam, banyak orang biasa seperti saya yang pakai juga Blackberry –yang memang sedang jadi perhatian saya.

“Lha itu belum tentu Blackberry, bisa jadi ketoke Blackberry neng buatan Cina. Blackberry juga macam-macam, ada yang biasa, ada yang torch. Kamu itu ora ngerti.”

Baik, tapi penasaran saya tanya: “Terus kau pakai Blackberry.”

“Iyo.”

“Yang jenis apa?” berharap dia menyebut jenis tertentu yang bukan torch, untuk menambah pengetahuan saya.
 
“Alah, dikasih tahu juga, kamu nggak ngerti.”

 Setelah itu saya terdorong mengamati Blackberry lebih dekat. Kalau milik teman yang cukup dekat, saya pinjam, saya pegang, saya balikkan untuk mencoba mengidentifikasi jenisnya tapi tak selalu berhasil karena banyak yang sudah dilindungi semacam lapisan karet kecuali monitor dan tombol.

Penasaran, saya lihat di internet. Ada torch, pearl, bold, storm, curve. Saya duga torch yang paling keren, mungkin juga karena saya suka yang bisa digeser jadi tak usah harus mengunci tombol tiap kali. Tiga bulan tugas di Jakarta, masih ada waktu suatu kelak saya akan megang langsung Blackberry torch, milik teman atau kenalan. Blog Forum Blackberry memperhitungkan ada 500.000 Blackberry di Indonesia. Ada harapanlah.

Nokia 6610 saya bergetar, ada pesan masuk. Saya masih menganut aliran kalau semua pesan penting –urusan kerja, pertemanan, dan keluarga memang sama pentingnya bagi saya. Lagipula frekuensi pesan saya belum banyak kali, mungkin baru sekedar agak banyak. 

“Kau pakai Telkomsel?” pesan abang saya yang tinggal di Medan. Terdengar agak aneh karena abang sulung saya ini sebenarnya tak suka rincian-rincian tehnis kecuali yang berhubungan dengan tanaman karena dia bekerja sebagai peneliti pertanian.

Jadi saya langsung telepon dia, dan saya masih menyimpan kotak kartu SIM karena di situ tertulis besar nomor telepon, yang belum bisa saya ingat luar kepala. Jelas juga tertulis di kotak itu: Telkomsel.

“Ya, Telkomsel, kenapa rupanya,”

“Ah cocok, jadi aku bisa telepon kau satu harian. Tak bayar karena kami semua di rumah ambil paket Telkomsel.”

“Tapi bukan berarti kalau kau telepon lantas kita harus cakap-cakap seharian kan,” saya rada cemas.

Abang saya tertawa lepas: “Hahahaha… ya nggaklah.”

Dia kira saya bercanda karena belum mendengar pengalaman sekitar tahun lalu. Seorang paman di Medan –yang memang dari dulu tukang cakap-cakap namun makin menghebat lagi karena sudah pensiun- menelepon. Setelah menyalahkan karena saya tidak langsung memberi tahu nomor telepon ke dia, kamipun ngobrol sana-sini. Kuping sudah panas, dan juga karena sudah kehabisan ragam tanggapan untuk ceritanya, maka saya pun mulai diam saja.

“Tenang kau, jangan takut. Kalau dari jam enam sore sampai jam enam besok pagi aku gratis menelepon,” jelasnya untuk menenangkan saya, yang mungkin dipikirnya cemas memghitung rekeningnya kelak.

Hanya beberapa menit kemudian, saya langsung mengaku harus masuk studio untuk siaran, padahal saya sedang nonton YouTube.

Saya jadi teringat, suatu pagi istri –sepulang acara tutup tahun warga Indonesia di London- bercerita tentang teman yang baru punya Blackberry dan menjelaskan kelebihan-kelebihannya. Salah satunya, tutur istri saya, adalah bisa baca email kapan saja, karena Blackberry bisa ditaruh di samping tempat tidur.

“Jadi kalau sedang tidur, kita tetap bisa tahu ada email dan langsung dibaca, tak usah buka komputer dulu,” jelas istri saya mengutip teman itu.

Saya bayangkan kalau kedua teman di Jakarta -yang mengacuhkan banyak kali denyut pesan- menaruh Blackberry di samping tempat tidur. Apakah tidur mereka akan terganggu atau malah denyut BBM justru menjadi obat penenang tidur, bahwa hidup –ala modern abad 21- masih berjalan.

Saya, jelas akan terganggu.
***

Banggaku dan Negaraku
Aminatul Faizah

Pak Kari Pemimpin Kampung Kami
Yudistio Ismanto

ceritanet©listonpsiregar2000