ceritanetsitus karya tulis, edisi 195 kamis 100819

sampul
esei
sajak
laporan
cerpen
novel
memoar
komentar
terbitan
edisi lalu
daftar buku
kirim tulisan

ikut mailing list

tentang ceritanet

cerpen Saya yang Lalu, Dia yang Sekarang dan Kamu
Aminatul Faizah

“Saya menunggu kamu disini?” kata saya dalam hati untuk kesekian kalinya.

Saya terdiam dan menunggu di sebuah bangku di suatu sisi kota yang lautnya ia jadikan petunjuk jalan keluar. Kali ini untuk kesekian kalinya di tiap tahun saya menunggu. Menunggu sang kekasih atau siapapun namanya yang menancapkan busur-busur cinta dihati saya. Saya  terluka namun candu asmara menyembuhkan dengan kelembutan dan lambungan itu.

Terasa luka itu menghilang dan datang, mengoyak pasir yang membatasi pulau hati yang saya bangun dengan butiran pasir. Dengan mudahnya, ombak asmara itu datang dan pergi, membuyarkan bangunan dan mengkokohkannya di suatu masa. Aku terima itu demi cintaku pada kamu dan demi janji yang terus mengukir kuat di dada saya.

Bak mantra, syahadat, dan basmalah yang sering saya lantunkan. Kalimat janji kamu terdengar. Sama seperti sekarang, ketika banyak manusia yang berlalu lalang di dekatku. Tapi saya yakin dengan janji kamu. Saya yakin kamu akan datang, entah di purnama keberapa. Ketika dunia menghujat karena saya melewatkan banyak purnama gara-gara kamu tapi aku tetap bangga. Bangga karena masih memiliki keyakinan akan cinta yang saya yakini akan ada akhirnya. Penantian saya pada kamu, entah kamu di mana namun saya yakin Tuhan akan mempertemukan kamu pada saya.

Matahari berjalan, dia lagi-lagi tak ramah pada saya.

Saya tersenyum dibuatnya karena saya sudah biasa. terbiasa dengan kesinisan, dengan serangan pada kulitku. Saya tahu ia hanya iri. Saya kemudian terdiam lagi. Saya bersiul ringan, membunuh masa yang terus berjalan menghujat. Tapi kadang saya kalah karena mereka datang silih berganti dan membuat hati saya gundah.

Saya bahagia?

Mungkinkah itu. Saya juga bertanya akan hal itu. namun ketika saya teringat janji kamu. Tiba-tiba ombak kegundahan menghilang. Saya yakin bahagia ada. mungkin bahagia tersembunyi di antara keyakinan akan kedatangan kamu.

Kamu bilang bersabarlah. Ketika yang muda berkata kalau saya kuno, tahayul dan omong kosong. Kamu bilang roda akan terus berputar. Ketika satu masa mengangungkanmu, ketika satu masa menghujatmu dan ketika satu masa meninggalkanmu. Karena jika tanpa perputaran zaman akan terhenti.

“Saya menyerah,” kata saya pada diri saya.
Lalu rangkulan lembut beberapa zat yang teraniaya dan yang terhardik nuraninya merangkulku dengan pelan. Ia berbisik.

“Jika tanpa apa yang kamu miliki kami kehilangan. Kehilangan tanah nenek moyang, kehilangan baju rajutan yang indah, bumi kehilangan aroma dingin itu. aroma yang mampu memberikan nafas bagi jagat raya.”

“Saya bisa apa?” tanya saya kembali dengan segurat keputus asahan.

Mereka tersenyum sambil berbisik.

“Sabarlah…demi tanah Lampung…!!!” selalu itu yang mereka katakan.

Dan seperti biasa saya mengingat kamu. Mengingat masa di mana kamu memanjakan saya. Mengingat bagaimana kamu mempercayai setiap jengkal diri saya. Memperhatikan setiap kata-kata yang saya katakan. Seolah saya adalah kearifan yang mengatur keseimbanngan. Ya…itu saya.

