ceritanetsitus karya tulis, edisi 194 senin 100802

sampul
esei
sajak
laporan
cerpen
nvel
memoar
komentar
terbitan
edisi lalu
daftar buku
kirim tulisan

ikut mailing list

tentang ceritanet

cerpen Namaku Comel
Cahya

Namaku Comel. Nama yang tuanku berikan. Aku seekor kucing betina belang tiga: hitam, putih, kuning, betina. Usia lima bulan, setara dengan manusia pra-remaja: antara 11-12 tahun.

Sebelumnya aku bernama Popi, diambil dari dua nama kucingnya yang dulu Popo dan Pipi. Popo mati ditabrak jip hitam di depan rumah  sedang Pipi –kata pembantu tetangga- dimasukin dalam karung oleh perempuan gembel tua yang lewat di depan rumah. Jadilah namaku Popi. Tapi -mungkin karena terus terbayang nasib buruk Popo-Popi- tak lama namaku berganti Comel.

Aku sebenarnya mulai masuk ke dalam karakter untuk nama Popi: imut-imut tapi elegan. Sekaligus mengambil jarak dengan kucing-kucing lain bernama Pusy, Meong, Alay atau Lebay. Sebagai kucing muda, aku masih bisa berganti karakter menjadi Comel.

Aku sempat bingung, harus seperti apa Comel itu.

Untunglah suatu hari mencuri dengar percakapan tuan dengan mamanya di telepon. Katanya, nama Comel punya dua arti.

“Kalau Bahasa Indonesia ‘Ma, bermakna ribut, berisik, dan bawel. Comel memang suka berisik jika minta makan.”

Benar, dengan suara nyaring yang rada cempreng, aku bisa mengalahkan suara adzan masjid dekat. Begitu kenyang, pasti ke‘comel’anku segera sirna.

Tuanku suka keheningan. Hanya ada alunan musik lembut dari MP3 player kecil yang menemaninya menggores setiap kata setiap malam hingga dini hari menjelang.

“Comel dalam Bahasa Melayu lucu atau imut-imut ‘Mah. Mama tau nggak imut-imut?”

Kulirik ke kaca jendela, dan aku memang dikarunia wajah menggemaskan: oval dengan riasan bulu lembut hitam, putih, dan kuning.

Jelas tampangku tidak seperti kucing garong pencuri ikan. Kucing garong tak pernah tidur lelap karena harus terus awas mencari kesempatan kapan saja. Di dunia manusia mungkin sama seperti  koruptor yang terus gelisah.

Tampangku juga tidak sangar seperti kucing hitam yang jadi ikon pemuja mistik. Kucing hitam yang membawa kematian, menurut manusia yang sama sekali tidak paham dunia kucing. Sama saja dengan manusia, banyak yang berwajah sangat tapi berhati baik dan sebaliknya. Kucing lebih paham manusia karena kami tak menggunakan manusia gundul sebagai lambing pencopet, misalnya.

Percakapan telepon tuan dengan mamanya membuat aku tenang. Aku tak harus menyesuaikan diri dengan namaku, tapi namakulah yang justru sudah disesuaikan dengan karakterku.
***

Sama seperti kucing-kucing lain, garong, sangar, atau imu-timut, aku sudah diajari mandiri sejak bayi. Ada masanya menyusu dan setelah itu aku ditinggal sendiri. Pernah kucoba ikut Mama, tapi dia terlalu cepat. Seharian aku harus bermain sendiri, sampai Mama pulang dan aku menyelinap ke puting susunya.

Sama seperti mama, tuanku juga tidak pernah memanjakanku. Dia memang selalu memberi makan tepat waktu, pagi siang dan malam. Seandainya ia tak di rumah, ada pembantu yang sudah tahu persis jam, jenis, dan porsi makanku. Tapi aku tak pernah boleh masuk kamar tidurnya.

Pernah sekali waktu aku masuk kamarnya. Lalu lalang di kamar yang hangat itu aku menemukan secarik kertas tulisan tuan.

Dia menulis tentang tentang seseorang yang ia kagumi, seseorang yang disapa begitu banyak kesukaran tapi tetap tegar menyambutnya laksana batu karang. Ia tak goyah oleh beribu laksa ombak menerpa. Seseorang yang dia beri nama perempuan berbalung karang.

