ceritanetsitus karya tulis, edisi 194 senin 100802

sampul
esei
sajak
laporan
cerpen
nvel
memoar
komentar
terbitan
edisi lalu
daftar buku
kirim tulisan

ikut mailing list

tentang ceritanet

novel Maling dan Ustadz
Imron Supriyadi

Peringatan Maulid Nabi tiba. Jamaah membludak. KH. Muhammad Aziz Mualim -ustadz kondang dari Jakarta- sengaja aku undang. Mengundang Ustadz Aziz tak sulit karena dia salah satu narasumber rubrik konsultasi agama di Harian Suara Musi, yang justru bersedia menanggung akomodasi. Dengan cara itu, warga Kompleks Talang Indah senang karena tak perlu pusing mengeluarkan dana untuk membayar ustadz kondang sekaliber Ustadz Aziz.

Sebelum acara inti, aku tekankan lagi vokal group untuk tampil maksimal. Ada 15 laki-laki dan 15 lagi perempuan di vokal group. Mungkin karena praktis lebih santai, lebih banyak yang milih vokal group sementara yang nasyid hanya 10 orang: enam laki-laki dan empat perempuan.

Di ujung hikmah Maulid Nabi oleh Ustadz Aziz, Bimo -anak SMA Nusantara yang dikeluarkan akibat narkoba- membaca puisi karya Taufik Ismail, berjudul “Ketika kaki dan tangan Bicara”. Semua termanggu. Pesan spiritual yang dibaca dengan apik oleh Bimo berhasil menitipkan pesan moral yang mendalam. Bukan hanya bagi jamaah, tetapi juga bagi Bimo sendiri dan kawan-kawannya.

Puisi Bimo itu seperti membuka jalan bagi vokal group dan nasyid. Tepuk tangan menggemuruh. Jelas aku yang paling senang selepas acara, anak-anak vokal grup dan nasyid tak kalah gembira. Kepercayaan diri mereka terangkat, dan aku menjadi lebih senang lagi.

Sejak itu, mereka tidak lagi ngumpul di gerbang rumah kontrakanku tapi pindah ke masjid. Buatku ini kemajuan besar, tapi pada saat bersamaan ada masalah karna sebagian dari mereka masih tetap mabuk-mabukan, biarpun sudah nongkrong di masjid dan biarpun berulang kali aku tegaskan tidak boleh ada alkohol atau ganja di masjid.

“Kalau sekedar nongkrong, boleh. Juga boleh minum, tetapi minum kopi atau teh,” pesanku pada mereka.

Cilakanya beberapa orang itu minum di luar masjid dan datang ke masjid ketika sudah mabuk dan terkapar tidur sampai esok paginya dalam keadaan mabuk ketika orang-orang mau sembahyang subuh.

“Pak, sekarang kok malah mengumpulkan anak-anak mabuk di dalam masjid?” tegur Pak Soleh.
“Tapi mereka tidak minum minum keras di masjid, Pak!” aku membantah.
“Memang tidak minum, tetapi mabuknya di bawa ke masjid. Mereka tidur di teras masjid. sama saja kan."

Tegur Pak Soleh ada benarnya, tapi aku tak langsung menerima begitu saja karena sejak awal Pak Soleh menentang aku menjadi ketua pengurus masjid. Dan berulang kali pula dia mencari-cari kelemahanku, walau kali ini sepertinya dia ada benarnya. Cuma aku tetap yakin lebih baik merangkur mereka yang mabuk itu sambil pelan-pelan mengarahkan mereka. Itu bukan pekerjaan mudah dan butuh waktu panjang. Aku memilih berkhotbah di depan para pemabuk daripada berkhotbah di depan para ustadz.

“Pak, sekarang seandainya anak bapak seperti mereka. Silakan bapak pilih, apakah anak bapak lebih baik tidur di masjid setelah mabuk, atau tidur di pinggir jalan?” kataku mengajak Pak Soleh berpikir.
“Saya tidak mau berandai-andai. Mestinya anak-anak model begitu diusir saja. Mreka telah menganggu jalannya ibadah di masjid, Ini bukan berandai tapi kenyataan.” Pak Soleh gencar menyerangku
“Pak, mayoritas dari mereka itu sudah tidak diterima oleh keluarga. Dari sekolah, juga sudah dikeluarkan. Kalau kita di masjid ini tidak menerima mereka, lantas lembaga mana lagi yang bisa menampung dan mendidik mereka?”

Pak Soleh diam. Dipandangnya sorot mataku: “Ya terserah Pak Alif sajalah. Saya tidak ikut bertanggungjawab kalau nanti warga protes.”

Aku tahu dia mengancam dan itu artinya akan ada protes.

Sepekan kemudian, saat pengajian bulanan di lakukan, aku dirongrong protes.

