ceritanetsitus karya tulis, edisi 195 kamis 100819

sampul
esei
sajak
laporan
cerpen
novel
memoar
komentar
terbitan
edisi lalu
daftar buku
kirim tulisan

ikut mailing list

tentang ceritanet

sajak Menjemput Ramadan
Presiden Hayat

Bulan sebentar lagi jatuh di sajadah
Disajikan
Agar dipunguti orang-orang yang merunduk merendah
Yang membela orang-orang kalah
Kunang-kunang pun mengirim terang bagi jiwa-jiwa yang ingin bebas
Terbang mengikuti-Nya

Ramadan
Seringkali aku enggan
Bahkan takut mati
Meninggalkan hangatnya kesenangan
Yang memeluk erat Di bulan Ramadan
Aku siap
Kalau Kau memanggil
Tapi ada raja
Reformatlah jiwaku
Utuslah malaikat untuk melenyapkan koreng-korengnya
Agar Kau tidak memalingkan muka
Saat ku menghadap

Budak Waktu
Kita adalah budak waktu
Terputar ke dalam pusarannya
Terayun-ayun dan tenggelam, kalau tangan waktu tak membebaskan
Sebelum nafas terakhir terenggut
Ulurkanlah rantingMu

Ricuh
Ruangan ini sudah penuh dengan egomu
Hai gadis manis bermata curiga
Kesabaran terhimpit dan hampir kehabisan nafas
Kehangatan mengendap-endap pergi
Akupun melayang terbang
Terbawa seloka hati
Diceburkan pelangi di bawah gerojokan air terjun bermata lima
***

Saya yang Lalu, Dia yang Sekarang dan Kamu
Aminatul Faizah

Ustadz dan Maling
Imron Supriyadi

eritanet©listonpsiregar2000