ceritanetsitus karya tulis, edisi 191 rabu 100512

sampul
esei
sajak
laporan
cerpen
novel
memoar
komentar
terbitan
edisi lalu
daftar buku
kirim tulisan

ikut mailing list

tentang ceritanet

novel Maling dan Ustadz
Imron Supriyadi

Dituntut di pengadilan
Di kampus IAIN Raden Fatah, selepas semester pertama, aku bergabung dengan beberapa organisasi: dari Senat Mahasiswa di fakultas, sampai organisasi semi otonom di bawah naungan Senat Mahasiswa. Juga bergabung dengan beberapa organisasi: Lembaga Dakwah Mahasiswa maupun Ikatan Mahasiswa Muhamamdiyah. Sesekali aku ikut diskusi di beberapa lembaga non pemerintahm, seperti Lembaga Bantuan Hukum Palembang. Beragam kegiatan itu membuatku cukup sibuk dan tak pernah merasa kesepian.

Masuk semester tiga, aku tambgah lagi kegiatan dengan bergabung bersama dengan teman-teman di majalah Ukhuwah IAIN Raden Fatah, yang terbit per semester. Aku masuk karena rayuan Warto Raharjo, teman yang sudah lama bergelut di pers mahasiswa dan buletin Media Guru di Palembang. Warto yakin kemampuanku menulis naskah drama amat berguna di pers kampus.

“Naskah drama ini bisa diadaptasi ke cerpen atau cerita bersambung, Lif,” ujarnya.

Jadi akupun mencoba menulis belajar cerita pendek. Cerpenku yang pertama berjudul Sarung tentang mahasiswa yang banyak dikurung oleh sarung kampus NKK dan BKK. Cerpen itu mengangkat kecenderungan setiap kegiatan di kampus -entah itu diskusi, seminar,atau pelatihan- maka yang pertama ditanya peserta adalah piagamnya. Alasannya, beragam piagam akan mempermudah usulan bea siswa. Setamat kuliah, setumpuk piagam juga akan bisa menjadi bahan pertimbangan untuk terpilih jadi dosen dan syukur-syukur diangkat menjadi pegawai negeri.

Mau apa lagi? Tamat perguruan tinggi secepatnya dan menajdi pegawai negeri, begitulah cita-cita separuh atau sebagian dari mahasiswa di Palembang, bukan cuma IAIN Raden Fatah saja.

Aku mungkin tidak masuk dalam kelompok itu, atau persisnya tidak boleh seperti itu.

“Kalau kamu cuma mikir jadi pegawai negeri. lebih baik berhenti kuliah sekarang juga dan ayah akan belikan sapi atau kerbau. Lebih baik kau jadi pengusaha sapi dan kerbau, dari pada menjadi PNS tetapi harus menyuap," itulah pesan serius ayah.

"Apa gunanya kamu sekolah agama bertahun-tahun kalau akhirnya menghalalkans segala cara untuk menjadi pegawai!” tegas ayah ketika aku bercerita tentang beberapa teman yang semata-mata cuma mau jadi pegawai negeri.

Cepern Sarung itu dimuat di Ukhuwah. Aku bangga ketika beberapa teman memberi ucapan selamat. Warman, salah satu anggota redaksi Ukhuwah yang jado menulis cerpen, jadi bersemangat membantuku menulis cerpen dan beberapa cerpenku malah masuk ke koran umum: Sriwjaya Post dan arian Sumatera Ekspres.

Bagaimanapun Sarung sempat menimbulkan reaksi keras dari n mahasiswa Universitas Negeri Palembang (UNP). Dengan mobil kijang biru, empat mahasiwa UNP sampai datang ke kantor Senat Mahasiswa dan khusus mencari aku.

Gunawan, yang saat itu menjadi Ketua SM, mengajak keempatnya masuk: “Masuk dulu, baru kita bicara.”

Begitu keempatnya masuk, Gunawan berdiri di depan pintu kantor senat, melirik ke kiri dan kanan sebelum bertepuk. Dia kembali duduk menghadapi empat tamunya dan tak lama kemudian kawan-kawan redaksi Ukhuwah -termasuk aku yang sedang di kantor Ukhuwah- dan beberapa anak Mapala berdatangan.

“Ada yang bisa kami bantu?” tanya Gunawan.
“Saya tidak menerima dengan tulisan Alif di majalah yang berjudul Sarung. Ini pelecehan terhadap sarjana. Mau menyuap jadi PNS kek, mau jadi gembel kek, ya terserah masing-masing. Jadi nggak bisa orang dibatasi harus ini dan itu!” salah seorang tamu itu geram.
Gunawan membaca kilat copy cerpen Sarung yang sudah disiapkan empat mahasiswa UNP itu. Bangga juga aku rasanya.

 “Kenalkan, saya Alif penulis cerpen itu,” kataku sambil menyalami mereka untuk kali kedua, setelah sebelumnya bersalaman tanpa menyebut nama. Ketika baru masuk aku tidak tahu kalau keempatnya mau berurusan dengan aku.

“Apa landasan anda menulis ini?! Hati-hati kalau menulis! Bisa-bisa anda dituntut oleh banyak orang!”
“Tidak perlu sejauh itu. Kan bisa kita selesaikan dengan bik-baik,” Gunawan menenangkan mereka.

Aku merasa perlu ikut dalam perdebatan mereka.
“Bung, tulisan Sarung ini, adalah cerita pendek, bukan karya ilmiah. Karya sastra, adalah hasil imaginasi penulis yang dikombinasi dengan realitas. Jadi kebenaran tulisan ini, ya bisa fakta atau juga murni fiksi atau karangan saya,” kataku menjelaskan pada mereka.
“Tapi kan bisa menci ide lain yang tidak langsung menohok seperti ini!” kilahnya.
 “Anda tidak bisa membatasi ruang gerak pikiran saya seperti itu. Apa bedanya anda dengan Soeharto?”
“Tidak ada hubugannya dengan Soeharto. Ini masalah tulsian anda!” salah seorang yang tadi mengaku bernada Jali menantang.. Yang tiga lagi menatapku tajam.