“Pak Alif kenapa sekarang di masjid kita banyak anak-anak muda mabuk?”
“Pak, perlu diketahui. Kalau seandainya setan dan iblis mau melakukan taubat, maka Allah tidak pernah akan menutup pengampunan bagi mereka. Kalau setan saja masih diberi peluang untuk bertaubat, apalagi anak-anak muda itu?”
“Tetapi apa hal itu tidak akan menodai kesucian masjid, Pak?”
“Yang menodai kesucian masjid itu, yang tidak membawa masjid dalam batinnnya. Misal, hari ini shalat, mengaji dan mendengarkan pengajian tetapi setelah keluar dari masjid masih juga melakukan tindakan yang keji dan mungkar. Dengn tetangga sering cek-cok. Dalam pergaulan selalu ingin merasa ingin lebih dari yang lain. Kalau dia pejabat, dengan jabatannya bukan tambah dekat dengan Allah tetapi malah makin jauh. Korupsi lagi, nah mereka itulah yang bisa digolongkan orang-orang yang menodai kesucian masjid.”
“Kenapa belakangan ini, Pak Alif lebih banyak mengajak anak-anak muda yang suka mabuk-mabukan itu masuk kemasjid. Selain itu Pak Alif juga mengisi acara Maulid Nabi dengan musik di dalam masjid. Apa masjid ini akan dijadikan gereja apa?”

Kulihat Pak Soleh duduk di belakang, tajam menatapku. Acara Maulid Nabi yang sempat dipuja oleh banyak orang sekarang diplintir menjadi masalah. Aku tegarkan diriku, melihat soalnya sebagai pertarungan antara aku dan pak Soleh. Dari segi ajaran agama, aku pikir tidak ada masalah. Ini tinggal urusan praktis duniawi dengan Pak Soleh, yang mungkin ingin jadi ketua pengurus masjid tapi malu-malu.

“Bapak dan Ibu, perkembangan kejiwaan anak-anak muda tidak sama dengan para orang tua. Oleh sebab itu, untuk mengajak mereka dekat dengan masjid, apalagi untuk kemudian mereka mau shalat, membutuhkan waktu dan cara sendiri.”
“Apa tidak bisa diceramahi dan langsung disuruh shalat, Pak?”
“Ya itu tadi yang saya katakan, kalau untuk mengajak mereka harus punya cara tersendiri. Kalau anak-anak muda seperti mereka diajak masuk ke masjid langsung kita ceramahi dan kita suruh shalat, yakinlah dalam satu minggu saja mereka akan berlari dan kembali ke jalan untuk mabuk-mabukan lagi.”

Aku tak tahu seberapa banyak persiapan mereka untuk protes ini. Ada keyakinan dari segi pemahaman agama dan adu argumentasi, Pak Soleh bisa kuatasi. Apalagi kalau cuma orang-orang suruhannya yang mungkin tak terlalu yakin dengan rentetan pertanyaan yang mereka ajukan.

“Tetapi dengan menggali potensi mereka, mengajak mereka untuk tampil dalam acara-acara peringatn hati besar Islam seperti minggu lalu, untuk membangkitkan mereka kalau kita juga peduli pada mereka. Kita salurkan bakat mereka. Kita ajak mereka secara bersama-sama ikut meramaikan masjid. Kita bangkitkan kepedulian kita pada mereka. Sebab, salah satu keberhasilan dakwah Rasul itu, karena Rasul sangat peduli terhadap siapapun. Jadi Insya Allah, dengan pola pendekatan seperti yang sekarang saya lakukan, lambat laun mereka akan meninggalkan kebiasannya, baik yang mabuk atau juga yang masih suka mengambil hak orang lain secara paksa.”

“Tetapi Pak, bukankah fungsi masjid hanya untuk beribadah?”.
“Ibadah di masjid bukan sebatas ibadah ritual, hubungan manusia dengan tuhannya saja. Tetapi lebih dari itu, di masjid juga bisa dilakukan ibadah sosial. Masjid idealnya memiliki layanan sosial, seperti layanan kesehatan, layanan konsultasi, ruang pengaduan kasus pembelaan hukum dan lain sebagainya. Jadi kalau saya mengajak anak-anak muda yang sebagian belum mau shalat, itu bagian dari ibadah sosial saya agar kelak anak-anak ini secara perlahan akan semakin dekat dengan masjid. Kalau sudah dekat, insya Allah lambat laun akan mulai belajar shalat.”

Protes itu berakhir sekitar jam 11 malam. Aku tak tahu apakah sudah selesai sepenuhnya atau mereka sudah kecapaian. Aku siap menghadapi protes kedua, ketiga, atau keempat. Ini soal waktu, pikirku. Perubahan selalu butuh waktu.

Pelan-pelan sebagian anak muda itu memang mulai ikut shalat. Mula-mula sambil malu-malu dan ketawa kecil, sekedar roboh-roboh pisang saja, mengikuti gerakan shalat. Pelan-pelan pula jamaah mulai melihat para pemuda yang rambutnay acak-acakan mula lebih perduli dengan kebersihan masjid dan ikut-ikutan shala.

Protes kedua tak pernah ada. Pak Soleh tak pernah lagi menantangku, walau dia mungkin masih tidak senang dan masih akan mencari-cari celah lagi.

Kemenanganku mendorongku bergerak lebih jauh. Kujadikan masjid sebagai tempat latihan ketrampilan: dari merangkai bunga, menyablon, sampai membuat. Mereka semakin sibuk dan lebih sedikit yang masih tertarik untuk mabuk-mabukan di luar masjid. Kursus ketrampilan di masjid menjadi semacam trend mode baru di kalangan anak muda. Tak ikut kursus sama seperti ketinggalan mode.
***
bersambung

Namaku Comel
Cahya

eritanet©listonpsiregar2000