ceritanetsitus karya tulis, edisi 190 kamis 100422

sampul
esei
sajak
laporan
cerpen
novel
memoar
komentar
terbitan
edisi lalu
daftar buku
kirim tulisan

ikut mailing list

tentang ceritanet

esai Menguak Logika Terorisme
Gendhotwukir

Kita tentu sepakat Islam adalah agama yang toleran dan membawa damai. Tapi kita sering terhenyak dengan rentetan teror bom bunuh diri di tanah air atas nama pelaku-pelaku yang beragama Islam. Para teroris masih berkeliaran dan terus memperluas jaringan. Islam sebagai agama yang toleran dan membawa damai telah dinodai dan dijadikan kendaraan ideologi oleh sekelompok kecil yang mengaku beragama Islam. Mereka terjebak pada gerakan radikalisme dan fundamentalisme dengan berlindung di bawah bendera Islam.

E.B. Taylor mendefinisikan agama sebagai the belief in supernatural beings. Definisi ini tentu masih sangat sederhana dan meninggalkan banyak pertanyaan. Gerakan radikalisme dan fundamentalisme agama tidak dapat dipungkiri kadang terjebak pada pemahaman definisi agama yang sempit semacam ini. Agama menurut para pengikutnya tentu tidak sekedar keyakinan yang menghubungkan manusia dengan sesuatu yang gaib.

Agama berfungsi juga sebagai sumber nilai, norma, dan sistem hukum. Dimensi supernatural hanyalah salah satu aspek yang mencirikan agama. Kompleksitas fenomena agama akhirnya harus dijadikan titik tolak pandangan bahwa memang tidak dimungkinkan membuat definisi tunggal yang memadai atas agama.

Terminologi radikalisme dalam ranah ilmu sosial sebenarnya bukanlah konsep yang begitu asing. Disiplin politik, sosiologi dan sejarah sudah sejak berabad-abad yang lalu menggunakan istilah ini untuk menelaah fenomena sosial tertentu. Radikalisme sosial menurut Horace M. Kallen memiliki tiga pilar. Yang pertama adalah radikalisme merupakan respon terhadap kondisi yang sedang berlangsung dalam bentuk evaluasi, penolakan dan bahkan perlawanan. Penolakan terhadap asumsi, ide, lembaga atau nilai-nilai yang dipandang bertanggungjawab terhadap keberlangsungan yang ditolak.

Yang kedua, r adikalisme berupaya menggantikan tatanan yang ada dengan tatanan lain yang baru. Dalam radikalisme terkandung agenda dan pandangan dunia tersendiri. Sesuai arti dasar kata radic, sikap radikal mengandaikan keinginan untuk mengubah keadaan secara mendasar.

Pilar ketiga dari radikalisme yaitu kuatnya keyakinan kaum radikalis akan kebenaran agenda atau ideologi yang mereka bawa. Dalam ranah sosial keyakinan ini sering dikombinasikan dengan cara-cara pencapaian yang mengatasnamakan nilai-nilai ideal seperti kerakyatan atau kemanusiaan, sedangkan dalam ranah agama mengatasnamakan kehendak Allah.

Martin E. Marty dan R. Scott Appleby dalam pengantar buku Fundamentalisms Observed (Chicago: 1993) menjelaskan arti fundamentalisme dengan tidak sekadar mendaftar kriteria-kriteria yang mencirikan istilah tersebut. Lebih dari itu mereka meletakkan kriteria fundamentalisme dalam kerangka ideal types agar cara penggunaannya lebih fleksibel. Pendekatan semacam ini ternyata mendekatkan pemahaman yang hampir sama dengan pilar-pilar karakter radikalisme di atas.

Dalam studinya, Marty dan Appleby menyimpulkan fundamentalisme ditandai oleh sikap yang melawan atau berjuang (fight). Bisa fight back: berjuang atau melawan kembali kelompok yang mengancam keberadaan mereka atau identitas yang menjadi taruhan hidup. Fight for, berjuang untuk menegakkan cita-cita yang mencakup persoalan hidup. Fight with, berjuang dengan kerangka nilai atau identitas tertentu yang berasal dari warisan masa lalu atau konstruksi baru. Fight against, berjuang melawan musuh-musuh tertentu yang muncul dalam bentuk komunitas atau tata sosial keagamaan yang dipandang menyimpang.  Fight under, berjuang atas nama Allah atau ide-ide lain.

Selain lima jenis perjuangan ini, Marty dan Appleby dalam ranah agama menelaah bahwa kerangka ideologis gerakan fundamentalisme memiliki alur logika tersendiri. Ada kecenderungan kuat di kalangan kaum fundamentalis untuk menolak cara pikir historis dan hermenis dalam memahami Kitab Suci agamanya. Gerakan kelompok ini juga bersifat eksklusif dan dipertegas dengan dianutnya identitas-identitas khusus.

Dewasa ini agama sering menjadi sumber tragedi kemanusiaan lantaran adanya klaim kebenaran secara absolut, ketaaatan buta, dan pemahaman agama yang sempit atau bahkan salah. Radikalisme dalam wujud terorisme muncul karena faktor teologi, jadi faktor ekonomi, kebodohan atau tertindas bukanlah yang utama. Para pelaku bom bunuh diri contohnya adalah orang-orang yang berpendidikan, bahkan sebagian mapan secara ekonomi.

Radikalisme di setiap agama berkembang ketika mereka -yang pemahaman agamanya sendiri sempit dan sepotong-sepotong- bertemu guru -yang menjerumuskan dan memerintahkannya untuk berjihad dengan berjuang melawan pihak lain yang seolah-olah menghalangi upaya menegakkan kekuasaan dan kedaulatan Allah dalam kehidupan sehari-hari.

Tapi kenapa sang guru berhasil? Jelas karena ia memang seorang guru yang memiliki kecerdasan, strategi, dan teologi yang retoris. Namun teologi yang berwujud ideologi itu tidak didialogkan dan hanya berkutat dengan dirinya sendiri atau yang sepemahaman. Dialog yang komprehensif sepertinya menjadi momok yang menakutkan bagi mereka, juga karenaadanya arogansi atas klaim kebenaran tunggal. Teologi dan ide-ide sepihaklah yang dianggap paling benar. Di luar teologinya tidak ada kebenaran.

Hubungan antara manusia dengan Allah serta hubungan dengan manusia lainnya mestinya hanya berupa pemisahan secara teoritis, tapi secara praktek tidak bisa dipisahkan. Melayani Allah seharusnya sejajar dalam aktualisasi melayani sesama.
***

Nyanyian Gagak
Aminatul Faizah

Maling dan Ustadz
Imron Supriyadi

ceritanet©listonpsiregar2000