Saya yang begitu kamu agungkan. Saya yang merupakan berbaris-baris kalimat yang mengatur keseimbangan. Ah... betapa indahnya masa itu. antara saya dan kamu.

Kita mengalami sebuah kulminasi akan cita dan cinta. kamu merangkulku begitu dekat seolah tiada yang mampu memisahkan kita. Kamu bilang di sebuah masa kalau saya adalah… entah apa itu. Kamu berbisik menyakinkan,

“Kamu malaikat aku dan pegangan yang membawaku kesebuah kearifan lokal.”

Saya terhibur.

Dan sebulir air mata siap menetes kembali. Saya ku usap kali ini. karena saya tahu bahwa yang saya lakukan adalah kesalahan. Perasaan adalah pengelana waktu dan mencintai kamu adalah babak terhebat dalam kehidupan saya dan saya sadari itu.

Lalu saya teringat kalimat kamu lagi,

“Kamu adalah ibu yang memberi petunjuk. Suatu saat nanti aku akan datang padamu dengan tangisku akan kerinduanmu.”

Saya pegang janjimu. Saya seonggok zat yang tak terwujud dan bermasa menunggu wahai kekasih. Karena hanya engkau yang mampu menjalankan saya. Kaulah yang punya kuasa atas diri saya. Siapa saya?

Saya adalah saya yang tak bisa melakukan apapun jika tanpa kamu. Mungkinkah engkau telah tiada? Dan kini hanya anak cucumu yang merawat bumi tanah Lampung yang telah hilang keindahannya. Terkoyak oleh mereka, oleh kaummu yang mengadaikan pada yang mereka sebut globalisasi.

Menjadikan permata hijau menjadi permata yang merah darah dengan aroma arang, menjadikan yang bening menjadih keruh bercampur darah dan menjadikan yang memiliki rumah tergusur di jalan-jalan lalu mati. Mati tercekik dengan jenjang jurang yang punya dan tidak.

Saya menghela nafas panjang melihat tentang ini. tentang mereka yang bersua menikmati emas dan keong-keong intan. Lalu saya terdiam, melihat bagaimana bumi hijau terampok dan tiada yang mampu melawannya. Kamu ada dimana kekasihku? Apakah kamu telah tiada? Apakah kamu juga berubah layaknya mereka?

“Pulanglah ke tanah Lampung !!!” teriak saya..

Laut bergelombang, dia acuhkan salam saya padamu.

“Tak rindukah kamu pada kami? pada laut yang mengantarkanmu pada tanah pembebasan, pada hijaunya tanah hijau, pada beningnya embun yang menyejukkan dan pada ikatan rapat senyuman kaummu itu. Aku merindukannya sama rindunya dengan kamu.”

“Pulanglah!” rintih saya dengan membiarkan sebulir air mata menetes.

“Tak usah kamu tangisi. Dia akan pulang dengan merangkulmu karena telah lama meninggalkanmu. Dia berubah mengikuti arus. Mencintai yang muda dengan kemudahan. Tabahkanlah hatimu... kamu adalah orang baik, ibu bagi yang lalu dan juga ibu bagi kami. Kamu tidaklah kuno. Kamu adalah implementasi dari kami. jiwa Lampung lokal yang tahu akan isi jiwa kami, yang mengangungkan kami… Bertahanlah. Bersabarlah!!”

Seorang wanita muda seusia saya tengah duduk tanpa permisi di dekat saya. Gaun kuning marunnya membuat mata saya silau. Saya iri dengan senyuman manis itu. saya iri dengan apa yang ia miliki. rasanya saya ingin menyobek mulutnya, tapi saat saya melihat bibir seksinya, saya ikut tersenyum. Ia menatapku dan kami saling menatap satu sama lain.

