ceritanet

sampul
esei
sajak
laporan
cerpen
novel
memoar
komentar
terbitan
edisi lalu
daftar buku
kirim tulisan

ikut mailing list

tentang ceritanet

novel Maling dan Ustadz
Imron Supriyadi

“Kita ini dalam kampus yang membawa nama Islam, kenapa teman-teman redaksi melakukan kegiatan yang tidak Islami? Menurut kami, lomba cover ini harus dibatalkan,” Junai juru bicara IMI berargumen.

“Terima kasih atas kritik dan sarannya. Tetapi kami terus terang tidak akan membatalkan lomba ini. Alasan anda dengan menyebut kami tidak Islami, sangat tidak beralasan. Saya tidak tahu persis, apakah yang anda sebut Islami itu adalah orang yang protes dengan melakukan pengrusakan pada pengumuman yang kami buat. Menurut saya, Islam itu tidak anarkis! Islam itu tidak melakukan pengrusakan. Kalau memang anda tidak setuju, kenapa tidak kemarin-kemarin anda melakukan dialog seperti ini.”

Suasana menjadi tegang. Tim dari IMI sepertinya sedang terpojok namun salah seorang tampil memberi argumen lain. Aku kenal dia, Fitria, pegiat perempuan yang tidak hanya aktif di kampus tapi juga di aliansi LSM luar kampus.

“Memajang gambar, walau hanya dengan alasan foto muslim dan muslimah, menurut kami bagian dari mengumbar aurat. Seharusnya media di kampus ini, yang berada di bawah lembaga perguruan tinggi Islam tetap menjunjung tinggi nilai-nilai agama, bukan malah merusak tatanan agama dengan lomba cover. Oleh sebab itu kami sepakat, jika ternyata lomba ini tetap saja akan terus berjalan, maka jangan salahkan kami kalau persoalan ini akan kami adukan ke pihak fakultas atau pihak rektorat.”

Selain argumen agama, Fitria mengangkat isu eskploitasi kaum perempuan.

“Sekali lagi terimkasih. Suasana dialog seperti ini sebenarnya memang harus selalu dilakukan di dalam kampus ini..."

Tapi aku langsung dipotong keras oleh salah seorang anggota tim IMI lain: "Langsung saja pada pokok pembicaraan! Jangan bertele-tele!”

“Dalam persoalan ini, saya menilai anda semua aneh. Lomba cover muslim dan muslimah yang hanya memperlihatkan wajah yang berjilbab dan kostum muslim bagi laki-laki. Tapi anda klaim sebagai pelecahan agama dan umbar aurat. Mana yang dikatakan umbar aurat? Coba lihat ini!” aku memperlihatkan foto salah satu peserta.

“Aurat perempuan kan jelas, semua anggota badan kecuali muka dan tangan. Sementara laki-laki sebatas pusat sampai ke lutut. Ini yang saya  katakan aneh. Dimana letaknya kalau kami telah mengskploitasi perempuan, dan umbar aurat!?” aku tantang mereka.

Tak ada yang menjawab atau yang meningkahi, tapi terasa suasana semakin tegang walau aku merasa lebih percaya diri. Argumentasi mereka yang lemah sepertinya justru membuka jalan pikiranku. Aku mengikuti jalan pikiran mereka sambil memukul kekeliruan dalam cara berpikir itu.

Mayoritas anggota IMI memang baru mendalami agama pada ajaran tertentu sehingga ketika menerima sebuah doktrin langsung mengklaim kalau ajaran yang baru mereka dapat itu hal yang paling benar tanpa melakukan kajian ulang.

Tim IMI akhirnya pulang hampa. Mereka cuma mengulang ancaman akan melaporkan ke polisi, jika lomba tetap berjalan.

Dan lomba cover tetap berjalan. Pesertanya banyak, dan ancaman IMI tidak terbukti.

Terbit pertama -dengan cover montase pemenang busana muslim dan muslimah- Tabloid Refleksi mendapat sambutan hangat. Beberapa artikel lebih pada memaparkan pandangan semata, tidak sampai mengkritik tajam. Tetapi dalam kolom opini, ada yang membuat berang Bu Ay, salah satu dosen di kampus IAIN.

“Ciri-Ciri Dosen Brengsek,” begitulah judul tulisan itu. Opini yang dikemas dari hasil survei kecil secara umum ini memaparkan karakteristik dosen ideal yang jadi favorit mahasiswa dan dosen brengsek, yang tidak disukai. Opini itu memang sengaja kami muat untuk mengangkat beberapa dosen yang dianggap tidak kompeten namun kejam terhadap mahasiswa. Dosen-dosen, yang menurut para mahasiswa, cuma mengeksploitir posisinya dalam hubungan hierarkis, bukan dalam hubungan belajar-mengajar.

Termasuk di dalamnya dosen yang tidak mempunyai spesifikasi keahlian bidang jurnalistik tetapi memaksa diri untuk mengajar jurnalistik. Padahal secara teori maupun praktek tidak memiliki latar belakang jurnalistik. Hanya karena "penjilatan" ke beberapa dosen senior saja yang membuat dia ditunjuk menjadi dosen jurnalistik. Begitulah gambaran umum yang disampaikan mahasiswa yang menjadi responden dalam survei kecil "dosen ideal dan dosen brengsek itu."

