ceritanetsitus karya tulis, edisi 196 jumat 100910

sampul
esei
sajak
laporan
cerpen
novel
memoar
komentar
terbitan
edisi lalu
daftar buku
kirim tulisan

ikut mailing list

tentang ceritanet

cerpen Berparas Pualam, Perempuan Itu
Cahya

Seorang penulis, seorang pelukis, seorang penggubah lagu, mereka para seniman. Melalui mereka, keindahan semesta tergambarkan. Melalui mereka pula, tangan-tangan Tuhan begitu terasa menyentuh.

Dan pernahkah kau merasa terhenyak kala membaca serangkaian tulisan yang trengginas? Atau perpaduan warna dari lukisan yang laksana hidup? Atau pula mendengar alunan nada yang menerbangkanmu terawang-awang di langit, menangis, dan tertawa? Itulah dia sentuhan tangan-tangan Tuhan yang kumaksud.

Tapi kuyakin tak ada seorangpun seniman-seniman itu yang mampu menyerap keindahan nyata dihadapanku. Memancar, membetot semua indera. Inilah alam di Situ Bagendit, Garut. Keindahan ilahi.

Memandang lepas ke depan, terbentang danau diriak air lembut. Berpagar julangan gunung, sebagian puncaknya terselimut awan. Putih bersih, berpadu dengan biru langit dan hijau hutan. Semilir angin ketika berhembus, menggenapkan segala pesona. Membius akal dan merehatkan segenap rutinitas hidup yang kadang terasa pengap. Tak satupun penulis, pelukis, penggubah yang mampu merangkainya dalam satu karya multi indera.

Detik-detik berlalu ketika kusadari aku tak sendiri menikmati keindahan alam ini. Ada sebentuk raga yang mengejawantah disamping. Berwajah putih bersih, bening tanpa cela, seorang perempuan berparas pualam. 
 
Biasanya ia menyemarakkan dunia dengan suara emasnya. Menemani jiwa yang kosong dengan puji-pujian untukNya. Atau melemaskan tubuh melalui alunan irama. Bersenandung dalam balutan nada yang menyejukkan. Menyampaikan suara langit, mendamaikan jiwa yang resah.   
 
Tapi kali ini, tak seperti biasa, ia memilih bungkam seribu bahasa.
 
Semenit, dua menit, kutunggu, tapi tetap tak kunjung terucap jua kata-kata. Hingga lima menit berlalu, hanya keheningan yang merambat. Lengang.   
 
"Percayakah engkau bahwa setiap manusia diciptakan berpasangan? Yakinkah engkau ketika seorang manusia lahir, ada jiwa lain yang telah berjanji suatu saat kelak, di suatu tempat, bertemu dan mengikrarkan diri untuknya? Sebentuk pasangan jiwa? Serendipity?

Kata-kata itu meluncur darinya. Kata-kata bersayap, menafsirkan makna terpapar. Berkelindan dalam imajinasi menembus arti terbening yang pernah ada. Dan aku pun tergagap, tak tahu bagaimana harus menjawab.  
 
"Dan setujukah engkau bahwa hubungan suami istri bukan sekadar hubungan jasmani, tetapi juga hubungan rohani, pikiran, dan perasaan? Perkawinan bukan hanya menjadikan suami istri bersebadan, tetapi juga harus menjadi sehati, sepikiran, dan seperasaan. Tujuan perkawinan adalah menciptakan sakinah dalam rumah tangga. Jadi, bagaimana mungkin akan terjalin kesatuan rasa dan pikiran jika pandangan hidup berbeda?" tanyanya lagi.
 
Aku pun semakin bungkam. Dicecar pertanyaan yang tak pernah kusangka akan terucap darinya, perempuan berparas pualam.
 
Tapi hanya sejenak, ia kembali terdiam seribu kata.

Wajah seputih pualam menjadi membeku. Tercipta jarak yang tak kasat mata, tapi jelas terasa. Ia menarik diri dari kenyataan hidup, ketika untuk sesaat menampilkan apa yang hendak terungkap. Sebentuk impian, harapan dan asa, tersemburat dari serangkaian pertanyaannya.
 
Pertanyaan? Hmm...sepertinya aku salah. Ia agaknya tidak menanyakan apa pun. Kalaulah ada kata tanya dibalik ucapannya, mengkin sebentuk retorika semata.
 
Biarlah ia tenggelam dalam dunianya. Bercengkrama dengan kegalauan mau pun kegundahan yang meraja dihatinya. Tak hendak kuriuhkan dengan keberadaanku.
 
Aku percaya, tanpa petatah-petitih dariku pun, ia akan mampu menemukan jawabnya. Karena ia terlahir sebagai seorang perempuan. Makhluk yang diciptakan Tuhan dengan beribu pesona dan berjuta kebijaksanaan. Sophie!              
Perempuan, dari kata dasarnya, memang sosok yang memiliki kualitas seorang empu. Mereka tak hanya memiliki rahim yang mampu melahirkan makhluk hidup, tapi juga memiliki rahim yang mampu melahirkan kebijaksanaan tak berbilang.
 
Bagi seorang anak, sosok perempuan adalah empu dalam masa-masa awal kehidupan. Bahkan ketika dewasa pun, sosok perempuan ibu tetap khusus dan khusuk di hatinya. She is the one, mother. Begitu pun bagi seorang laki-laki (suami), perempuan (istri) merupakan empu baginya, seperti Kahlil Gibran ucapkan: "Sayang, kau adalah sayapku yang membuatku dapat terbang ke singgasana langit kebahagiaan

Ironisnya, sSejarah telah mengubur kearifan perempuan dan hanya menyisakan dari keindahan paras, keelokan tubuh dan kelemahlembutan kasih yang sering ditafsirkan sebagai kelemahan. Menganggap sebagai objek bagi pemuasan kebutuhan ego untuk berkuasa atas sesama. Atau pun pelampiasan nafsu, yang mereka kira cinta.

Ah. banyak yang sudah melupakannya.

Perempuan berparas pualam, kini saatnya kutinggalkan engkau sambil berbisik: "Bersenandunglah (agar) seluruh dunia menjadi penuh warna, (hingga) tidak ada satu pun nada yang tertinggal. (Berikan) sebuah arti bagi dunia, irama syahdu yang terlahir. Tenggelamlah ke dalam harmoni yang datang dari langit. (Yakinlah) semuanya begitu berarti, lalu engkau pun akan menyatu dengan melodi. Servante du feu.
 
Perempuan berparas pualam, kau telah mengajarkan senandung itu padaku. Sebagaimana kaummu pun telah menitahkan sophie bagi kaum laki-laki.  
 
"Thank you from my deepest soul, to you (all of woman in the world) who have teach me to taken the essence of luminosity process."
***
*Serendipity : temuan yang tidak disengaja
**kelindan : gerak dari sebuah tarian di Sumatera Selatan
***sakinah : keluarga sakinah yang sesuai ajaran Islam
*****sophie : kebijaksanaan
****servante du feu : pelayan api

Bapak Suka Ngobrol
Eliakim Sitorus

ceritanet©listonpsiregar2000