“Anda cantik sekali,” katanya dengan tiba-tiba. Kalimat yang sama yang kamu ucapkan pertama kali saat kita berjumpa.
“Anda juga,” kata saya sambil tersenyum.
Lalu kami untuk sejenak tak saling memandang. Kami menatap muka jalanan dan mererawang jauh. Apa yang mungkin akan kami lakukan  di masa yang akan datang. ia memainkan jari-jarinya dan gerak tubuhnya mulai tak beraturan. Ia resah dengan apa yang ia lakukan, bosan dan aku tahu kalau ia ingin memaki-maki. Tapi ia tahan karena ia tahu harga dirinya akan jatuh jika ia lakukan itu.

“Apa yang kau lakukan?” tanyanya.
“Menunggu,” jawab saya enteng.
“Siapa?” tanyanya dengan enteng.
“Entahlah… Dia yang mempercayai saya, melakukan semua petuah saya dan dia mencintai saya.”
“Tidak,” katanya dengan tiba-tiba.
“Jika ia mencintaimu sebagai petuah maka ia tak akan meninggalkanmu.”

Saya menoleh padanya. ia tersenyum mengusir ketidaknyamanan. Lalu saya tersenyum menanggapinya. Anak muda yang tahu apa.

Saya berada di kursi jalanan ini hampir seusia dua kali dirinya. Saya telah memakan asam garam penantian. Saya telah menatap setiap tingkah laku gadis-gadis impor yang menyesatkan. Yang melingkari kamu, kekasihku. Tau apa gadis ini?

“Aku tahu kamu sedang menunggu.”
“Ya… saya memang menunggu.”
“Kamu terlalu lemah sebagai seorang petuah. Kamu lupa untuk bertahan bukan meminta seseorang mempertahankan kamu.”
“Apa?” saya semakin terbengong.
“Aku belajar dari kamu untuk bertahan. Belajar untuk tidak disisihkan dan belajar untuk menjadi abu-abu. Bukan hitam atau putih layaknya kamu,” dia mengacungkan tangannya dan menatap saya yang renta, dan tersenyum dengan manis.

Saya bersedih. Saya buang tatapan mukanya lalu bersandar pada yang mati. Dia tersenyum dan menjamah tangan saya yang keriput.

“Aku yang sekarang dan kamu yang lalu.”

Dia tersenyum dan melepaskan tangan saya. Saya menghela nafas yang panjang dan rasa perih itu mulai nampak. Perih rasanya ketika tahu kalau saya telah tua dan karena ketuaan itu kamu meninggalkan saya.

Lalu kami terdiam dengan sejenak dan dia tersenyum manis. Ya, ia beruntung karena Tuhan menyisipkan senyuman itu di bibirnya.

“Kekasihmu memautkan dirinya pada kami. yang muda, yang asing, yang memberikan janji kemudaan, yang menyuguhkan materi, yang pandai menyesatkan pandangan, yang mengelapkan mata, yang tak memberi ruang pada mereka untuk tak memikirkan tentang materi. Kami jahat. Namun kekasihmu lebih jahat karena menggadaikan tanah Lampung pada jalanan yang semu.”

Saya gemetaran. Takut, kKarena jika kekasih saya benar-benar melakukannya rusaklah semuanya.

Saya gemetar dan anak gadis itu tersenyum. Ia mencium saya dengan manja. Bibirnya yang dingin membuat saya ingin bertanya siapakah dia? Roh. Peri. Malaikat. Ataukah ia yang lainnya.

Saya merasa kami adalah sama. mungkinkah itu? Tidak.

Ia bilang kalau kami berbeda. Ia abu-abu dan saya putih. Ia masa kini dan saya masa lalu. bagaimana kami bisa  sama.
Ia tersenyum lalu menyandarkan bahunya pada bahu saya yang rentah. Ia kembangkan sayapnya yang lembut membuat saya hampir terjatuh tersungkur. Ia lalu mengajak saya menerobos waktu. Ia merentangkan sayapnya dan membuat saya semakin menangis.