Aku sebenarnya merasa tersanjung. Cerpen pertamaku ditanggapi serius. Tapi aku khawatir juga karena jelas pada saar bersamaan mereka tidak bisa membedakan fiksi dan karya ilmiah. Jadi aku malah bengong memandangi mereka berempat.

“Sekarang kan sudah jelas, Bung. Tulisan Alif ini bukan karya ilmiah. Bukan hasil penelitian. Ini hanya rekayasa imaginasi Alif, jadi saya kira tidak ada yang perlu diperdebatkan,” Gunawan meredakan suasana.
“Tapi saya tetap tidak terima dengan tulisan ini. Saya akan tanggapi tulisan ini ke beberapa media. Kalau perlu masalah ini akan kami bawa ke pengadilan!” kata mereka tetap panas sambil melangkah lebar meninggalkan ruang SMI.

Aku tertawa geli dan tersanjung. Kubayangkan cerpenku masuk pengadilan, diliput media dan bisa jadi semakin banyak yang baca dan semakin banyak yang protes dan semakin banyak pula yang mencarinya. Wah, rupanya menjadi penulis top tidak sesulit kata orang-orang, lamunanku menjauh tinggi.

Kasus Sarung itu membuat aku kian menekuni bidang jurnalistik di kampus sampai aku didaulat untuk menerbitkan tabloid di Fakultas Ushuluddin. Namanya tabloid Refleksi. Dengan kemampuan yang sangat terbatas, aku mencoba mengolah kata. Warman dan Warto setia mendampingi hingga terbitnya tabloid, yang sebelumnya hanya buletin kecil dengan jumlah 4 halaman.

Mengiringi terbitnyaedisi perdana, tim redaksi sepakat untuk membuat lomba cover muslim-muslimah. Bagi siapa yang masuk nominasi, akan dijadikan cover pada di Refleksi atau Ukhuwah. Gagasan ini disambut dengan antusias. Diputuskan, setiap peserta menyerahkan foto muslim-muslimah ukuran kartu pos dua lembar, disertai dengan biodata lengkap, sampai nomor sepatu, dan ukuran bra bagi peserta perempuan.

Kami bergerak cepat dan hanya beberapa hari, pengumuman perlombaan ini sudah tertempel di beberapa tempat, termasuk di beberpa organisasi Islam di luar kampus. Tak pernah terpikir kalau gagasan ini kemudian menimbulkan kontroversi di kalangan mahasiswa IAIN, yang melakukan protes keras.

Beberapa anggota Ikatan Mahasiswa Islam cabang IAIN sampai merusak pengumuman lomba. Ada yang disobek dengan pisau, lalu ditulis besar-besa dengan; “INI TIDAK ISLAMI”.

Aku sempat tersentak dan bersama tim redaksi memeriksa langsung ke tempat pengumuman itu dipasang.

Beberapa sobekan pengumuman sengaja disobek kubawa ke kantor redaksi sebagai bukti, kalau ada pihak-pihak yang sengaja yang melakukan perusakan. Bagiku bukti ini paling tidak akan mempermudah kalau saja ada saksi yang turut menguatkan tim redaksi untuk melakukan upaya hukum.

“Kawan-kawan, perusakan ini jelas tidak kita duga sebelumnya,” kataku datar.
“Sembelih bae Lif kalu ketemu wongnyo,” Albar teman dekatku kesal.
“Kita tidak perlu emosional. Kita akan jalan terus. Kalaupun pihak rektorat atau dekan melarang kegiatan ini, kita akan protes,” kataku memberi semangat.

Tapi penentangan jalan terus dan selang beberapa hari, panitia lomba mendapat surat kaleng yang ditembuskan ke Ketua Senat Mahasiswa.

Gunawan seketika memanggilku.
“Gimana 'Lif dengan surat protes ini?” tanya Gunawan tentang. Dalam menghadapi semua persoalan, Gunawan lebih memilih dialog dari pada harus dengan aksi demo.
“Aih, Kang, biarke bae. Namonyo jugo wong dak setuju dengan gawe kito,” kataku tanpa beban. Hubungan kami yang akrab membuatku lebih suka menggunakan bahasa pasaran kalau hanya diantara kami berdua.

“Justeru karena ada yang tidak setuju, makanya kita ajak mereka dialog. Kamu berani tidak dialog dengan mereka?” Gunawan menantang.
“Kang, kito ini jurnalis. Model apo bae selagi itu mencerdaskan kito ladeni,” karena aku sebenarnya juga lebih suka berdialog.
“Besok kita panggil mereka,” Gunawan seketika membuat inisiatif.
“Tapi ini kan surat kaleng. Ngapo mesti kito tanggapi. Lagian ini kan dak jelas siapo yang kirim. Sudahlah kang, biarke bae,” karena khawatir menanggapi surat kaleng sama dengan menanggapi gosip yang tidak jelas.
“Tidak bisa begitu Lif. Kamu tidak kenal dengan tulisan ini. Aku tahu siapa yang menulis,” ujara Gunawan yakin.
“Oke. Besok aku akan ajak tim redaksi untuk dialog. Akang jadi moderator.”

Segera aku siapjan bukti pengrusakan yang dilakukan IMI dan surat kaleng.
***bersambung

Mari Menghukum Politisi
Liston P Siregar

ceritanet©listonpsiregar2000