ceritanetsitus karya tulis, edisi 197 minggu 101003

sampul
esei
sajak
laporan
cerpen
novel
memoar
catatan
terbitan
edisi lalu
daftar buku
kirim tulisan

ikut mailing list

tentang ceritanet

sajak Pak Kari Pemimpin Kampung Kami
Yudistio Ismanto

lebih baik aku bicara dengan sapi
karena aku tahu sapi tak kan bisa bohong
atau aku menolong bergotong royong
dengan tahi sapi aku menyuburkan kebun
dan dengan daging sapi aku melamar istri
dari pada aku bicara dengan pak kari
yang hampir 2 tahun memimpin kampung kami
kampung pagarjari

bagaimana kami bisa bicara dengannya
kalau melihat kami seperti hantu
dan pergi sembunyi
padahal kami tidak akan membunuhnya
tidak akan menjarah hartanya
tapi karena kami akan bertanya

janji pembangunan untuk kampung kami
apakah dana itu telah habis untuk jalan pelesirnya
ataukah diendapkan di bank swiss
untuk diambil bunganya.

 720 hari hampir kau pimpin
kampung kami
engkau lebih suka berbelanja
keluar kampung bertamasya ria
pembangunan tersimpan, dikeluarkan hanya sebatas slogan
pengangguran dan kemiskinan jadi jualan
kemelaratan tumbuh subur bagai jamur

sawah berubah wajah tambang batubara
lumbung padi kami tak bisa untuk menabung
hutan gundul pejabat yang kau lantik mandul

pak kari
semoga esok pagi kau dengar kami
atau apakah engkau pura-pura tuli
untuk apa kami punya pemimpin
kalau kehidupan telah berjalan setengah

pak kari
kapan kami bisa berubah
kalau hidup terus menerus kau buat susah
***
Pagarsari, 2010

Untuk Munir

Apakah engkau anggap aku batu
Mentang-mentang mulutku membisu

Apakah engkau kira aku pasir
Karena air mataku telah habis mengalir

Aku bukan batu yang bisa masuk ke kantungmu
Aku bukan pasir dan tak bisa engkau lantik menjadi kasir
Aku bukan batu yang bisa engkau lempar ke musuh
Aku juga bukan pasir utuk menutup tabir

Bagaimana kalau aku  batu
Mungkin engkau akan menjadikan aku sebagai babu

Bagaimana kalau aku menjadi pasir
Pasti nanti kau buat aku seperti Munir
***
Pagarsari, 2010

Telepon, pertanda alamat bingung
Liston P. Siregar
r

Banggaku dan Negaraku
Aminatul Faizah

ceritanet©listonpsiregar2000