Karena sebagian besar mahasiswa menulis nama dosen jurnalisti itu, walau tidak ditanya, maka redaksi memutuskan menyebut nama Bu Ay sebagai salah satu dosen yang memenuhi ciri-ciri brengsek. Dia memenuhi syarat tidak punya keahlian akademis dalam bidang ilmunya, tidak punya latar belakang pengalaman dalam subyeknya, mengajar dengan hanya mendikte dari buku, dan menjawab pertanyaan yang diajukan mahasiswa dengan menyuruh mahasiswa berdiskusi.

Aku pernah ikut kuliah Bu Ay, dan menyuruh mahasiswa berdiskusi untuk membuka jalan pikiran jelas amat didukung, tapi menyuruh diskusi karena tidak mengetahui jawaban dan tidak berperan sebagai moderator dalam diskusi itu jelas masuk dalam kategori brengsek.

Penyebutan nama Bu Ay -satu-satunya nama yang disebut para responden- membuat aku dan Warto di panggil Alwie Hamry, SH, Dekan Fakultas Ushuluddin.

Mungkin karena itu bukan semata-mata pendapat redaksi, aku dan Warto rasanya penuh percaya diri menghadap dekan.

“Gimana kok sampai muncul nama dosen ini Lif?”
“Sebenarnya, dalam proses editing nama itu sudah kami hapus. Tapi kami tidak tahu kenapa setelah naik cetak nama itu muncul,” Warto mengelak.
“Kamu bisa kena tuntut oleh yang bersangkutan ini. Dosen yang kamu tulis inisialnya ini mengahadap saya dan mengatakan akan menuntut kalian berdua.”

Kami saling pandang. Kalau Warto mungkin belum pernah masuk bui, tapi aku sebelumnya sempat nginap di terali besi, walau sebenarnya bukan terali besi yang menjadi kekhawatiran kami tapi lebih pada kerepotan menghadapi tuntutan saja.

“Ya, itu terserah yang bersangkutan Pak,” jawabku pendek.
“Kalian siap?!” ujar Pak Alwie.
“Ya, gimana Pak kalau memang itu sudah menjadi risiko kami.”

Terlintas juga di benakku kalau memang perkara ini menjadi tuntutan, berarti kami juga punya kesempatan untuk mengungkap semua jawaban dari para responden. Kalau Bu Ay sedikit cerdas mungkin dia lebih baik sekedar menuntut ruang untuk membantah opini itu.

Sedang penjara buatku malah bisa menjadi semacak jembatan emas untuk mengangkat karir jurnalistik kami. Aku malah tersenyum kecil membayangkan jika IMI menuntut, Bu Ay menuntut, maka kami akan lebih sibuk daripada mengedit Refleksi.

Baru saja keluar dari ruang dekan, aku dan Warto kemudian dipanggil Pak Wijaya, dosen yang sangat dekat dengan mahasiswa.

“Gimana To’, siap kalian berdua masuk penjara?”

Kami tertawa.

“Jangan tertawa, ini serius. Jelas menulis inisialnya itu tidak benar karena merupakan persepsi saja. Kalau ada fakta tentang pelanggaran perturan, tentu soal lain. Bu Ay sudah menemui saya dan keluarganya tidak menerima tulisan itu karena dianggap mencemarkan nama baik.”

“Sekarang begini Pak. Silakan yang bersangkutan menuntut kami berdua. Kami menempatkannya dalam kolom opini Pak, jadi memang bersifat opini dan yang bersangkutan atau orang lain tentu boleh punya opini yang berbeda dan kami membuka diri terhadap opini yang lain itu."

Sebenarnya aku tahu kalau Pak Wijaya hanya menggertak seberapa berani kami berdua menanggung risiko. Pak Wijaya adalah sosok dosen yang sering membela mahasiswa. Dia menganggap mahasiswa sebagai temannya, menegur, memberi nasehat, memuji, atau sekedar bercanda. Dia memenuhi ciri-ciri dosen ideal, tapi tak ada yang menyebut tegas namanya jadi tak kami sebut dalam opini itu.

“Tadi sudah saya jelaskan pada yang bersangkutan. Saya bilang, namanya juga mahasiswa Bu. Kalau mereka salah tulis ya wajar saja. Justru ini yang menjadi tanggungjawab kita untuk mendidik mereka, agar tidak salah dalam menulis. Namanya juga anak-anak, Bu” kata Pak Wijaya mengulang ucapannya saat Bu Ay melapor kepada Pak Wijaya.

“Jadi kami sekarang harus bagaimana, Pak?”
“Terus saja menulis. Tapi harus pakai kode etik jurnalistik lah. Jangan lagi kasus ini terulang. Belajar dong tentang kode etik jurnalistik, biar jadi jurnalis profesional. Lagian menulis yang baik itu adalan anda mengkritik namun yang dikritik tidak sampai marah walau jelas terganggu,” saran Pak Wijaya.

Sejak kasus itu, aku bersama teman-teman Ukhuwah dan Refleksi membuka kembali kode etik jurnalistik. Kasus Bu Ay memberi kami semangat baru tentang bagaimana menggali lebih dalam dunia jurnalistik.

Selepas kuliah aku dan Warto tetap bekerja sebagai jurnalis, namun Warto belakangan menjadi kontraktor bangunan dan buka usaha catering bersama istrinya di Palembang setelah kKoran tempatnya bekerja gulung tikar.***
bersambung

Titah Nenek Terasi dan Anak Sekolah yang Tak Tergugah
Aminatul Faizah

ceritanet©listonpsiregar2000