ceritanetsitus karya tulis, edisi 197 minggu 101003

sampul
esei
sajak
laporan
cerpen
novel
memoar
catatan
terbitan
edisi lalu
daftar buku
kirim tulisan

ikut mailing list

tentang ceritanet

cerpen Banggaku dan Negaraku
Aminatul Faizah

“Apakah engkau bangga pada negerimu? Ataukan kamu malu pada negerimu?”

Mungkin dirinya adalah orang yang keseribu yang bertanya padaku tentang arti kebanggaan dan rasa malu. Dimanapun di tempat ini...

Di negara kecil ini mereka bertanya demikian padaku, setengah ingin tahu dan setengah lagi dengan tampang meledek. Bukan hanya dosen, kawan, sahabat atau mereka yang numpang lewat.

Mungkin dan mungkin dia patut bangga pada negerinya. Dengan kebanggan yang mereka terjemahkan sendiri. Bagiku kata kebanggaan relatif. Boleh jadi aku hanya terlalu sensitif.

Bagi mereka yang aku kenal di sini, hiasan kota yang mewah di jalanan yang aku pandangi kali ini, meyakini bahwa mereka bangga. Bagi mereka, kota yang aku jejaki adalah kota penuh semangat kebanggaan. Entah bangga pada bagian yang mana dan karena apa. Tapi aku iri.

Hari ini di alun-alun ini dan hari yang lalu atau mungkin hari yang akan datang aku menatap mereka. Mereka ada di sini, tinggal dan menjalani hidup. Mereka datang dari negeriku ke negeri ini, jauh dan juga biru. Walau di sini tercukupi namun aku tahu, sebenarnya di palung hati yang terdalam sebenarnya mereka rindu akan ibu pertiwi. Tanah air bagi mereka adalah masa lalu yang terukir kuat dan mengakar di hati mereka. tapi kami dan juga mereka tak terjanjikan atas keadilan dan juga hak kami.

Kami kecewa atas itu.

Diantara mereka mungkin sama seperti aku yang merindukan lingkaran kuning yang menghangatkan sepanjang tahun, atau mungkin mereka merindukan kesemerawutan kota-kota dengan debu dan polusinya dengan bisingnya klakson dan makian sopir yang geram di rimbah jalanan. Aku bangga pada mereka dan aku paling geram ketika berada di dalam kendaraan umum yang berjejal dengan panasnya selubung bumi dan terdiam hanya karena jalanan di tutup beberapa jam berhubung ada pejabat yang lewat. Semua penumpang melongok ingin tahu pejabat yang lewat itu, yang membawa kabur hak-hak kami.

Malukah aku pada bangsaku?

Mungkin aku malu. Mana kala ku lihat beribu-ribu anak jalanan yang harusnya dipelihara negara terlantar dan tergadaikan dengan keping-keping rupiah. Itu tak seberapa, di tempat itu -terlihat atau tidak terlihat- nyawa mereka tergadaikan. Kebodohan yang berdasi membuat aku malu: karena bangsaku yang bobrok. Yang berdasi yang berdusta manakala berbicara dengan rakyat.

Hormatkah kami...Atau takutkah kami?

Aku tersenyum pada tulip yang baru saja mekar pagi ini. merah, dan juga kuning menghias taman alun-alun kota. Apakah di sini juga ada ketakutan?

Aku tersedak, kami takut pada ketidakpastian. Tidak ada hukum yang menjadi sandaran, juga tak ada teman ketika banyak orang menghadapi ketidakpastian atas nama hukum yang diinjak para kaum berdasi. Takut di sebuah hutan gelap gulita tanpa arah dan setiap detik siap terpleset lumut hijau atau termakan harimau yang mendadak muncul dari depan.

Lalu apa yang aku bisa tatap dari negeriku. Selalukah aku harus melihat baris-baris orang yang tersuruk menjemput keping nasi di atas tanah berlumpur sedang bedebah-bedebah berdasi menggembungkan perut dan melemaskan mata terus berbantal uang. Mereka tidur lelap dari kenyataan yang merajalalela.

Apakah aku harus berbangga? Tiada dan juga kosong.

Aku ingat kini tentang kebohongan di masa lalu. Guruku yang mengajarkan tentang kebohongan, yang mengajarkan kenyataan yang setengah agar kami setidaknya pernah bangga pada negara. Sebuah negeri yang indah, yang orang-orangnya saling bersahabat, yang menegakkan kebenaran. Dan kebohongan terus diwariskan untuk mengungkung banyak orang.

Apa yang harus ku banggakan? Aku malu.

Kami mencari kami dalam kegelapan. Kami ingin berlari dan terus bertanya akan kebangaan pada tanah air. Dan kami berlari di antara puing-puing yang rusak. Ada kebanggaan yang harusnya kami lihat, yang belum tampak namun nyata. Ada di sekeliling, walau kami harus lebih dulu mendobrak kungkungan berdasi.

Aku tersenyum, bangga dengan matahari ekuador yang bersinar sepanjang waktu, sepanjang kami mau belajar dan berjuang untuk sebuah arti kebanggaan.
***
Den Hag, November 2007

Telepon, pertanda alamat bingung
Liston P. Siregar

Pak Kari Pemimpin Kampung Kami
Yudistio Ismanto

ceritanet©listonpsiregar2000