Tanahku..., tanah Lampung saya tak lagi saya kenal. Banyak ruang yang kosong yang terbentang dengan mayat-mayat tulang-tulanng tuan hijau. Lalu saya terdiam. Melihat anak cucu kekasih saya yang mengangungkanku dulu. Tertawa riang dengan semena-mena mengusir mahluk yang berpunya atas tuan hijau. Mereka tak memberi tempat pada mahluk itu, haknya dirampas dan dengan hati yang berat mereka menatap saya. Seolah meminta pertolongan pada saya. kukatakan pada mereka,

“Saya tak mampu melakukan apapun. Kekasih yang saya tunggu telah tiada. Yang ada hanyalah anak cicit yang tak mengenal saya. Saya putih dan mereka bilang saya kuno. Bisa apa saya? Saya hanya sebuah nyawa, kalimat dan petuah tanpa wujud.”

Mereka lalu menatap tanah. Pasrah pada kelakukan anak cicit kekasih saya. Ember yang dulunya berisi kebeningan dan keheningan, kini tergenang dengan keruhnya darah dan tangis mahluk yang tiada punya kuasa atas tempat tinggalnya, atas nyawanya dan atas kehidupan yang ia miliki.

Lalu mahluk wanita abu-abu itu mengajak saya terbang. Menembus ruang dan masa. Dan ia perlihatkan kembali. Cicit-cicit kekasih saya, yang bergaul dengan anak lucifer. Mereka tidaklah putih atau abu-abu. Sesuatu menyeret bukan pada kodratnya. Pada kesesatan yang dengan mudahnya merenggut jiwa, pada eforia sesat dan pada yang hitam. Memuja setan jalanan bukan kaum berbudi.

Saya menangis. Tahu manakala mereka yang muda berjalan ke sebuah jalan yang salah.

“Ini masa tanpa batasan...” katanya pada sesama.
“Bukan ini yang aku ajarkan… Bukan ini yang kami inginkan. Kami ingin manusia mengenal satu sama lain. Terbuka, bertukar cerita satu sama lain dan… Jangan salahkan aku atas semuanya.”
“Ya… ini salahmu,” kata saya ketus.
“Maaf jika itu benar.”

Dia berpaling dan menaruh saya kembali pada posisi awal sayai. Ia terdiam dan saya merasakan penyesalan.

"Ajari kami yang sekarang tentang yang lalu. Yang kami pandang adalah yang akan datang. Kami tak pernah melihat orang lain sebagai petuah yang lebih tua dari kami. Itu memang kesalahan kami. maaf…”

Saya terdiam. Mugkinkah kami bisa mengubah tanah Lampung yang terkontaminasi menjadi tanah Lampung yang hijau dan bermartabat lebih. Tanah Lampung yang ramah dan tanah Lampung yang tanpa asap. Saya ku merindukan masa itu. ingin rasanya saya lepaskan anak cicit kekasihku itu. tapi mungkinkah?

Lalu tangan yang muda dan sekarang tersenyum. Seolah ia menjanjikan sesuatu yang lebih dari sekadar harapan baru. harapan baru untuk bumi Lampung.

“Kita selamatkan bersama.”

Saya tersenyum dan kami tersenyum bersama. menatap tanah yang akan kami tekatkan menjadi impian bersama. antara saya yang lalu dan dia yang sekarang, akan mengantarkan kamu menjadi manusia yang bermartabat, bijaksana, arif, karena kamulah khalifah yang akan membimbing banyak mahluk dan menjadi pemimpin di tanah Lampung.

Marilah yang muda. marilah yang tua, bergandeng tangan menyelamatkan penggalan tanah surga yang kita injak. Tanah Lampung yang menjadi rumah bagi mahluk hutan, rumah bagi pekerbunan, rumah bagi industri, rumah bagi serangkaian keramahan yang menyapa mana kala kita mengetuk pintu bumi Lampung. Bersama-sama menjali masa sekarang dengan belajar dari masa lalu dan menapaki harapan yang lebih baik di masa yang akan datang.
***

Menjemput Ramadan
Presiden Hayat

Ustadz dan Maling
Imron Supriyadi

eritanet©listonpsiregar2000