ceritanetsitus karya tulis, edisi 193 minggu 100718

sampul
esei
sajak
laporan
cerpen
novel
memoar
komentar
terbitan
edisi lalu
daftar buku
kirim tulisan

ikut mailing list

tentang ceritanet

novel Maling dan Ustadz
Imron Supriyadi

Masjid atau gereja
Baru satu minggu ku lepas dari kegiatan universitas, aku emudian memilih ke luar dari keramaian kota. Aku mendapat kontrakan rumah di Kompleks Talang Indah, kawasan yang sedang dikembangkan menjadi daerah real estate di Palembang. Selain kaum pendatang di daerah real estate, di sekitarnya tinggal sebagian warga yang sebenarnya juga kaum pendatang tapi sudah puluhan tahun lalu sehingga sering disebut warga pribumi oleh orang di dalam kompleks real estate. Sementara para warga pribumi itu menyebut orang di dalam kompleks sebagai pendatang.

Sebagai orang baru, aku mengenalkan diri kepada tetangga kiri, kanan, dan depan. Juga melapor ke Ketua RT, membuat Kartu Keluarga dan KTP.

Selain bekerja sebagai jurnalis di Harian Suara Musi, aku tak melupakan kegiatan keagamaan, yang sepertinya selalu memanggil-manggilku. Di  kompleks perumahan, kubuka kelas mengaji seperti di Metro dulu. Waktu berjalan aku semakin mengenal banyak orang, yang sesekali mendaulatku untuk mengisi siraman rohani, baik di khitanan, marhaban, maupun ceramah umum dalam hari-hari besar Islam.

Setiap hari aku baru menuju kantor setelah pukul empat sore untuk hadir rapat redaksi sejam kemudian. Rentang waktu kosong -antara selesai memburu berita pukul dua siang sampai pukul empat sore- yang aku manfaatkan mengajar mengaji anak-anak kompleks di masjid Al-Mukmin. Selain anak-anak, aku juga mengumpulkan para pemuda tanggung. Sebagian pemuda tanggung itu suka mabuk, menodong, mencopet, atau menjambret. Aku kenal beberapa para penjahat kelas teri itu karena pernah melihat mereka di kantor polisi ketika liputan ke sana. Jadi mereka juga tahu bahwa aku adalah wartawan yang merangkap guru mengaji, dan peran ganda ini sepertinya membuat mereka cukup hormat padaku.

Sebagian lain menjual ganja eceran di jalanan. Penyelidikanku menunjukkan bandarnya dari luar kompleks, juga bukan dari perkampungan warga pribumi. Para penjual eceran ini mengambil ganja dari luar, entah dari mana belum bisa kutemukan, dan memang aku tidak terlalu tertarik untuk menelusuri jaringannya. Kelompok penjual ganja tampak lebih lihai dan jarang tertangkap, atau paling tidak aku tak belum pernah bertemu mereka. Gaya mereka juga lebih trendy dan lebih percaya diri. Banyak pembeli yang datang dari luar kompleks dan bukan warga kampung pribumi, Biasanya transaksi berlangsung di dekat pntu masuk kompleks, di antara pedagang makanan, kios rokok, dan kerumunan tukang becak. Cepat dan tepat, seperti dua agen rahasia yang bertukar dokumen. Sepertinya mereka sudah langganan lama sehingga tak perlu lagi basa basi atau tawar menawar. .

Pernah terpikir melaporkan para penjual ganja ke polisi. Tapi semakin sering aku meliput ke kantor polisi, semakin yakin aku laporan itu akan sia-sia saja. Para penjual eceran itu ditangkapi, masuk penjara, dan bandarnya akan mencari para penjual-penjual baru sambil menunggu penjual lama ke luar dan kembali ke profesi lamanya. Aku tak yakin polisi mau mengorbankan waktu untuk membongkar jaringan penjualan ganja sampai ke pucuk pimpinannya. Tanpa laporanku pun, polisi mungkin sudah tahu dan tidak peduli : mungkin dapat upeti, mungkin juga sekedar tak mau repot-repot.

Para penjual ganja ini juga tahu kalau aku bukan sekedar guru ngaji, tapi merangkap wartawan. Walau berbeda bidang, kelompok penjual ganja dap barisan penjahat kelas teri bergaul dekat. Setiap malam aku lihat mereka nongkrong bareng sambil minum atau merokok, mungkin ganja mungkin cuma rokok biasa. Aku anggap saja mereka anak-anak muda yang belum tahu pentingnya masa muda mereka bagi masa depan kelak. Sayannya tak ada yang cukup sabar untuk memberi tahu para pemuda yang masih penuh semangat pemberontak. Itulah sebabnya aku juga menjadikan mereka sebagai sasaran kelas mengajiku, walau akan butuh waktu dan energi khusus.