Secarik kertas itu menjadi kusut dan tuan marah dan pintu kamar tidurnya selalu tertutup rapat. Pernah datang godaan untuk mencari celah-celah masuk ke dalam kamar itu, dari jendela atau turun dari langi-langit kamar, tapi aku pikir lebih baik aku justru ikut menjaga privasi tuan.

Aku menjadi penjaga kamar itu. Aku tahu sesekali dari langit-langit ada tikus masuk, dan aku tak bisa langsung mencegahnya. Tapi dari pintu dan jendela, jelas kamar tuan aman seratus persen. Semutpun tak kuijinkan masuk.
***

Aku sayang tuanku, seperti sayang mamaku dan mungkin begitu jugalah tuan sayang padaku dan sayang pada mamanya. Bedanya aku tak pernah ketemu mamaku lagi, juga tak bisa bertelepon. Aku tak tahu dimana dia sekarang, sudah mati atau masih hidup. Tak tahu.

Mama memang kucing petualang. Ia bercerita sejak kecil sudah biasa berkelana ke tempat-tempat yang jauh bertemu berbagai jenis kucing dengan beragam keunikan karakternya. Kalau aku hanya tahu kucing garong, kucing sangar dan kucing imut-imut, mama pernah bertemu dengan kucing Persia, yang kata mama lebat bulunya. Ibu juga punya teman kucing hutan. Menurut mama, ayahku adalah kucing berbulu putih hitam.

Waktu aku baru lahir, mama masih selalu kembali tapi air susunya habis, mama kembali berpetualang meninggalkanku. Ingin juga aku mengikuti jejak mama, tapi mengintip ke luar rumah tuan aku sejauh ini memilih untuk tetap di dalam. Bukan hanya takut mengulang nasib Popo atau Pipi, tapi juga menjaga tuan, menemani tuan membunuh kesepiannya.

Tuan memang tak pernah mengangkatku di atas pahanya dan membelaiku sambil nonton TV, seperti yang sering terlihat dalam film-film. Itu Cuma film dan hanya sebagian kecil manusia yang menggendong kucing dan membelainya berjam-jam. Tapi aku tahu tuan selalu butuh kehadiranku saat merangkai kata di depan komputernya.

Aku berbaring terlentang di belakangnya kursinya, dan dia akan menulis tenang jika aku sudah ada di kamar kerjanya itu. “Comel naik, aku mau kerja,” teriaknya kalau aku tak terlohat olehnya. Dan akupun bergegas naik masuk ke kamarnya hingga subuh, tertidur dan tersentak bangun beberapa kali sebelum lelap penuh begitu ia selesai bekerja.

Sering aku membiarkan keyakinanku melanglang buana, keyakinan bahwa di suatu tempat di luar sana pasti ada petualangan menarik menantiku. Jelas ada takdir yang menjadi alasan aku dilahirkan di dunia ini, namun aku tak tahu dan sering bertanya apakah kelak aku harus melepas ikatan rasa nyaman yang menggelayuti hidupku. Ataukah memang takdirku berpetualang menghilangkan rasa bosanku bersama suara keyboard computer tuanku berjam-berjam setiap malam?

Dari kamar kerja tuan, menjelang magrib aku biasa menatap keindahan langit senja. Ditemani hiruk pikuk kendaraan di bawah, sendiri aku mengagumi dan memuji keindahan alam. Dirangkai bilur-bilur keperakan memayungi lembayung senja. Aku, alam, dan pencipta si penentu takdir.

Mungkin aku akan mati di kamar tuan tanpa sempat berpetualang menyeberang jalan di depan rumah sekalipun.Mungkin juga aku sekali waktu menyeberang jalan dan ditabrak truk sampah. Atau ada gembel yang menculik dan menggorengku untuk dimakan bersama keluarganya.

Mungkin, tapi untuk sementara aku punya tugas menemani tuanku, menjalani takdirku.

Manusia, katanya, pernah menerima takdirnya tapi itu dulu. Tuanku menulis banyak manusia yang sudah melawan takdirnya dan ambruk.
***
Lantai dua di kawasan Gerlong, Bandung, petang akhir Juli 2010 

Maling dan Ustadz
Imron Supriyadi

eritanet©listonpsiregar2000