ceritanetsitus karya tulis, edisi 195 kamis 100819

sampul
esei
sajak
laporan
cerpen
novel
memoar
komentar
terbitan
edisi lalu
daftar buku
kirim tulisan

ikut mailing list

tentang ceritanet

novel Ustadz dan Maling
Imron Supriyadi

Epilog
Tak ada maling dalam Ustadz dan Maling, jika deskrispinya seperti di koran maupun televisi: seseorang yang mengambil barang milik orang lain dan tertangkap lantas dihajar habis-habisan oleh massa sebelum diserahkan ke polisi, seandainya belum mati..

Tapi di banyak negara -termasuk di Indonesia- banyak maling yang tidak tertangkap dan justru berteriak maling. Maling yang muncul dengan kostum dan penampilan rapi, sopan bahkan religius dan mengambil yang bukan miliknya. Perdefinisi adalah maling dan ada banyak maling dalam novel ini. Jika ditarik ke luar novel, anda, saya, tetangga, mungkin juga maling.

Selain dari segi penampilan, ada juga jenis lain dari maling. Yang pertama adalah mereka yang tidak pernah bercita-cita jadi maling tapoi akhirnya terpaksa jadi maling. Anda pernah mendengar kisah maling yang ditulis Hamsad Rangkuti, yang memakan tainya berulang kali supaya polisi tidak menemukan barang bukti di tainya, Situasi, kondisi, dan struktur sosial yang mengungkungnya menjadi maling. Di jaman globalisasi sekarang ini, agaknya tak banyak orang lagi yang memahami maling jenis ini. Maling jenis ini kemungkinan besar masuk dalam kelompok pemalas atau jahat.

Bagaimanapun ada -sebagian kecil, besar, atau banyak- yang bercita-cita jadi maling dan ini bukan trend baru atau rahasia. Masuk pegawai negeri dengan menyuap atau menjadi calon kepala daerah dengan setor uang ke atas dan ke bawah masuk dalam yang bercita-cita jadi maling, paling tidak untuk membayar kembali pengeluaran yang sempat dihabiskan. Sebagian besar orang -atau mungkin hampir semua orang di Indonesia- memandang maling ini sebagai kesempatan yang harus diraih. Maling adalah jalan menuju masa depan.

Bagaimanapun segarong-garongnya manusia, masih ada juga nilai kebaikan yang kelak akan dijadikan modal Allah untuk mengangkat maling masuk surga. Hanya saja, mungkin untuk mengangkat kebaikan yang sebesar biji dzarroh itu, Allah harus memecah kristal keburukan maling dengan api neraka. Dengan demikian, maling atau ustadz, manusia memiliki potensi yang sama untuk mendapat hukuman. Tergantung bagaimana Allah menilai di kemudian hari.

Jadi apakah kita akan tetap menjadi maling atau menjadi ustadz. Dalam diri ustadz ada potensi menjadi maling, dan dalam diri maling juga ada potensi menjadi ustadz. Maling bisa menjadi ustadz ketika dia sudah meniggalkan semua perilaku buruknya. Ustadz bisa menjadi maling ketika dirinya juga melakukan pengingkaran hati nurani. Ketika ustadz mengembangkan nafsu yang selalu merasa benar diantara umat yang lain, berkembanglah seorang ”maling” terhadap fitrahnya sebagai warosatul anbiya (pewaris bagi para nabi). Ketika ustadz berani mengkafirkan umat Muslim yang lain, secara langsung atau tidak dia telah mencuri hak Allah Yang Maha Tahu tentang siapa yang kafir dan siapa yang Muslim.

Maling, perdefinisi, mengambil milik orang lain tanpa izin, termauk mengambil hak atas penguasaan lahan, merampas hak untuk mengkritik dan dikritik, mengekang hak untuk bicara, mengancam kebebasan untuk memilih jalan hidup, dan memaksa orang untuk menuruti kehendaknya. Karena keseluruhan perilaku adalah mengambil hak orang lain untuk mengelola dan memiliki diri sesuai dengan kata hatinya, itu artinya maling.

Dan ustadz secara bahasa berarti guru, yang menata bangsa menjadi lebih beradab. Dengan bentangan bumi yang luas, Allah telah banyak menebar ayat-ayatnya sebagai guru untuk dalam menguunakan akal sehat dan hati nurani saat memilih jalan hidup; apakah akan menjadi ustadz atau maling? 

Atau mungkin menjadi keduanya?
***
Tamat

Saya yang Lalu, Dia yang Sekarang dan Kamu
Aminatul Faizah

Menjemput Ramadan
Presiden Hayat

eritanet©listonpsiregar2000