Sikap saling menghargai keberadaan yang lain itu membuat beberapa dari mereka mulai nongkron di rumah kontrakanku. Bermula ketika aku sedang mencuci motor, seorang yang pernah kulihat di kantor polisi -Antok- menawarkan bantuan, "Gratis kak, cuma mau bantu kakak saja" katanya. Cocok, pikirku, jalan masuk sudah terbuka. Kubiarkan dia meneruskannya dan kusiapkan sirup dingin untuk dia dan aku. Motorku mengkilat dan kami ngobrol sebentar. Dari situlah ada tawaran untuk menjaga rumah karena aku sering bekerja sampai subuh. Perlahan-lahan gerbang rumah jadi salah satu tempat nongkrong, kecuali Jumat, Sabtu dan Minggu.

Awalnya aku hanya mencium bau alkohol setiap pulang. Agaknya melihat aku pulang, mereka langsung menyembunyikannya. Belakangan kulihat juga botol minuman di atas dinding tembok dan kubiarkan saja, seoalh-olah tidak perduli walau dalam hati aku berucap sendiri "nanti akan kita tangani bersama minuman itu."

Sesekali aku sempatkan ngobrol dengan mereka sebelum tidur dan semakin terbuka mereka mulaikan ke luar cita-cita mereka yang sebenarnya. Ada ingin buka usaha percetakan spanduk -"kalau pas kampanye pilkada dapatnya banyak kali," katanya- dan ada yang -mungkin sedikit ikut-ikutan- ingin buka bisnis kartu nama. Beberapa mau jadi pemusik -"ah ini dia yang main gitar terus sampai subuh," pikirku- dan ada yang punya organ di rumahnya. Yang satu bercita-cita jadi pembalap motor dan salah seorang malah ingin menjadi guru -"tak tau, tapi suka saja rasanya mengajar," tambahnya.

Aku semakin bersemangat dan berharap bahwa mereka bisa kudekati lebih jauh, kutarik lebih dalam.

“Eh, kalian bisa bantu aku dak?” 
“Bantu apa kak?”
“Bulan depan di masjid ada Maulid Nabi Muhammad…,”
“Maulid Nabi itu apa?”
“Maulid Nabi itu peringatan hari kelahiran Nabi kita, Muhammad Saw,” kataku.

Walau Pras, salah seorang penjual ganja, tertawa sedikit mengejek, yang lainnya sudah sempat lebih dulu tertarik. Perkataan membantu rupanya memancing ego mereka, bahwa ada yang bisa mereka berikan kepada orang lain. Konsep membantu ternyata mengangkat keyakinan mereka walau Maulid Nabi sebenarnya belum masuk sama sekali ke benak.

“Apa yang bisa kita lakukan kak?” tanya Budi, yang pernah dipukuli orang karena mencopet di pasar kampung pribumi.
“Kita buat vVokal group dan nasyid,” kataku memancing.
“Mainnya dimana?”
“Ya di dalam masjid! Mau dimana lagi?” tegasku.
“Apa tidak ada yang marah?” Antok terdengar khawatir.
“Aah, sudahlah yang penting mulai besok kalian latihan untuk main di Maulid Nabi,” aku memberi semangat.

Dua pekan menjelang peringatan Maulid Nabi, aku didaulat sebagai ketua pengurus masjid. Alasannya sebenarnya praktis, untuk mengorganisir peringatan Maulid Nabi. Kuiyakan langsung karena kesempatan mengubah kelakuan para penjahat kelas teri dan penjual ganja.

Aku sempat berencana untuk membawa Antok di pantia peringatan Maulid Nabi. Menurutku dia anak yang punya mimpi tapi belum punya pilihan. Tamat SMA, tak ada pekerjaan, tak ada biaya untuk kursus -apalagi kuliah- jelas orang cuma bisa lontang lantung dan kalau ada tas menggantung di motor, ya kenapa tidak diambil. Antok anak yang praktis dan aku sempat berpikir akan amat membantu, namun aku tunda karena berjalan terlalu cepat justru bisa membuat semuanya tergelincir.
***
bersambung

ceritanet©listonpsiregar2000