ceritanetsitus karya tulis, edisi 192 selasa 100608

sampul
esei
sajak
laporan
cerpen
novel
memoar
komentar
terbitan
edisi lalu
daftar buku
kirim tulisan

ikut mailing list

tentang ceritanet

Tapi seorang nenek di bawah pohon tersenyum seolah yang diapertanyakan adalah sesuatu yang konyol. Ia tertawa tentang kaum muda yang bertanya. Ia tahu rahasia kehidupan bijak namun licik, dan ia tahu manusia macam apa yang ada di atas. “Untuk perut mereka mencuri…untuk kekuasaan mereka berbohong.” Anak itu hanya diam. Tak percaya dengan titah nenek tua penjual terasi: bagaimana mungkin tahu tentang kehidupan sementara ia tak pernah mampu menjulang masa tua dengan karir yang membanggakan. Apa hebatnya penjual terasi? Titah Nenek Terasi dan Anak Sekolah yang Tak Tergugah, Aminatul Faizah

“Terima kasih atas kritik dan sarannya. Tetapi kami terus terang tidak akan membatalkan lomba ini. Alasan anda dengan menyebut kami tidak Islami, sangat tidak beralasan. Saya tidak tahu persis, apakah yang anda sebut Islami itu adalah orang yang protes dengan melakukan pengrusakan pada pengumuman yang kami buat. Menurut saya, Islam itu tidak anarkis! Islam itu tidak melakukan pengrusakan. Kalau memang anda tidak setuju, kenapa tidak kemarin-kemarin anda melakukan dialog seperti ini.” Suasana menjadi tegang. Tim dari IMI sepertinya sedang terpojok namun salah seorang tampil memberi argumen lain. Maling dan Ustadz, Imron Supriyadi

ceritanet©listonpsiregar2000